Misteri Rumah Angker

Misteri Rumah Angker
Bagian 9


__ADS_3

Darah seakan berhenti mengalir tatkala mata kami beradu. Laki-laki itu benar-benar sakit, ia memang berniat mengincarku. Bahkan mungkin tak segan untuk membunuhku.


Tubuhku seketika kaku, aku tak bisa beranjak dan pergi menjauh dari laki-laki itu. Sedangkan ia terus bergerak mendekat ke arahku dengan mengayunkan kapaknya.


“Percuma kamu di sini, aku akan menemukanmu. Bahkan jika kamu pergi ke ujung dunia pun aku pasti bisa menemukanmu!” ungkapnya. Aku tercekat mendengar perkataannya yang sangar, ingin sekali aku berteriak. Namun, sulit sekali rasanya, tenggorokanku seperti tercekik. Kenapa ia begitu nafsu ingin membunuhku?


Tanpa ba-bi-bu laki-laki itu mengangkat kapaknya lalu mengarahkannya padaku begitu cepat. Aku hanya bisa memejamkan mata, pasrah dengan apa yang akan terjadi padaku.


Ibu ... Bapak ....


“Neng ... bangun, Neng. Bangun ....” Sayup-sayup terdengar suara wanita memanggil seraya menepuk pipiku. Seketika aku terbangun, dengan nafas yang terengah-engah.


Bu Asri mengambilkan minum, aku segera meneguknya sampai habis. Alhamdulillah ... ternyata aku hanya mimpi.


“Neng mimpi buruk, ya?” tanya Bu Asri.


“Iya, Bu. Aku mimpi laki-laki itu lagi, ia berniat membunuhku,” ucapku parau. Sungguh akhir-akhir ini mimpi-mimpi dan kenyataan yang sedang kualami begitu menakutkan.

__ADS_1


“Gak apa-apa, Neng. Jangan takut, ada ibu yang akan menemani Neng. Yuk, kita shalat subuh sama-sama,” ajaknya. Aku mengangguk tanda setuju.


“Bu, boleh saya tanya?” celetukku pada wanita tua di sampingku sambil melangkah di tengah gelapnya pagi buta.


Setelah shalat aku dan Bu Asri melakukan perjalanan ke rumahku. Ah, tidak, maksudku rumah Bu Maryam yang aku tempati. Butuh waktu setengah jam untuk pulang ke rumah angker itu, karena Bu Asri akan mulai kerja bersamaku jadi sekalian mengantarku.


“Tentu saja boleh, Neng,” jawabnya singkat.


“Apa ibu tahu di mana Sisi sekarang? Maksudnya rumah suami Bu Maryam,” tanyaku lagi.


Entah kenapa aku ingin pergi ke rumah suami Bu Maryam, mengecek keadaan Sisi dan mengetahui wajah suami Bu Maryam. Aku harus memastikan, bahwa laki-laki misterius itu bukan suami Bu Maryam.


“Oh ya, Bu. Apa suami Bu Maryam tidak melaporkan kejadian itu pada polisi?”


“Melapor, Neng. Tapi tidak ada saksi atau sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti, polisi menyatakan itu adalah kasus perampokan. Untuk itu Pak Teguh meminta pada pihak polisi untuk menutup kasus istrinya, ia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Pak Teguh ingin istrinya tenang di sana, saat itu juga Pak Teguh pergi membawa putrinya dari rumah itu,” jelasnya panjang lebar. Baru kutahu suami Bu Maryam namanya Teguh.


“Tapi, kan, Sisi melihat kejadian itu tentunya. Berarti ada saksi dong?” tanyaku lagi. Rasa penasaran semakin menghantui pikiranku.

__ADS_1


“Iya, Neng. Tapi, Pak Teguh melarang polisi melakukan itu. Ia tak mau Sisi mengalami shock yang lebih dalam,” katanya. Masuk akal sih, psikologi anak tentu akan mudah tergoncang jiwanya saat melihat kejadian yang seharusnya tidak ia saksikan. Aku mengangguk tanda mengerti.


“Bu Asri punya foto mereka?” tanyaku lagi.


“Nggak punya, Neng. Tapi nanti coba kita cari di rumah, siapa tahu masih ada. Memangnya buat apa, Neng?”


“Nggak apa-apa, Bu. Pengin lihat aja.”


***


Tiba di rumah, kulihat pagar dalam keadaan terbuka. Tentu saja, semalam aku berlari mengejar Sisi belum sempat kututup lagi. Tapi, aku ingat kalau pintu rumah semalam sudah kututup.


Namun, saat aku datang pintu dalam keadaan terbuka lebar. Aku terkejut mendapati seisi rumah berantakan, semua barang-barang jatuh berserakan. Siapa yang melakukan ini?


Aku pergi ke kamarku, semua barang-barang milikku juga berhamburan, kamar ini sudah seperti kapal pecah. Yang lebih membuatku terkejut adalah saat aku melihat cermin terdapat sebuah tulisan di sana. ‘PERGI ATAU MATI!!!”


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2