
Rasanya aku baru saja terlelap, tapi kini, aku berada di sebuah ruangan gelap. Hanya cahaya dari ventilasi udara yang masuk, sedikit menerangi ruangan ini.
“Di mana aku?” ucapku lirih.
Aku bangun dan melangkah menuju ke arah pintu, bermaksud keluar. Mencari tahu di mana aku berada.
Namun, saat aku berdiri tepat di depan pintu. Kudengar suara beberapa orang berbicara.
“Pokoknya kamu harus tutup mulut, diam dan gak usah ikut campur. Atau kamu juga akan kuhabisi!” ancam seorang laki-laki.
“Ba-baik, Pak. Sa-saya ti-dak akan membocorkan rahasia ini,” jawab seorang wanita.
Siapa mereka? Aku berusaha mengintip mereka dari lobang kunci. Mataku tak bisa bergerak bebas mendapatkan penglihatan yang sempurna, aku hanya bisa melihat dua orang tengah berdiri berhadapan.
“Ingat, ya! Bereskan semua barang bukti di sana, bila perlu bakar semua!” bentak laki-laki itu pada wanita di hadapannya.
“I-iya, Pak ...,” jawab wanita itu terdengar gemetar. Lalu pergi dari hadapan laki-laki itu.
Melihat wanita itu pergi, aku mencoba mencegatnya dari jendela ruangan ini. Ingin sekali memastikan siapa wanita tua itu.
Namun, aku tak bisa membuka jendela ini, percuma saja. Jendela ini dihalangi teralis besi, tepi bisa kulihat wanita tua itu keluar dari rumah ini. Wanita tua mengenakan daster dan penutup kepala, kain batik berbentuk pashmina. Siapa dia?
__ADS_1
Duagh! Duagh!
Aku tersentak kaget mendengar suara benturan, suara itu berasal dari dalam lemari. Di ruangan ini ada dua lemari, satu lemari kecil dan satunya lemari besar.
Perlahan aku mendekati lemari besar itu, suaranya semakin jelas dari sana.
Jantungku seketika berdegup lebih cepat, rasa takut menjalar ke seluruh tubuh.
Dengan tangan yang terasa gemetar, aku membuka lemari itu cepat. Betapa terkejutnya saat kulihat sesosok anak kecil tengah diikat dengan mulut ditutup lakban.
Aku segera mengeluarkannya, “Astaga, Sisi ....” Ruangan gelap membuatku tak bisa mengenali wajahnya. Hingga saat kukeluarkan tubuh kecilnya, baru aku tahu jika bocah itu adalah Sisi.
Aku buru-buru membuka lakban dan ikatannya. “Sisi, bangun sayang ... ini tante,” ucapku sambil menepuk pipinya. Ia terlihat sangat menderita, tubuhnya lemas tak berdaya.
Pintu berhasil kubuka, tapi saat aku keluar benturan keras menghantam kepalaku. Seketika aku jatuh tersungkur bersama Sisi, rasa sakit yang luar biasa membuatku hilang kesadaran.
Aku terbangun kala mendengar suara gemericik air hujan, kulirik jam menunjukkan pukul empat sore. Ternyata aku tadi hanya mimpi.
Aku bangun dan segera keluar, rasa pusing membuatku tak bisa berjalan dengan lancar. Sesekali tubuhku akan terhuyung karena merasakan kepala yang seperti berputar-putar.
“Eh, Neng sudah bangun?” ucap Bu Asri yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
__ADS_1
“Sudah, Bu. Tapi aku ngerasa pusing banget,” sahutku sambil memijit pelipisku pelan.
“Ibu pijitin mau?” tawarnya. Seketika aku mengangguk pasti.
Bu Asri begitu cekatan memijit kepalaku, rasa pusing perlahan hilang. Aku merasa kehadirannya sangat membantu segala kebutuhanku, teringat lagi denga ibu di kampung. Aku memang belum bisa hidup sendiri, ketergantunganku denga ibu sangat sulit untuk dilepaskan.
Nyatanya saat aku ingin hidup mandiri, Bu Asri datang seperti malaikat. Ia begitu menginginkan agar membantuku di rumah ini tanpa memikirkan bayaran.
“Sudah, Bu. Aku sudah lebih enakan,” ujarku karena merasa sudah lebih baik.
“Ya sudah, ibu mau pamit pulang dulu. Sudah sore,” ucapnya. Ia berdiri dan mengambil tas lusuhnya.
“Masih gerimis, Bu. Aku belum ada payung, nanti saja nunggu reda,” sergahku.
“Gak apa-apa, Neng,” tolaknya sambil tersenyum.
“Ya sudah, hati-hati, Bu.”
Wanita tua itu mengangguk pelan, kemudian berlalu keluar membawa tas berbahan kain yang sudah lusuh miliknya.
Namun, aku terpaku saat melihat kain batik yang tergeletak di sampingku.
__ADS_1
Kuambil kain itu, lalu membuka lipatnya. “Kain ini seperti ... jangan-jangan ....” Aku beranjak dan keluar mengejar Bu Asri.
Bersambung...