Misteri Rumah Angker

Misteri Rumah Angker
Bagian 13


__ADS_3

“Gak apa-apa, Neng. Jangan sungkan begitu, ibu masakin Neng seperti masakin buat anak ibu juga. Ibu ikhlas, kok,” jawabnya begitu tulus. Membuatku merasa terharu.


“Tapi, Bu ....”


“Sudah, ayo makan.” Dengan sigap Bu Asri langsung mengambilkan piring dan nasi, kemudian memberikannya padaku.


Kami berdua makan bersama dengan nikmat, masakan Bu Asri sangat enak. Aku jadi teringat ibu di rumah.


“Ada masalah, Neng?” tanya Bu Asri.


“Ada, Bu. Aku dipecat dari pekerjaanku,” jawabku sambil menyendokan sesuap makanan ke mulutku.


“Loh, kenapa?”


“Nggak tahu. Gimana nanti aku bayar ibu?”


“Gak usah dipikirin, Neng. Sebenarnya ibu gak niat cari duit, tapi biar bisa ada teman hidup. Apalagi Neng tinggal di rumah mantan majikan ibu, jadi ngobatin kangen ibu sama mereka,” jawabnya dengan nada yang sedikit parau. Matanya terlihat mengembun, mungkin Bu Asri memang sangat kesepian.


“Ya sudah, Bu. Nanti aku pikirin lagi deh, soal itu. Oh, ya ... tadi di tempat aku bekerja. Ada laki-laki berjubah hitam yang semalam ngejar aku loh, Bu. Dia bersama seorang wanita cantik.” Aku menceritakan kejadian saat bertemu laki-laki misterius itu.


Cukup lama kami mengobrol tentang laki-laki itu, hingga selesai makan. Bu Asri tiba-tiba menyimpulkan bahwa, laki-laki misterius itu ada kaitannya dengan pemecatan yang dilakukan Pak Reno padaku.

__ADS_1


Kenapa aku tidak memikirkan sampai sejauh itu? Tapi, jika benar, untuk apa coba dia melakukan itu? Dan Pak Reno, apa dia diancam olehnya? Entahlah, aku merasa pusing.


“Tante ...,” lirih suara anak kecil memanggil sembari menyentuh tangaku. Seketika aku tersentak, tangan dinginnya membuyarkan lamunanku.


“Sisi ....” Bocah kecil itu tersenyum manis padaku, meski wajahnya masih sangat pucat.


“Apa kabar?” tanyaku sambil mengelus pucuk kepalanya.


“Baik, tante apa kabar?” jawabnya balik bertanya.


“Tante baik juga dong. Oh ya, ada apa Sisi datang ke sini?”


“Apa ini?” tanyaku penasaran.


“Buka dan simpan, Tante,” katanya. Aku yang penasaran langsung membuka lipatan kertas itu dan membaca tulisan di dalam kertas ini.


“A12 ... apa ini?” tanyaku tak mengerti maksud tulisan itu. Namun, Sisi sudah tidak ada saat aku menoleh ke arahnya. Ke mana dia? Lagi-lagi dia menghilang.


“Neng kenapa?” tanya Bu Asri. Ia terlihat heran.


“Emm, gak apa-apa, Bu,” jawabku singkat.

__ADS_1


“Kok dari tadi ibu perhatikan ngomong sendiri?” selidiknya.


Ya, aku sangat yakin jika Sisi memang bukan bocah biasa, nyatanya Bu Asri tak menyadari keberadaannya. Seketika bulu kudukku meremang, betapa tidak, entah kenapa sekarang aku jadi bisa berinteraksi dengan makhluk lain. Ini sangat aneh, tapi membuatku tertantang.


“Ah enggak, perasaan ibu aja kali,” kilahku seraya membereskan piring dan gelas bekas aku makan.


“Iya kali, ya?” jawabnya sambil menggaruk kepalanya.


***


Setelah mandi dan shalat Dzuhur aku terbaring di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan memegangi kertas dari Sisi. Aku kembali membuka kertas itu, terpaku pada tulisan ‘A12’.


Angka apa ini? Apa Sisi sedang memberiku petunjuk? Tapi apa?


Cukup lama aku memikirkan itu hingga rasa kantuk menyerang, kuputuskan untuk tidur. Berharap petunjuk akan muncul di dalam mimpiku.


Entahlah, kejadian demi kejadian membuatku semakin bernafsu untuk menyelesaikan misteri ini. Bahkan, tidur dan bermimpi seakan tempatku untuk menemukan sebuah kebenaran.


“Bismillahirrahmannirrahiim ... Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut”. (Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati. (HR.Bukhari dan Muslim).


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2