
Mataku membuka secara mendadak saat sebuah sengatan terasa di tanganku. Gelap!, tak ada satupun yang bisa kulihat, hanya aroma pengap yang perlahan mulai memasuki indra penciuman. Dengan susah payah aku mendudukkan tubuhku, merasakan rasa sakit yang menyeruak disetiap jengkal. Sial, kondisi segelap ini, bagaimana mungkin aku bisa melihat apa yang terjadi dengan tubuhku sebenarnya?.
Entah kenapa firasatku mengatakan saat ini aku berada di sebuah gua. Entah karena tanah yang langsung terasa di telapak tanganku atau karena sayup suara air dan angin disertai bau pengap.
Ini dimana?
Pertanyaan itu langsung berkelebat. Bulu kudukku meremang ketika merasakan rasa dingin abnormal yang tiba-tiba muncul, seakan-akan saat ini ada bongkahan es yang dengan sengaja diletakkan di dekat tubuhku. Mengeratkan jaket yang ku rasa sedikit robek saat tak sengaja kusentuh, mencoba meraba sekitar untuk sekedar menemukan petunjuk.
Seakan menjadi jawaban untuk pertanyaanku, sebuah benda dingin berhasil ku genggam.
Lagi-lagi rasa dingin abnormal menyapu tubuhku, bahkan terasa sangat dekat di tengkukku. Pelan-pelan aku meraba sambil berusaha mengidentifikasi benda apa yang sedang kupegang. Gerakanku langsung terhenti, tubuhku membeku di tempat, seakan tak sanggup bergerak saat aku meraba sesuatu yang sangat aku kenali bentuknya.
Jari manusia!
Aku yakin 1 juta persen saat ini yang kuraba adalah tangan manusia. Hanya saja bagaimana mungkin tangan manusia sedingin dan sekaku ini?.
Tubuhku perlahan gemetar saat kesadaran menerjang diriku. Jangan-jangan ini tangan mayat?.
Rasa takut langsung membanjiri tubuhku. Dengan kasar aku menghempaskan tangan itu hingga terdengar bunyi 'brugh', persis seperti suara batu besar yang sengaja dilemparkan ke tanah. Ya tuhan, bagaimana mungkin sebuah tangan bisa memunculkan suara sekeras itu?.
Rasa dingin abnormal yang sedari tadi kurasakan semakin kuat, membuat tubuhku yang memang sudah gemetaran sejak awal semakin parah. Secara insting, aku beringsut menjauh, bergerak ke pojok, seakan menyadari bahwa rasa dingin abnormal iu adalah sesuatu yang mengancam.
'Errrgghh'
Seakan belum cukup ketakutan yang kurasakan, telingaku menangkap suara erangan. Terdengar seperti erangan hewan buas, persis seperti yang biasa kutonton di chanel national geographic. Suara yang sekilas mirip dengan erangan singa, tetapi lebih kuat dan sarat akan hawa membunuh.
Saat itulah tanpa sengaja mataku bersitatap dengan dua buah kristal bulat berwarna biru yang seakan menggantung di depanku sebelum akhirnya ingatan menghantam diriku, ingatan sebelum aku berada di tempat ini.
***
"Ayolah Nels, bangun"
Sebuah suara dengan intonasi kesal masuk ke indra pendengaranku, membuat mimpi menyenangkanku berhenti. Tak cukup sampai disitu, selimutku ikut ditarik, membuatku mau tak mau terpaksa membuka mata.
Aku memandang malas ke arah tersangka yang mengganggu tidur indahku. Wajah Selena langsung muncul di pandanganku.
"5 menit lagi"
Jawabku ogah sambil menarik selimut hingga menutupi kepala.
Selena menghela nafas, bisa kurasakan bahwa dia ikut duduk di tempat tidurk
"Aish, kalau dihitung-hitung nih ya, udah 10 kali lu bilang 5 menit mulu. Nah totalin deh, udah 50 menit kan? Kurang sabar apa coba gue"
Omelnya panjang lebar.
Aku tak menggubris omelannya, bersiap kembali menutup mata dan menikmati waktu 5 menit yang kujanjikan kepada Selana.
"Ish"
Selimutku tiba-tiba ditarik paksa, membuat tubuhku ikut terjatuh bersama selimut ke lantai. Kali ini mataku langsung terbuka lebar-lebar, memandang galak ke arah Selena, sambil mengelus pantatku yang terasa sedikit sakit. Sedangkan si tersangka hanya cengar-cengir tak berdosa, membentuk tanda V di jarinya sambil berkata
"Sorry Nels, habisnya lu sih susah amat dibangunin"
Aku hanya mendengus, tak berniat membalas ucapan Selena yang nantinya akan memunculkan perdebatan tiada akhir. Mataku tak sengaja memandang jam yang masih menunjukkan pukul 04:00.
Ya tuhan! Ini masih belum bisa dikategorikan pagi, jelas-jelas ini masih dinihari.
Seperti menyadari pemikiranku, Selena langsung berkata "lu nggak lupakan kalau bus kita berangkatnya pukul 5? Butuh waktu 6 jam untuk sampai ke hutan tempat kita camping, Nels"
Ucapan Selena membuatku teringat sesuatu. Pantas saja Selena sudah bertingkah menyebalkan sepagi ini. Mataku lalu beralih ke kalender yang sudah dilingkari tinta merah dengan catatan kecil disana
'Camping perpisahan sekolah'
Ah, hari ini ternyata, hampir saja aku lupa. Dengan enggan aku lalu bangkit dan melangkah ke kamar mandi, menutup pintunya kuat-kuat untuk sekedar melampiaskan rasa frutasiku.
"Waktu lu cuma 30 menit Nels, jadi mandi bebek aja. Toh disana ada sungai, ntar gua mandiin"
Teriak Selena dari balik pintu kamar mandi.
Aku tak menghiraukan teriakan Selena, dengan malas aku mulai membersihkan diri, sesekali bergidik saat air dingin menyentuh kulitku. Sebenarnya hampir saja aku setuju dengan ucapan asal Selena tentang mandi di sungai saja nanti dan memanfaatkan waktu 30 menitku untuk kembali tidur. Tapi tentu saja Selena tak akan membiarkan hal itu terjadi, bahkan jika harus mengunakan kekerasan, dia siap untuk menyeretku mandi dan bersiap-siap.
Untuk seorang kaum rebahan sepertiku, bangun sepagi ini adalah salah satu hal menyebalkan yang paling kuhindari. Belum lagi semalam aku begadang untuk menonton drama korea favoritku. Sebenarnya kalau boleh memilih, aku tak ingin ikut ke acar camping ini. Membayangkan bagaimana lelahnya trekking ke dalam hutan dan aktivitas yang pasti menguras tenaga membuatku benar-benar ngeri. Tapi, kepala sekolah seakan menyadari keberadaan spesies sepertiku sehingga beliau membuat peraturan bagi kelas manapun dengan jumlah kehadiran anggota terbanyak akan mendapatkan voucher makan selama 1 bulan di salah satu warung mie favorit di dekat sekolahku. Jangan tanya bagaimana antusiasnya teman-temanku yang memang pecinta mie. Bahkan mereka memerintahkan Selena yang notabene adalah tetangga dan sahabat dekatku untuk membawa diriku, walau harus diseret sekalipun. Aih, ternyata persahabatan hanya sebatas semangkuk mie.
Setelah memastikan tubuhku bersih, aku lalu keluar kamar mandi yang langsung disambut oleh tatapan predatir milik Selena. Dengan sigap dia mulai memilihkan pakaianku, lalu mendudukkanku dan mulai menggerakkan tangannya dengan lincah. Entah berapa kuas yang telah dia sapukan di wajahku. Sementara aku hanya menutup mata, mencoba mencuri-curi waktu untuk tidur.
__ADS_1
"Ya tuhan, masih bisa tidur aja nih anak"
Gerutunya histeris sambil menjitak kepalaku.
Aku meringis sambil membuka mata, melayangkan tatapan protes. Sementara Selena hanya bersiul, tak menggubris kekesalanku.
"Yeayy, selesai"
Ucapnya riang setelah mengoleskan liptint di bibirku.
Dia lalu memutar tubuhku ke kiri dan ke kanan, lalu menaik turunkan wajahku dengan ekspresi puas
"Yaps, aku memang pro"
Aku hanya memutar bola mata jengah saat mendengar Selena memuji dirinya sendiri. Sebenarnya aku cukup heran dengan pola pikir Selena. Kenapa pula harus berdandan sebelum berangkat? Toh ujung-ujungnya hanya masuk ke dalam hutan.
"Lah kita kan mau foto bersama dulu sebelum pergi Nels. Lagian ini momen terakhir kita bareng teman-teman"
Dia menjeda kalimatnya sebentar, rona merah mulai mucul di pipinya
"Sekalian kesempatan buat lebih dekat dengan orang yang kita suka"
Lanjutnya malu-malu.
Aku menghernyit, semakin tak mengerti dengan logika yang diucapkan Selena. Tapi saat aku menyampaikan protesku lagi, dia langsung memandangku galak dan berkata dengan ketus
"Lu mah jomblo seumur hidup, nggak pernah suka sama siapa-siapa, manalah ngerti"
Dan setelah itu aku memilih untuk diam dan tak mendebat kembali alasannya yang abstrak.
Setelah berpamitan dengan ayah dan ibuku, Kami lalu keluar rumah yang langsung di sambut dengan pak Smith, supir pribadi Selena. Sepanjang jalan Selena mencoba mengajakku bercerita sebelum akhirnya menyerah saat melihatku menguap.
"Tidur mulu, kayak kebo ah"
Gerutunya.
Aku tak menggubris, setidaknya butuh 15 menit untuk sampai di sekolah, jadi ayo manfaatkan untuk rebahan walaupun sebentar.
***
Aku dan Selena adalah siswa kelas 12 yang sebentar lagi akan tamat. Sejak kecil aku dan Selana selalu berada di sekolah bahkan di kelas yang sama, membuat kami semakin saling mengerti dengan sifat masing-masing. Sebenarnya ada beberapa pilihan yang diajukan untuk menjadi acara perpisahan di sekolah kami. Pilihan kesukaanku adalah mengadakan acara di sekolah saja, memutar video tentang sekolah sambil mengadakan pertunjukan. Tapi sialnya yang terpilih adalah opsi yang paling kubenci, yaitu camping selama 2 hari 1 malam.
Belum cukup rasa lelah akibat perjalanan masuk ke lokasi camping, kami hanya diberikan waktu selama 40 menit untuk beristirahat dan berganti pakaian dengan yang lebih nyaman sebelum melakukan trekking keliling hutan. Rasanya nyawaku masih tertinggal di hutan saat kami kembali ke lokasi camping. Inilah kali pertama aku menheluarkan energi yang sangat besar di hidupku.
Menghela nafas berat, aku memandangi tumpukan jagung yang belum seluruhnya seleai dibuka. Setelah trekking yang menyiksa, terbitlah pembagian tugas untuk persiapan api unggun. Ya tuhan, aku yakin saat tiba di rumah nanti, berat badanku bakalan turun drastis. Syukur saat cabut lotre pembagian tugas, aku kedapatan tugas yang cukup ringan. Daripada Selena yang bertugas mengumpulkan kayu bakar?, tentu saja punyaku patut disyukuri.
"Duh, ganteng banget"
"Iya, jadi pengen bawa pulang"
Aku melirik malas ke arah Freya dan Lara, teman sekelasku. Sebenarnya sudah dari tadi mereka mengucapkan kata-kata kagum sekaligus pujian kepada seorang pria yang sedan sibuk memotong kayu bakar tak jauh dari tempat kami.
Aku mengalihkan pandangan malas ke arah sosok yang sudah sangat sering kudengar namanya.
Sean Milford, cowok paling terkenal di seluruh sekolahku, bahkan mungkin hampir 1 kota mengenal dia.
Cowok tampan (ya harus kuakui sih memang iya) yang merupakan putra walikota. Bukan hanya tampan, Sean juga atletis dengan kecerdasan di atas rata-rata.
Terkadang saat melihat ke arah Sean, aku akan dengan kesal memandang langit sembari menggerutu betapa tidak adilnya dunia ini. Kesempurnaan Sean semakin bertambah dengan sikapnya yang cuek dan senang membantu orang lain.
"Cuek tapi baik. Uhhh pengen"
"Udah gak jaman ah badboy"
"Beruntung kali yang jadi pacarnya Sean"
"Andai aja itu gue"
Kali ini cekikikan mereka semakin nyaring terdengar. Aku memutar bola mata jengah, mencoba menutup pendengaranku secara psikologis, fokus mati-matian kepada jagung yang tinggal sedikit lagi di depanku. Oke girls, selamat bermimpi, sampai kapanpun Sean tak akan bisa kalian raih. Kenapa aku tahu pasti? Karena hampir setiap hari aku menjadi saksi 'penolakan' Sean kepada penganggumnya saat aku membuang sampah ke belakang sekolah.
"Gue udah punya orang yang gue suka"
Itu adalah ucapan klasik yang selalu Sean ucapkan setiap menolak perempuan, dan ini sudah menjadi rahasia umum satu sekolahan.
Aku masih ingat bagaimana suasana berubah menjadi riuh saat mendengar ucapan Sean. Seantero sekolah berusaha mati-matian menemukan perempuan yang Sean maksud. Tapi nihil, mereka tak menemukan petunjuk sedikitpun. Aku menggelengkan kepala gemas, entah apa yang membuat gadis-gadis itu sangat naif sampai percaya mentah-mentah dengan ucapan Sean. Bisa sajakan ternyata Sean mengarang cerita agar tak ada lagi yang menyatakan cinta kepadanya?. Ayolah, tak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini.
__ADS_1
"Udah gue ya"
Ucapku ke arah Freya setelah memastikan pekerjaanku selesai. Ya walaupun dicuekin sih karena mereka masih sibuk mengagumi makhluk tuhan bernama Sean. Akhirnya aku memilih untuk kembali ke tenda, mencoba mencuri waktu membaringkan tubuh sejenak sebelum harus mengikuti kegiatan api unggun.
*****
"Duh, ya ampun, sempurna banget ya ciptaan tuhan"
"Ho oh, mau gue"
"Mau diapain?"
"Dijadiin istri sekarang juga okelah"
Aku menghela nafas berat, sepertinya lama-lama duduk di dekat Freya dan Lara bisa membuatku menua beberapa tahun. Ayolah, yang benar saja, ada banyak pria ganteng di muka bumi ini!.
"Lebay Fre, lama-lama gue budek nih"
Omelku sebal yang langsung di sambut dengan tatapan galak Freya dan Lara.
"Lagian kayak cowok ganteng cuma Sean aja"
Lanjutku lagi sambil membaca selebaran di tangan yang berisi naskah drama yang akan kami pentaskan. Ya walaupun peranku hanya menjadi pohon ataupun properti tak bergerak lain.
"Karena Sean defenisi idaman mertua"
Ucap Freya menggebu-gebu.
Aku menghernyitkan alis, ya kali idaman mertua, lebay amat. Toh mereka juga cuma tau Sean di sekolahkan?, siapa tau bagaimana kelakuannya diluar sekolah. Selanjutnya Freya dan Lara kembali berisik, memuji Sean dengan rangkaian kalimat lebay lainnya. Akhirnya aku hanya bisa pasrah, mencoba fokus dengan penampilan yang tersaji di depan mata. Tak lama Selena muncul dan duduk tepat di sampingku. Wajahnya langsung terlihat kebingungan begitu melihat ekspresiku.
"Kenapa Nels?"
Aku hanya menggelengkan kepala. Kepalaku langsung berdenyut ketika penampil selanjutnya diumumkan. Bagaimana tidak? Saat ini kelas Sean yang akan tampil dan bayangkan saja bagaimana keributannya. Bahkan makhluk halus penghuni hutan saja akan terkejut mendengarnya.
Tiba-tiba Selena menarik pelan bajuku, membuat perhatianku seketika tertuju padanya.
"Temani pipis"
Bisiknya pelan.
Biasanya aku sangat malas untuk bangkit. Tapi kali ini aku langsung mengangguk cepat, bahkan menarik tangan Selena lalu meminta izin kepada guru. Yah lumayanlah, menghindari keributan yang bisa mengganggu kesehatan gendang telingaku.
"Gue tunggu disini ya Sel"
Selena mengangguk dan mulai menjauh. Dengan malas aku menyenderkan tubuh ke pohon, memandangi dari jauh api unggun yang sedang berlangsung. Sepertinya masih kelas Sean yang tampil, karena teriakan masih nyaring terdengar. Tapi entah kenapa, perlahan teriakannya berubah, terkesan lebih... panik?. Apa perasaanku saja ya? Atau si Mr. Populer sedang melakukan sesuatu yang mengejutkan sampai membuat semua orang panik?. Tapi entah kenapa, perasaan tak nyaman menjalari hatiku, seakan-akan ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Yuk balik"
Tepukan Selena di bahuku sontak membuatku berjingkat kaget.
Melihat kekagetanku, Selena memandangku bingung "Kenapa Nels?"
Aku langsung menggeleng, mencoba menepis perasaan tak nyaman yang kurasakan
"Nggak apa, yuk ah. Banyak nyamuk"
Ucapku sambil melangkah mendahului Selena.
Tapi, belum sampai 10 langkah, tubuhku terhenti. Bahkan karena terlalu mendadak Selena tak bisa menghindari menubruk punggungku.
"Kenapa sih Nels"
Gerutunya.
Aku tak menjawab, lebih tepatnya tak bisa. Saat ini aku hanya bisa terpaku dengan pemandangan yang tersaji di depanku. Ke arah Freya yang tengah berlari menjauhi Lara yang mengejarnya dengan gerakan aneh, sebelum akhirnya menerjang dan...... mengoyak daging di leher Freya.
"Ih kok di..."
Belum sempat Selena menyelesaikan ucapannya, dia ikut terdiam, sepertinya ikut menyaksikan apa yang tersaji di depan sana. Kali ini Freya yang diam sejenak setelah digigit mendadak bangkit. Sekalipun berdiri, postur tubuhnya sangat aneh, seperti sendi yang menyambungka tubuhnya tak sinkron. Selanjutnya dia mulai bergerak seperti orang gila, meraih siapa saja dan mulai merobek apapun yang bisa dia gigit. Hingga...
'Brughh'
Sebuah benda panjang mendarat tepat di depanku dan Selena. Benda panjang yang bergerak sejenak, sebelum akhirnya berhenti lalu mulai memancarkan darah dan bau amis.
Aku dan Selena hanya bisa terdiam, sebelum akhirnya tangan Selena yang gemetaran memegang pundakku
__ADS_1
"Nels..."
Selanjutnya kejadian berlangsung cepat. Seseorang berlari ke arah kami dan semuanya menjadi gelap...