
Tanpa bisa dikendalikan, tangan ini dengan cepat melesatkan kapak ke arah tubuh laki-laki itu. Namun, sosok Sisi muncul di depanku, membuat tangan ini seketika terhenti mendaratkan kapak pada laki-laki itu.
“Ibu, jangan lakukan itu,” ucapnya memelas. Seketika tubuhku terhuyung saat sesuatu keluar dari tubuh ini.
Kulihat dua sosok ibu dan anak berpelukan, jadi Sisi benar anak Bu Maryam?
“Arini apa yang kau lakukan!?”
“Marvin?” ucapku lirih. Dengan kesadaran penuh, kulihat tangan ini tengah memegang kapak yang sudah berlumuran darah.
Mataku membulat sempurna, saat kulihat laki-laki bertopeng itu terkapar lemah dengan kondisi perut yang mengeluarkan banyak darah. Seketika kapak kulempar, apa aku membunuhnya? Tidak ...!
***
Aku harus berurusan dengan polisi, karena telah membunuh Pak Reno tanpa sengaja. Ya, laki-laki bertopeng itu adalah Pak Reno—suami Bu Maryam. Reno Teguh Apriadi, Bu Asri menyebut nama suami Bu Maryam adalah Teguh. Ternyata mereka adalah satu orang yang sama.
__ADS_1
Ada dua orang laki-laki berjubah hitam yang menerorku, laki-laki yang kukenali wajahnya adalah anak dari Bu Asri. Ia bersekongkol dengan Pak Reno, itu sebabnya mengapa aku tiba-tiba dipecat dari pekerjaanku.
Bu Maryam dengan segala kekayaan dan kekuasaannya, membuat suaminya jengah. Ia merasa tak dianggap sebagai suami, hingga akhirnya pikiran keji menyelimuti. Ia menyuruh Samsul—anak Bu Asri yang menjadi supir pribadi Bu Maryam untuk membunuh istrinya.
Dengan iming-iming yang besar, Samsul bersedia melakukan tawaran majikanya itu.
“Maafkan ibu, Neng. Ibu tidak bermaksud apa-apa, ibu hanya takut dan tidak bisa berbuat apa-apa,” ucapnya penuh penyesalan, tubuhnya terguncang bersama isakannya.
“Tidak apa-apa, Bu,” jawabku singkat.
Saat ini aku tak berdaya, entah apa yang harus kuperbuat. Marvin yang saat itu merasa jam tangannya tertinggal, ia bermaksud kembali ke tempatku.
Namun, di tengah jalan ia melihat dua orang laki-laki tengah berbicara serius. Satu laki-laki berjubah hitam dan satu lagi laki-laki yang Marvin kenali adalah Pak Slamet, ketua RT yang ia temui saat ia datang ke rumah. Ya, mereka bersekongkol.
Pak Slamet diperintahkan untuk mengusirku dengan cara menakut-nakuti jika rumah Bu Maryam angker, menurutku itu cara bodoh yang dilakukan penjahat kelas kakap seperti Pak Reno. Memangnya aku anak kecil, yang takut dengan hantu? Lucu sekali. Hanya karena takut rahasianya terbongkar, ia menerorku dengan cara seperti itu.
__ADS_1
Marvin terkejut saat mendengar namaku disebut-sebut, tanpa pikir panjang Marvin mengumpulkan beberapa warga untuk membantunya menyelamatkan aku dari laki-laki berjubah itu. Namun, nahas, mereka datang diwaktu yang tidak pas.
Aku tak bisa menyangkal, bagaimana mungkin aku membela diri dengan mengatakan aku dirasuki arwah Bu Maryam. Impossible!
***
“Maaf, sudah waktunya Anda masuk ke sel tahanan.” Seorang polisi berbadan tegap mendekat. Ia menyuruhku untuk masuk sel yang sudah ditetapkan, aku hanya diam dan pasrah.
Begitupun dengan Bu Asri dan Marvin, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Aku beranjak tanpa mengucapkan sepatah katapun, kemudian polisi itu berjalan mengiringi langkahku.
“Tunggu, Pak.” Tiba-tiba suara laki-laki dari belakang menghentikan langkah kaki ini.
Seketika menoleh ke sumber suara.
Aku terkejut mendapati Samsul alias laki-laki misterius itu, ada perban di kepalanya. Ya, tentu saja. Itu pasti bekas benturan saat berkelahi dengan Marvin, nasib baik, Allah masih memberinya kesempatan hidup.
__ADS_1
Bersambung...