Misteri Rumah Angker

Misteri Rumah Angker
Bagian 6


__ADS_3

“Baiklah kalau Sisi nggak mau, Sisi tunggu di sini, ya? Tante shalat Magrib dulu.” Aku pergi mengambil wudhu, gadis kecil itu kusuruh duduk menunggu.


Aku pun langsung melakukan aktivitasku, manghadap sang Khaliq, menunaikan kewajiban sebagai hambanya. Berharap Allah akan senantiasa menjaga dan melindungiku dari godaan setan yang terkutuk.


***


Setelah shalat dan berdo’a, aku mencari Sisi. “Ke mana bocah itu? Bukannya tadi di sini? Sisi ....” Aku memanggil gadis kecil itu, mengecek ke seluruh sudut rumah ini. Namun, aku tak menemukannya.


Entah kenapa perasaanku mengatakan, bahwa Sisi ada di luar. Benar saja, saat aku membuka pintu. Kulihat Sisi berada di luar pagar.


“Sisi ngapain?” Aku bertanya pada bocah itu seraya mendekat.


“Ayo, tante. Kejar Sisi, ya?” jawabnya, menampakkan wajah yang terlihat senang.


“Oh, Sisi mau main, ya, sama Tante?” Seketika aku membuka pagar yang masih terkunci. Aneh! Bagaimana Sisi keluar dengan pagar yang masih terkunci?


Kulihat Sisi berlari, aku buru-buru mengeajrnya. “Sisi ... pelan-pelan, Nak. Nanti jatuh,” teriakku sambil mengejar Sisi, ia terus berlari kegirangan.


“Ayo, tante. Kejar aku ...,” teriaknya di tengah malam yang sepi. Aku heran ini kompleks apa kuburan sih? Kenapa sepi terus.

__ADS_1


Masih terus berlari mengejar Sisi, tapi lama-kelamaan ia semakin jauh dan menghilang. Cepat sekali larinya! Nafasku bahkan sudah tersengal-sengal.


Tak kusangka aku sudah lari begitu jauh, sampai aku bingung arah ke mana aku akan kembali ke rumah? Meski aku khawatir dengan Sisi, ke mana dia?


Namun, kulihat dari arah berlawanan sesosok manusia memakai jubah hitam berjalan mendekatiku. Ia membawa sesuatu di tangannya, dari kejauhan terlihat mengkilap. Kapak!


Aku membulat sempurna tatkala melihat benda itu, teringat dengan mimpiku kemarin, pikiranku mulai tak karuan.


Perlahan aku mundur dan berlari dengan sesekali menengok ke belakang, orang itu semakin mengejarku! Siapa dia?


Aku berlari sekencang mungkin, takut orang itu akan berbuat jahat padaku. Nafasku mulai terengah-engah, terasa sesak dan tenggorokan kering. Membuatku susah untuk berteriak, lututku juga mulai lemas.


Saking lelahnya berlari, aku jatuh tersungkur. “Mau lari ke mana, kamu!” Suara serak itu membuatku tersentak kaget, aku menoleh ke belakang.


Orang itu berdiri di depanku, bisa kulihat wajahnya sekarang. Tatapannya begitu tajam padaku, dia—laki-laki yang ada di mimpiku!


“Si-si-siapa k-k-kamu! Ma-mau apa?” ucapku terbata. Kali ini aku benar-benar takut, bagaimana jika laki-laki itu beneran akan membunuhku?


Dengan sisa tenaga, kuberikan diri untuk berdiri. Perlahan mundur, menjauh dari manusia gila itu.

__ADS_1


“Pergi dari rumah itu! Jika kamu ingin selamat!” ungkapnya penuh penekanan.


Ia seolah tidak suka aku di rumah itu, mengapa? Ada apa dengan rumah itu? Apa dia punya hubungan dengan Bu Maryam? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranku.


“Jelaskan sesuatu supaya aku percaya dan bisa pergi dari rumah itu tanpa ragu,” jawabku tegas. Entah kenapa, kini rasa penasaranku justru semakin kuat.


“Sudah kubilang, pergi dan jangan ikut campur jika kamu ingin selamat!” ancamnya terlihat marah. Bisa kulihat kepalan tangannya memegang kapak, membuatku menelan saliva berat.


Tiba-tiba sesuatu menyentuh tangan kiriku. “Sisi ...,” ucapku saat menoleh ke arahnya.


“Ayo, tante, kita pergi.”


Sisi menarik tanganku, kami berlari meninggalkan laki-laki berjubah hitam itu. Ia pun ikut berlari mengejar kami, anehnya aku seperti tidak merasakan capek saat berlari. Sisi seperti menarikku terbang.


“Sisi, kita mau ke mana?” tanyaku sambil berlari. Bocah itu terus menarikku.


“Kita ngumpet di sana, tante,” jawabnya seraya menunjuk ke arah rumah kecil, aku hanya menurutinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2