Misteri Rumah Angker

Misteri Rumah Angker
Bagian 2


__ADS_3

Aku menghela nafas berat, mencoba menghalau rasa takut. Kemudian menyalakan center dari ponselku dan kembali melangkah dengan hati-hati.


Kini, aku berada di ruang makan, kudapati meja bundar dan empat kursi kayu. Di sebelah kananku terdapat dua kamar yang sama-sama keadaannya gelap, menambah suasana semakin menyeramkan.


Aku berniat terus melangkah hingga batas rumah ini, demi mencari Bu Maryam, tapi baru saja melangkah. Kakiku seperti menginjak sesuatu, apa ini? Rasanya kenyal. Aku mencoba merasakan sambil berpikir apa yang aku injak.


Kuarahkan center pada kakiku, seketika mataku membulat sempurna, menelan saliva berat. Meski aku belum terlalu yakin dengan apa yang aku lihat.


“A-pa i-itu? Se-seperti ta-tangan ....” Nafasku terasa sesak melihat sesuatu di balik sepatu pantofel yang kukenakan. Dubh-dubh-dubh jantungku berpacu lebih cepat, lalu kuangkat kaki ini, mencoba memastikan.


Semakin jelas dan semakin yakin aku menatapnya, benar itu tangan buntung bercampur darah.


“Aaaaarrrggh!” Aku berteriak sekeras mungkin seraya menjauh dari tangan buntung itu. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuh, bahkan kini badanku terasa gemetar dan lemas.


Belum reda rasa takutku, tiba-tiba dari sisi kiri pundakku ada yang menepuk. Astaghfirullahal’adzim, ya Allah ... dalam hati aku terus menyebut nama-Nya. Keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuh, ingin aku berlari. Namun, tubuh seperti terkunci.


Perlahan aku menoleh, memastikan apa yang kurasakan, meski jantung ini terus berdegup sangat kencang. Namun, bersama dengan itu lampu menyala. Bu Maryam tengah berdiri di belakangku, seketika aku terperanjat.


“Ya Allah, Bu Maryam ... ngagetin aja,” ucapku sedikit kesal. Ini orang tiba-tiba muncul tiba-tiba ngilang, udah kaya hantu aja! Rutukku.

__ADS_1


“Silakan, Neng. Sudah saya bersihkan semua, Neng bisa langsung istirahat.” Tanpa menjawab Bu Maryam mempersilahkan aku untuk beristirahat, ternyata dia sudah membereskan semuanya. Kenapa nggaj kedengeran gerak geriknya? Lagi, aku dibuat bertanya-tanya. Namun, sebisa mungkin tak mau ambil pusing, yang penting sekarang aku bisa istirahat.


Bu Maryam membantuku membawakan koper ke dalam kamar yang sudah dibereskannya, aku perlahan mengikuti wanita berwajah datar itu sambil menyisir pandangan ke seluruh ruangan ini.


Anehnya aku tak melihat bekas atau tanda apapun saat aku melihat tangan buntung tadi, apa mungkin itu hanya bayanganku saja? Entahlah, meski aku sangat yakin melihat tangan buntung itu. Hiiiy ....


Aku masuk ke dalam kamar, membenahi barang-barangku di tempat yang susuai. Bu Maryam pamit pergi setelah menunjukkan bagian-bagian rumah ini. Saat kutanyai harga sewa rumah ini, Bu Maryam tidak menjawab. “Tempati, dulu. Kalau betah baru bayar.” Begitu katanya, seketika aku menyetujui.


Rumah ini cukup luas, meski hanya satu lantai. Ruang tamu di depan, dua kamar berada di ruang tengah bersama ruang makan, dapur dan kamar mandi berada di belakang.


Setelah aku mandi dan shalat Magrib, aku mengabari ibu, bahwa aku sudah sampai ke ibu kota dan mendapatkan tempat tinggal.


Jalan sangat sepi, padahal waktu masih pukul 19:50. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat ada gerobak tengah berhenti, mungkin tukang bakso atau mie ayam keliling. Kebetulan sekali, aku jadi tak perlu pergi jauh-jauh.


Kupercepat langkah kaki ini menghampiri gerobak itu, semakin dekat kulihat seorang laki-laki tengah duduk di depan gerobak itu sambil merokok. Benar saja, ia penjual bakso.


“Masih ada, Bang, baksonya?” tanyaku pada laki-laki bertubuh kurus itu. Seketika ia tersadar dan mematikan rokoknya.


“Eh, si Eneng ngagetin aja. Masih atuh, mau bungkus berapa?” jawabnya sambil nyengir, terlihat giginya yang putih dan rapi.

__ADS_1


“Hehe ... maaf. Bungkus satu aja, Bang. Yang pedes, ya?” pintaku.


“Oke.”


Sambil meracik pesananku, ia bersenandung bak artis penyanyi dangdut. Kudengar suaranya nggak jelek-jelek amat, lumayanlah daripada sepi.


“Rumahnya di mana, Neng? Kok saya baru lihat? Orang baru, ya?” tanyanya sambil mengambil kuah bakso ke dalam plastik.


“Iya, Bang. Saya baru pindah, ngontrak di rumah ujung sana,” jawabku sambil menunjuk ke arah rumah.


“Yang rumah kosong itu?”


“Iya.”


“Serius, Neng? Memangnya nggak takut tinggal di situ? Hiiiy ....” ucapnya seraya bergidik ketakutan. Mendengar ucapannya, aku merasa memang rumah itu ada sesuatu yang tidak beres.


“Memang ada apa, Bang?” Rasa penasaran membuatku melontarkan pertanyaan itu, meski sebenarnya aku takut dengan jawabannya nanti. Tentu akan sangat berpengaruh tinggal di rumah itu sendiri, jika memang rumah itu ada apa-apanya..


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2