Misteri Rumah Angker

Misteri Rumah Angker
Bagian 7


__ADS_3

Tiba di rumah kecil itu, aku dan Sisi masuk untuk mengumpat. Kebetulan pintu ini tak dikunci, mungkin ini rumah kosong. Mana mungkin ada yang mau tinggal di rumah sekecil ini.


Dari dalam aku mengintip di balik jendela, terlihat laki-laki itu clingukan mencari kami. Hingga akhirnya pergi, Syukurlah!


“Si eneng ....” Aku terlonjak saat mendengar suara wanita menyapa, ternyata Bu Asri. Wanita yang sore tadi datang menawarkan diri bekerja denganku.


“Eh, Bu Asri, kan?”


“Iya, Neng. Ini saya, ngapain di sini? Ada yang perlu saya bantu?” tanyanya terheran-heran. Lalu menyuruh aku duduk di kursi kayu yang panjang, ia mengambil gelas dan menuang air yang ada di dalam kendi. Kemudian memberikannya padaku.


“Terimakasih, Bu,” ucapku padanya, seketika aku meneguknya sampai habis.


“Coba Neng jelaskan, kenapa bisa ke sini? Dari mana Neng tahu rumah saya?” tanyanya lagi.


“Tadi aku dikejar sama laki-laki berjubah, trus Sisi ngajak ngumpet di sini.” Baru aku tersadar jika Sisi tidak ada. Aku berdiri dan mencari anak itu.

__ADS_1


“Sisi ...,” panggilku sambil mencari ke luar. Ke mana anak itu?


“Cari siapa, Neng?” Bu Asri mengikutiku dan kembali bertanya. Aku mulai bingung dengan posisiku saat ini, semua seakan mimpi buruk. Banyak teka-teki yang ganjil sejak aku tinggal di rumah itu.


“Aku nyari anak kecil yang bawa aku ke sini, Bu. Tapi dia tiba-tiba menghilang,” jawabku.


“Tapi saat saya melihat Neng ada di dalam, Neng cuma sendirian.” Mendengar penuturannya aku sedikit tercengang.


“Serius, Bu? Tadi anak itu yang nyuruh aku ke sini, dia juga yang ngajakin masuk kok,” jelasku lagi. Seketika Bu Asri menarik tanganku, kembali mengajakku masuk dan duduk.


“Saya jadi ingat nama anak yang Neng sebut tadi, Sisi ... seperti nama anak majikan saya.” Wanita yang rambutnya sudah ditumbuhi banyak uban tiba-tiba terlihat sedih.


“Sebenarnya saya ini pembantu di rumah yang Neng tempati sekarang, sudah sepuluh tahun lebih saya kerja di sana, tapi majikan saya sudah meninggal,” jawabnya terdengar parau. Ada kesedihan yang mendalam di hati Bu Asri, mendengar itu rasa penasaranku semakin bertambah.


“Siapa nama majikannya, Bu?” tanyaku lagi, entah kenapa perasaanku tiba-tiba tak enak.

__ADS_1


“Bu Maryam, Neng.” Aku kembali tercengang mendengar ucapannya, ketakutanku benar-benar terjadi. Pantas saja Bu Maryam terasa aneh, ia datang dan pergi secara tiba-tiba. Dan Sisi, apa bocah itu anak Bu Maryam? Jadi selama ini aku bertemu dan bicara dengan hantu? Astaghfirullahal’adzim ....


“Neng kenapa?” ucapnya sambil memegang tanganku, membuatku tersentak kaget.


“Ibu serius? Bu Maryam sudah meninggal?”


“Iya, neng. Sudah dua tahun yang lalu, saya sangat sedih melihat keadaan tragis yang menimpa Bu Maryam.”


“Tragis? Kenapa, Bu?”


“Saat saya datang, Bu Maryam sudah meninggal dalam keadaan bersimbah darah. Luka bacokan di beberapa bagian tubuhnya, rumah juga terlihat berantakan. Kami menduga ada perampok,” jelas Bu Asri. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat dengan mimpiku, saat seorang wanita dibacok seorang laki-laki.


Namun, saat di mimpi laki-laki itu bukan seperti perampok, melainkan seperti seorang suami dan istri yang tengah ribut besar.


“Ke mana suaminya saat itu, Bu? Kapan kejadian itu terjadi?” Aku bak polisi yang sedang menginterogasi saksi sebuah kasus.

__ADS_1


“Saya tidak tahu pasti, Neng. Mungkin malam-malam, saat itu suaminya sedang kerja sift malam, pas saya datang pagi-pagi rumah sudah berantakan dan mendapati Sisi tengah menangis dan Bu Maryam meregang nyawa,” jelas Bu Asri. Kini air matanya tak dapat dibendung, ia menangis tersedu-sedu menceritakan kejadian yang menimpa majikannya.


Bersambung...


__ADS_2