
Sangat jelas maksud tulisan itu, pikiranku seketika tertuju pada laki-laki yang ada dalam mimpi. Yang tak lain laki-laki berjubah hitam yang semalam mengejarku, dia tak bisa menemukan aku, itu sebabnya ia datang ke sini dan melakukan ini semua. Sadis!
Aku masih tertegun melihat tulisan berwarna merah darah itu, bayangan akan Bu Maryam dan Sisi memenuhi otakku. Aku ingin pergi dari rumah ini, aku tak mau mengambil risiko. Namun, aku juga ingin sekali menguak misteri ini.
“Ya Allah, kok berantakan begini, Neng?” ucap Bu Asri. Ia memunguti barang-barang yang berserakan di lantai.
“Pasti laki-laki itu datang ke sini buat nyari aku, Bu. Karena aku nggak ada, dia melakukan semua ini.” Aku mengambil tisu dan mengelap tulisan itu tanpa rasa takut.
“Sepertinya dia gak main-main, Neng. Apa Neng nggak takut?” tanyanya. Ia menatapku lewat cermin, bisa kulihat kecemasan di wajahnya yang sudah berkeriput.
“Tidak, Bu,” jawabku tegas. Namun, aku tersentak saat melihat bayangan Bu Maryam di belakang Bu Asri, ia tersenyum padaku. Menyampaikan sejuta pesan dan misteri untukku.
Seketika aku menoleh ke belakang, tapi saat itu juga Bu Maryam sudah tidak ada. Benar, ternyata wanita yang aku temui beberapa kali itu bukanlah manusia, melainkan jin qorin Bu Maryam. Ya, bukan arwah penasaran seperti yang dirumorkan banyak orang.
Mungkin karena Bu Maryam meninggal dengan cara tragis, mereka merasakan takut yang berlebihan, hingga setan pun dengan mudah menciptakan apa yang menjadi asumsi mereka.
Selama ini aku bukan orang yang begitu percaya dengan hal-hal seperti itu, mana mungkin orang yang sudah meninggal dunia arwahnya bisa bergentayangan. Itu hanya pikiran orang-orang yang penakut. Pikirku.
“Ya sudah, Neng, ini semua biar ibu yang beresin. Neng siap-siap aja buat kerja, gak usah dipikirin,” ujar Bu Asri. Seketika aku mengangguk dan segera bersiap-siap berangkat kerja.
__ADS_1
Pukul sepuluh pagi, hotel sedang ramai-ramainya, pengunjung datang silih berganti. Marvin juga terlihat sibuk, kami belum sempat bercakap meski hanya basa-basi seperti biasa.
Tiba-tiba aku terpaku saat melihat seorang laki-laki mengenakan jas hitam bersama wanita cantik. Dengan penuh selidik kuamati laki-laki itu dari samping. Meski tak begitu jelas, tapi aku merasa yakin jika dia—laki-laki berjubah hitam yang semalam mengejarku.
Benarkah dia laki-laki itu? Sedang apa dia di sini? Dan siapa wanita itu? Kenapa mereka terlihat sangat dekat?
Tak lama mereka berdua menuju ke tempatku, kemudian mata kami beradu. Laki-laki misterius itu seketika terbelalak, ia seperti terkaget melihatku. Akupun tak menyangka bisa bertemu dia di sini, sungguh kebetulan yang sangat lucu.
Laki-laki itu menunduk dan terlihat salah tingkah. Ada apa dengannya? Harusnya aku yang merasa takut bukan?
“Mas, kamu kenapa? Kok jadi aneh gitu?” tanya seorang wanita yang mengenakan blazer hitam dan dipadu celana jeans warna putih. Ia terlihat elegan, tapi sangat anggun dan cantik.
Jarak kami masih sekitaran dua meter dan terhalang oleh meja resepsionis, tapi masih bisa kudengar percakapan mereka.
“Selamat pagi. Selamat datang di Stars Hotel,” sapaku pada wanita berkulit putih itu.
“Pagi. Saya ingin memesan kamar untuk hari ini. Apa ada kamar kosong?”
“Sebentar, saya cek dulu.” Aku menatap layar laptop yang tertera di meja kerjaku. “Kebetulan masih ada beberapa kamar, Mbak,” imbuhku.
__ADS_1
“Oke, saya ambil.”
“Untuk berapa orang reservasinya?”
“Untuk dua orang.”
“Baik.”
Setelah melakukan transaksi, wanita bernama Atika itu bersiap pergi menuju kamar yang sudah ia pesan.
“Tunggu, Mbak!” cegahku saat ia baru saja melangkah.
“Iya, ada apa?” jawabnya.
“Emm, maaf. Boleh saya tahu? Siapa laki-laki yang datang bersama dengan Mbak? Ma-maksud saya, namanya? Biar kalo ada apa-apa lebih gampang hubunginnya,” tanyaku ragu-ragu. Baru kali ini aku merasa lancang mencari tahu privacy pengunjung, entah kenapa ini saat yang tepat mengetahui topeng laki-laki itu. Setidaknya aku tahu siapa namanya.
“Okey, dia—“
“Ayo, Tika. Kita sudah terlambat.” Laki-laki itu tiba-tiba datang dan memotong ucapan wanita cantik itu, seketika mereka pergi.
__ADS_1
Bersambung...