
“Azel sayang, bisakah nanti malam ikut dengan daddy ke acara ulang tahun perusahaan? Daddy ingin mengenalkanmu sebagai calon mantu daddy” ucap Sean pada Azel yang sedari tadi sibuk meretas sistem keamanan yang melakukan transaksi ilegal.
“maafkan Azel dad, tapi Azel tidak bisa muncul di depan publik, Azel masih takut” jawab Azel pelan
“baiklah, tak apa Zel, lain waktu saja kalau kamu sudah siap”, jawab Sean tenang
Kemudian mereka melanjutkan aktifitas masing- masing. Selama tinggal di rumah Ovan Azel hanya beberapa kali bertemu dengan orang tua Ovan karena mereka memang tinggal terpisah.
“babe, ayo istirahat ini sudah malam” ucap Ovan yang tiba- tiba memeluk Azel dari belakang.
“sebentar lagi Van, tinggal nunggu prosesnya”, jawab Azel dengan mengusap hangat lengan kekar Ovan.
“kau meretas sistem lagi, hmm?” tanya Ovan sambil mengecup pipi chubby Azel.
“seperti yang kau lihat Van”, jawab Azel sambil terus pada layar monitor di depannya.
“finish!, ayo kita tidur Van” ucap Azel semangat.
“apa malam ini kita hanya tidur sperti biasa babe?” tanya Ovan frustasi
“ya, lalu kau pikir apalagi? Melakukan pekerjaan malam?” tanya balik Azel.
Memang selama tiga bulan Azel tinggal bersama Ovan, Azel pernah melakukan hubungan badan saat Ovan di jebak oleh seseorang dengan obat perangsang berdosis tinggi, ada penyesalan di hati Ovan karena tidak bisa menjaga gadisnya namun juga dia bahagia karena itu adalah pengalaman pertama bagi mereka. Mereka hampir dinikahkan saat itu juga namun Azel bersikeras selama dia tidak hamil maka pernikahan harus ditunda dan benar saja Azel tidak hamil hingga pernikahan benar- benar di tunda.
__ADS_1
FLASHBACK ON
Tok tok tok
“nona tolong buka pintunya!” seru pak Max dari luar
Azel yang sedang menunggu Ovan bergegas membuka pintu, namun alangkah kagetnya ketika dia mendapati Ovan yang sudah memerah kepanasan dan di bopong oleh pak Max.
“pak Max, apa yang terjadi?” tanya Azel khawatir.
“tuan terkena pengaruh obat nona, saya akan membawa tuan ke kamar” ucap pak Max seraya membawa Ovan ke kamarnya.
Tanpa bertanya lagi Azel mengikuti pak Max dan memeriksa Ovan, awalnya pak Max keberatan ketika Azel memintanya untuk meninggalkan mereka berdua namun dengan permohonan Azel akhirnya pak Max mengalah dan keluar dari kamar. Pintu kamar Ovan otomatis terkunci dan Azel perlahan membantu Ovan melepas jas yang ia kenakan, namun tiba- tiba Ovan menarik tangan Azel hingga jatuh keatas tubuhnya dan dengan gerakan secepat kilat Azel sudah berada di bawah kungkungan Ovan, Ovan mencium dan melu*at bibir Azel dengan lapar.
“tolong aku babe, aku tidak tahan, ini panas sekali” ucap Ovan dengan suara serak
“aaarrrggghhhh.... pergilah babe, jauhi aku, aku tidak ingin menodaimu!” pinta Ovan sambil menahan sesuatu dalam tubuhnya.
“tidak Van, lakukanlah! Kau bisa mati jika menahannya”, jawab Azel
Ovan terus menolak namun Azel memaksa, dan akhirnya mereka melanjutkan permainan panas mereka.
“aku akan pelan- pelan babe! Tahanlah ini akan terasa sakit” ucap Ovan lembut
__ADS_1
“hng! Lakukan van!” seru Azel
Ovan sudah memposisikan senjatanya di depan milik azel yang sudah sangat basah, dengan susah payah Ovan mencoba memasukkannya, dengan sekali hentakan senjata itu sudah masuk pada milik Azel.
“aarrgghh....” teriak Azel saat senjata Ovan sudah sepenuhnya masuk, Azel merasakan sakit yang laur biasa namun segera dialihkan Ovan dengan ciuman lembutnya. Dengan perlahan Ovan menggerakkan pinggulnya akhirnya mereka sama- sama menikmati dan meng*rang nikmat saat mencapai pelepasan.
“terimakasih babe, tidurlah kau pasti lelah” ucap Ovan seraya mencium kening Azel. Azel sudah kelelahan dan tak mampu menjawab.
Sedangkan diluar kamar ayah Ovan geram dengan kelakuan anaknya yang menodai gadis tak berdosa, meskipun dia tau kalau itu bukan kehendak anaknya tapi tetap saja anaknya salah.
“Van, keluar sekarang!” ucap Sean tegas dengan menahan amarah
Ovan yang mendengar panggilan daddynya jadi kelabakan apalagi dia dan Azel masih sama- sama telanjang. Sean menerobos masuk dan menarik anaknya dari dalam selimut, tidak perduli dengan anaknya yang telanj*ng dia menampar anaknya dengan kuat hingga sudut bibir Ovan mengelaurkan darah.
“daddy, maafkan aku, aku akan bertanggung jawab!” ucap Ovan sambil menunduk.
“daddy, ini bukan sepenuhnya salah Ovan, jangan hanya menyalahkan dia” sahut Azel yang tiba- tiba bangun
Sean kaget mendengar ucapan Azel yang malah membela Ovan, dan ucapan itu juga yang membuat Sean mengambil keputusan untuk menikahkan mereka saat itu juga.
“kalian harus menikah sekarang!” titah Sean
“tidak dad, selama aku tidak hamil Ovan tidak harus menikahiku, atau kita tunda saja dad” tolak Azel tegas
__ADS_1
Dengan perdebatan panjang akhirnya sean menyetujui permintaan Azel
FLASHBACK OF