
“Eh, i-itu. Emm—“ jawab si Abang gelagapan.
“Apa ada yang salah dengan rumah itu?” tanyaku lagi berharap si Abang mau memberikan keterangan tentang rumah yang kutempati sekarang.
“Enggak, kok, Neng. Enggak ada apa-apa, saya Cuma bercanda. Hehehe ... ini baksonya,” sanggahnya sambil menyodorkan kresek hitam berisi bakso pesananku.
“Ah, si Abang! Nakut-nakutin aja!” ucapku kesal, lalu mengambil kresek itu dari tangannya dan memberikannya uang lembaran lima puluh ribuan. Tak lama ia memberikan kembalian padaku, seketika aku pergi meninggalkannya.
Tiba di depan pagar, saat aku sudah masuk dan akan menguncinya, kulihat seseorang tengah memperhatikanku di balik jendela rumah yang berada tepat di hadapan rumah ini. Sepertinya seorang wanita, pikirku.
Tersadar kepergok, buru-buru ia menutup gordennya, tak lama rumah itu gelap. Aku mengedikan bahu, kemudian segera masuk dan mengunci rumah.
Aku mengambil mangkuk dan menuang bakso yang kubeli tadi, perlahan memakannya. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, membuat aktivitasku seketika berhenti. Siapa yang malam-malam datang?
Ketukannya semakin jelas dan semakin keras, aku bergegas keluar untuk mengecek. Namun, saat kubuka tidak ada siapapun. Saat itu juga bulu kudukku meremang, hawa dingin tiba-tiba menyapa kulit, hingga tengkukku terasa berat. Bagaimana mungkin ada yang mengetuk pintu, sementara pagar sudah dikunci?
“Astaghfirullahal’adzim ...,” ucapku lirih. Kututup kembali pintunya, lalu melanjutkan makan. Pikiranku mengingat ucapan tukang bakso itu tentang rumah ini, ada apa sebenarnya?
***
__ADS_1
Praaaang!
Aku terlonjak saat kudengar suara benda dilempar sangat keras, dua orang terdengar sedang beradu mulut. Suaranya sangat jelas, seperti di kamar sebelah. Siapa mereka?
Aku bangkit dan berniat mengeceknya, saat keluar pintu masih dalam keadaan tertutup. Namun, suara itu masih dapat kudengar, bahkan semakin jelas. Kali ini bukan adu mulut, melainkan suara hantaman keras, seorang wanita terdengar menjerit-jerit meminta ampun.
Rasa penasaranku kian menggebu, tatkala jeritan-jeritan wanita itu semakin menyakitkan. Aku langsung membuka pintu, betapa terkejutnya saat kulihat seorang wanita terkapar penuh darah.
Namun, aku tak bisa mengenali wajahnya yang membelakangi penglihatanku, hanya luka menganga di bagian leher yang bisa kusaksikan. Bahkan tangan dan kaki wanita itu sudah terpisah dari bagian tubuhnya.
Aku mematung menyaksikan pemandangan mengerikan itu, rasa takut menjalar ke seluruh tubuh. Ingin sekali aku berteriak, tapi tenggorokanku terasa kering, bahkan kaki ini tak mampu kugerakan.
Siapa mereka? Kenapa laki-laki itu membunuhnya? Otakku dipenuhi banyak pertanyaan.
Kini, laki-laki itu berbalik menghadapku, sorot matanya yang tajam membuat tubuhku gemetar hebat. Perlahan ia mendekat ke arahku, bersama itu aku bergerak mundur.
Rasa takutku kian mendera melihat wajah bengisnya, laki-laki berambut cepak dan alis tebal itu menyeringai penuh nafsu.
Kapak yang ia pegang sedari tadi, kini diayunkan perlahan. Kemudian diangkat tinggi-tinggi, bersiap meluncur ke arahku.
__ADS_1
Allah ... inikah akhir hidupku? Apa salahku? Mengapa aku harus mati konyol seperti ini?
“Hiyaaaaaaa!” teriaknya begitu memekakkan telinga.
Aku terlonjak kaget, tubuhku kini basah bak mandi keringat, mimpi buruk itu sukses membuat jantung berdegup tak beraturan.
“Kenapa aku mimpi seperti itu, ya Allah? Ada apa sebenarnya?” gumamku lirih. Kuambil gelas berisi air putih yang ada di atas nakas, lalu meneguknya tanpa sisa.
***
Hari ini aku mulai masuk kerja, tak ingin moodku hilang hanya karena mimpi buruk semalam, aku harus terlihat segar dan memesona. Ya, bekerja di sebuah hotel tentu harus terlihat fresh, bukan hanya cantik. Namun, harus bisa memancarkan suasana yang hangat, agar pengunjung puas dengan pelayanan kami.
Entah kenapa aku sangat senang bekerja di hotel, mungkin karena aku suka dengan tempat yang bersih dan mewah. Aku bisa menikmati mewahnya fasilitas hotel setiap hari. Mulai dari kamar mandi yang sangat keren, air panas, wastafel yang bersih, hingga sabun yang wangi.
Bukan hanya itu, sumber pendapatan saat bekerja ‘di sini’ nggak cuma dari gaji dan uang transport saja, tapi juga dari berbagai tip yang kemungkinan besar kudapat dari para pengunjung hotel. Apalagi kalau tip-nya dapat dari para bule yang menginap, lebih gede! Hehe ....
“Karyawan baru, ya?” Seseorang tiba-tiba menyapaku dengan ramah. Laki-laki bertubuh tinggi tegap, wajah putih, hidung mancung dan bibir tipis terlihat sangat tampan, membuatku sedikit terkesima.
Bersambung...
__ADS_1