
Di tengah obrolan kami tentang masalah ini, seseorang datang. Laki-laki paruh baya mengenakan kopiah hitam bersama seorang wanita.
“Assalamu’alaikum,” sapa mereka di depan pintu. Sengaja pintu kubuka, aku tak enak karena telah membawa laki-laki di rumah ini.
Meski kami hanya mengobrol biasa, jarak kami juga terhalang meja. Lagian Marvin sudah dengan payah menolongku dari kejahatan laki-laki misterius itu, masa iya aku tak sedikit saja menghargainya? Walaupun hanya secangkir teh yang bisa kuberikan padanya.
“Waalaikumsalam,” jawabku tak lama disusul oleh Marvin.
Aku bangun dan mendekat ke arah pintu, tepat di hadapan mereka. “Ada apa, Pak? Silakan masuk,” ujarku santun. Seketika mereka duduk, bergabung dengan Marvin.
“Begini, Neng. Saya Slamet, ketua RT di gang ini, maaf baru sempat berkunjung. Kemarin saat Neng datang ke rumah saya, memang saya sedang tidak ada di rumah. Ada keperluan keluarga,” jelasnya begitu ramah.
Ya, aku sudah sempat melapor ke rumah Pak RT, karena akan menempati rumah Bu Maryam dan bergabung menjadi warga di gang ini, tapi saat itu beliau sedang tidak ada. Hanya ada anaknya.
“Iya, Pak. Gak apa-apa, saya mengerti,” jawabku.
__ADS_1
“Tapi maaf sebelumnya, Neng. Apa Neng serius mau tinggal di sini?” tanya pria tua berjenggot itu. Ia terlihat serius, sesekali melirik ke arah wanita di sampingnya. Mungkin dia istrinya.
“Serius, Pak. Memangnya kenapa?”
“Rumah ini angker, Neng. Banyak hantunya,” ucapnya lirih. Matanya tak berhenti menyapu seluruh isi ruangan ini.
“Masa sih? Tapi saya baik-baik saja, Pak. Tidak ada gangguan apapun,” jawabku tenang.
“Memangnya Neng gak pernah lihat penampakan Bu—“ belum sempat Pak Slamet melanjutkan ucapannya, sudah terlebih dulu kupotong.
“I-iya, Neng.”
“Beberapa kali saya berinteraksi dengannya, bahkan sebelumnya saya tidak tahu jika Bu Maryam sudah meninggal.”
“Benarkah? Tapi apa Neng tidak takut?”
__ADS_1
“Untuk apa saya takut, Pak? Beliau bukan hantu, hanya jin qorin Bu Maryam. Ketakutan warga di sini berlebihan, hanya karena Bu Maryam meninggal dengan cara tragis mereka jadi berasumsi arwah Bu Maryam gentayangan,” jelasku tanpa ragu.
Pak Slamet dan wanita di sampingnya kembali saling melirik, mereka juga terlihat menelan ludah kuat-kuat. Wajahnya berubah pucat, ada rasa takut yang menghiasi wajah keriputnya.
“Kenapa Neng bisa tahu semuanya?” tanyanya lagi.
Aku kembali menjelaskan segala yang terjadi di rumah ini, hingga kejadian tadi sore sampai akhirnya Marvin datang menolongku. Pak Slamet semakin ketakutan mendengar ceritaku.
Bahkan mereka angkat tangan jika terjadi sesuatu denganku, ia tak akan ikut campur. RT macam apa dia? Penakut! Dan wanita di sampingnya yang entah istri atau siapalah, bahkan tak berbicara sepatah katapun. Lucu sekali!
“Ya sudah, kalau Neng masih kekeh untuk tinggal di sini. Saya tidak mau ikut campur, tanggung sendiri akibatnya. Saya permisi! Ayo, Buk,” ujarnya dengan nada yang sedikit ditekankan seraya bangkit dan pergi meninggalkan aku dan Marvin.
Marvin yang sedari tadi hanya diam dan sibuk berkutat dengan gawainya, kini juga bangkit dan pamit pulang. “Udah malam, Rin. Aku pulang dulu, gak enak sama tetangga. Hati-hati, kalau ada apa-apa, hubungi aku aja.” Seketika aku mengangguk pasti.
Setelah kupastikan Marvin pergi, aku masuk dan menutup pintu. Namun, baru saja pintu akan kututup seseorang mendorongnya dari arah luar. Seketika tubuhku terjerembap, cairan kental mengalir dari lubang hidungku. Sebelumnya pintu berhasil membentur hidungku hingga merasakan sakit yang luar biasa.
__ADS_1
Bersambung..