Misteri Rumah Angker

Misteri Rumah Angker
Bagian 20


__ADS_3

Ia mendekat ke arah kami dengan membawa sesuatu di tangannya. “Bebaskan gadis itu, Pak. Dia tidak bersalah, saya membawa bukti kebenaran,” jawabnya terlihat tenang. Aku kembali terkejut, pun dengan semua orang yang ada di sini. Benarkah yang dia katakan? Kenapa dia tiba-tiba berubah seperti itu?


Lalu ia dengan cepat membuka sebuah kotak, kemudian mengeluarkan ponsel.


Tak lama ia menunjukkan vidio, di mana saat kejadian sebelum aku tidak sengaja membunuh Pak Reno. Sepertinya itu diambil dari Cctv di dalam kamar, tak kusangka di dalam kamar itu terpasang Cctv.


Sangat jelas di sana, saat Pak Reno secara tiba-tiba memohon ampun padaku dengan menyebut nama Bu Maryam. Ya, rekaman itu dilengkapi dengan suara.


“Apa ini bisa dipercaya?” tanya polisi bernama Agung itu. Terlihat jelas namanya tertera di seragam yang ia kenakan.


“Bisa, Pak. Karena Cctv ini dipasang oleh majikan saya untuk melihat gerak-gerik gadis itu, dan ini ponsel miliknya,” jawab Samsul tanpa ragu. Tak hanya itu ia juga menceritakan keterlibatannya dengan Pak Reno, bahkan ia mengakui jika Bu Maryam telah dibunuhnya.


“Jadi Maryam itu istri Pak Reno?” tanya polisi itu lagi.


“Iya, Pak. Malam itu setelah mereka bertengkar hebat, aku diperintahkan untuk membunuh Bu Maryam,” jelasnya.

__ADS_1


Seketika polisi menyatakan bahwa aku tak bersalah dan menggati Samsul sebagai tersangka sesungguhnya.


"Bu, maafkan Samsul. Sudah jadi anak durhaka," ungkap Samsul pada Bu Asri--ibunya. Terlihat jelas penyesalan di raut wajahnya.


Bu Asri hanya diam mematung tanpa menoleh ke arah sang anak, bagaimana tidak. Anak dan satu-satunya keluarga yang ia punya, tapi tak sedikitpun memikirkan perasaanya.


"Jawab, Bu," ucapnya lagi. Samsul bersimpuh di kaki sang ibu.


"Ibu sudah memaafkanmu, tapi ibu tidak akan pernah mencabut ucapan ibu sendiri. Bahwa, kamu sudah bukan anak ibu. Kecuali setelah kamu taubat pada Gusti Allah dan menjalani hukuman atas apa yang sudah kamu perbuat selama ini!" ujarnya dengan nada suara yang terdengar gemetar.


Bahkan sang anak lebih memilih harta ketimbang ibunya, ibu yang telah berjuang menghidupi dirinya hingga tumbuh dewasa. Namun, sekarang semua hancur. Saking sakit hatinya, Bu Asri lebih memilih untuk tidak mengakui Samsul sebagai anak. Daripada mempunyai anak tapi sangat buruk perilakunya.


Mendengar itu Samsul semakin merasa bersalah, air matanya berlinang. Kuyakin dia benar-benar menyadari kesalahannya, meski sudah terlambat. Namun, tidak ada kata terlambat untuk bertobat kepada Allah yang Maha Pengampun.


Bu Asri beranjak dari hadapan Samsul, ia masih enggan menatap wajah anak semata wayangnya.

__ADS_1


***


Kami--aku, Bu Asri dan Marvin tangah berada di rumah Pak Reno, di mana Sisi disekap hingga meninggal. Kami akan melakukan proses pemakaman Sisi.


Beberapa tetangga sering mendengar suara tangisan Sisi, ia kerap sekali di bentak dan dihajar oleh Pak Reno.


Reno Teguh Apriadi namanya, laki-laki yang sebelumnya dikenal pendiam. Namun, berubah kejam hanya karena merasa tak dihargai sang istri.


“Vin ... kamu, kan, tinggal di sini, kenapa Lo gak ngasih tau kalo Pak Reno itu suami Bu Maryam?” tanyaku penasaran.


“Hehe ... sory, aku pikir kamu udah kenal sama beliau. Secara kamu ngontrak di rumahnya, makanya aku kaget pas kamu bilang ngontrak di sana. Padahal setahu aku Pak Reno bakal jual rumah itu loh, bukanya dikontrakin,” jelasnya. Mendengar penuturan Marvin seketika aku teringat saat akan mengontrak di rumah itu, Bu Maryam lah yang sudah membuatku bisa tinggal di sana. Mungkin saja ia ingin aku mengungkapkan semua misteri ini.


Entahlah, aku tak ingin lagi mengingat semua. Cukup menjadi cerita dan kenangan tak terlupakan, aku merasa lega. Bu Maryam sudah tenang, begitupun dengan Sisi. Semoga semua dosanya diampuni, serta amal dan ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Amin ...


TAMAT_

__ADS_1


__ADS_2