
Aku menarik nafas dalam-dalam berusaha menetralkan rasa takut ini, lalu perlahan masuk dengan langkah kaki yang terasa gemetar.
Saat aku sudah di depan pintu kamar, seseorang menepuk pundakku. Seketika aku terperanjat, ternyata Bu Maryam.
“Astaghfirullahal’adzim, ibu! Kenapa sih ngagetin terus!?” ucapku kesal. Lagi-lagi wanita berwajah pucat itu datang tanpa kuketahui, dan anehnya baju yang dikenakan masih daster lusuh itu. Apa dia nggak punya pakaian lain?
“Maaf, Neng,” jawabnya singkat.
“Ya sudah gak apa-apa, kenapa Bu Maryam bisa ada di sini? Bukanya pintu sudah saya kunci?”
“Saya punya kunci cadangan, cuma mau mastiin. Kalo si Eneng betah di sini.”
“Oh, iya, Bu. Insya’allah saya betah, kok.”
Kali ini ia menyunggingkan senyum, raut wajahnya terlihat bahagia.
“Bu Maryam mau makan gak? Aku beli nasi bungkus tadi, tapi cuma satu,” ucapku
sambil membuka kresek berisi nasi bungkus yang tadi kubeli di depan gang. Namun, saat aku menoleh ke arah Bu Maryam, dia sudah tidak ada di sana.
__ADS_1
“Bu Maryam ...," panggilku.
“Ish! Tiba-tiba muncul, tiba-tiba menghilang!” gerutuku.
Tak kupedulikan hilangnya Bu Maryam, cacing-cacing dalam perutku lebih penting saat ini. Aku sangat lapar.
Setelah makan, aku pergi mandi. Namun, di tengah aktivitasku, sayup-sayup kudengar suara anak kecil menangis. Demi untuk memastikan suara itu, kumatikan kran supaya lebih jelas, tapi begitu kumatikan kran suara tangisan itu juga hilang.
Mungkin perasaanku saja, pikirku. Aku kembali menyalakan kran, tapi lagi-lagi suara itu kembali terdengar. Perasaanku mulai tak enak, bulu kudukku meremang.
Kupercepat mandiku, tak lucu jika dalam keadaan tak memakai baju lari terbirit-birit hanya karena melihat penampakan.
Setelah selesai, buru-buru aku keluar kamar mandi. Namun, kulihat sesosok anak kecil benar-benar tengah menangis. Siapa dia? Pikiranku sudah ke mana-mana. Ia duduk di sudut ruangan antara dapur dan kamar mandi dekat pintu tertutup, sepertinya ada ruangan lagi di sana.
“Adek kenapa?” Tanpa ragu aku bertanya dan duduk berjongkok di sampingnya seraya mengelus punggung bocah itu. Masih terdengar isakan tangisnya, meski sangat lirih.
“Adek kenapa nangis? Kok adek bisa ada di sini?” tanyaku lagi. Kali ini isakannya berhenti, perlahan ia mendongak ke arahku. Bisa kulihat wajahnya yang cantik dan putih, tapi banyak luka lebam di sana. Melihatnya membuatku merasa iba, banyak pertanyaan yang melintas di otakku.
“Nama kamu siapa?” Aku mengelus pucuk kepalanya.
__ADS_1
“Sisi,” jawabnya singkat.
“Sisi ngapain di sini? Lagi ngumpet, ya?”
Bocah kecil itu hanya menggelengkan kepalanya, lalu memelukku. Ada apa dengan anak ini? Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Mungkinkah dia sedang mengalami banyak peristiwa yang tidak sepatutnya ia hadapi?
Aku memeluk Sisi erat, berusaha menenangkannya. Cukup lama ia berada di pelukanku, kemudian perlahan ia melepaskannya.
“Nama Tante siapa? Mau nggak jadi teman sisi?” ucapnya dengan polos khas anak-anak pada umumnya. Mungkin usianya baru lima tahunan.
Aku mengangguk pasti seraya tersenyum, “Tentu, Sayang. Tante akan jadi teman Sisi,” ucapku lembut padanya, seketika ia kegirangan.
Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku tanyakan, tapi aku urungkan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum, biarlah Sisi sendiri yang akan menceritakan apa yang sedang dia alami.
“Nama tante siapa? Tante belum jawab pertanyaan Sisi,” celetuknya sambil memegang tanganku. Dingin! Kenapa tangan Sisi dingin sekali?
“Nama tante, Arini. Oh, iya, Sisi nggak pulang? Ini udah mau Magrib, lho. Takut Mamah Sisi nyariin,” ucapku hati-hati. Bukanya menjawab Sisi kembali murung, wajahnya kembali bersedih. Ya Allah, apa aku menyakiti gadis kecil itu?
“Atau Sisi mau tante anterin?” Ia hanya menggelengkan kepala.
__ADS_1
Sepertinya ia tak ingin pulang atau bertemu dengan ibunya, tapi kenapa? Bagaimana jika orang tuanya mencari Sisi? Aku nggak mau terjadi masalah, maksudku, aku nggak mau dikira menyembunyikan seorang anak atau ikut campur masalah keluarga Sisi. Tapi, aku juga penasaran dengan bocah ini. Apa bisa aku membantunya?
Bersambung...