
"Menurut gue... Deathster di hutan ini lebih dari 1"
Leah langsung memandang tepat ke mataku begitu mendengar apa yang baru saja ku katakan.
"Maksud lo, Nels?"
Aku menarik nafas dalam-dalam, memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paruku yang entah kenapa terasa sesak, seperti sudah terlalu banyak dipenuhi karbondioksida.
"Lo tau pas kita balik ke tenda untuk mengambil HP dan barang-barang penting lain?"
Tanyaku ragu yang langsung di jawab dengan anggukan cepat oleh Leah.
Aku mulai menceritakan apa yang Selena ungkapkan padaku, bahwa dia melihat Sean yang berdiri memandangi kami tanpa melakukan apapun.
Saat itu Jason melarang Selena mengatakan apapun kepada kami karena dia belum yakin apa yang sebenarnya terjadi pada Sean. Tapi setelah aku mengetahui tentang deathster, aku mulai mengait-ngaitkan tentang ciri-ciri yang Selena gambarkan.
Sean berdiri tegak, tak seperti para zombie lainnya. Memandang lurus ke arah objek yang tak lain dan tak bukan adalah diriku. Ya, walaupun aku menyembunyikan kenyataan Sean melihatku dari Leah. Aku hanya mengatakan Sean melihat objek tertentu.
Perihal alasan Sean yang hanya melihatku, aku masih bertanya-tanya dan belum menemukan jawabannya.
"Jangan-jangan... Sean juga deathster?"
"Mungkin?"
Aku menjawab pertanyaan Leah dengan pertanyaan juga, tak terlalu yakin dengan asumsiku.
Tapi jika Sean memang menjadi deathster, aku tak akan terlalu terkejut mengingat Sean memang sudah memiliki kriteria manusia yang dibutuhkan untuk menjadi seorang deathster.
Mr. Populer itu punya stamina yang kadang membuatku geleng-geleng kepala. Hampir semua klub olahraga dia ikuti. Perihal kecerdasan jangan tanya, dia tak pernah keluar dari peringkat 5 besar juara umum sekolah.
Jadi apakah Sean seorang deathster? Sepertinya aku harus memastikan hal ini dengan Jason, besok. Kalau benar, maka sudah dipastikan ada 2 deathster yang sejauh ini kami lihat, sosok yang muncul saat serangan zombie dan juga Sean.
"Tapi, mungkin saja sosok yang memandang kita dari balik pepohonan kemarin adalah Sean"
"Mungkin saja kan, kita kan tidak terlalu jelas melihatnya"
__ADS_1
Aku menghernyit saat mendengar dugaan Leah. Tidak, sekalipun aku tak bisa melihat jelas wajah sosok itu, aku yakin dia bukan Sean. Entah karena alasan apa, instingku terus mengatakan bahwa sosok itu bukanlah Sean.
"Bukan, mereka sosok yang berbeda"
Jawabku yakin.
"Kenapa lu nggak berpikir itu Sean?"
Aku lalu duduk dari posisi tidurku. Memiringkan kepala dan mulai berpikir apa alasan aku tak yakin bahwa sosok yang memandangi kami dari balik pepohonan adalah orang yang berbeda dengan Sean.
"Jangan-jangan... Lo termasuk jajaran penggemar Sean ya?" Ledek Leah yang langsung membuatku melemparkan tatapan galak.
"Wah seru juga. Nona Keong dan Pangeran sekolah"
Hah? yang benar saja! Aku tak punya energi berlebih untuk ikut bergabung menjadi pengagum Sean. Hanya berpikir menjadi pengagum Sean saja sudah cukup membuatku sakit kepala. Bayangkan, berapa banyak energi yang harus ku habiskan untuk mengikuti kegiatannya, berdesak-desakan untuk melihatnya, menghadapi para fans lainnya. Bahkan membicarakan Sean saja bisa menghabiskan separuh stok energi yang kupunya dalam 1 hari.
"Sorry. Gue Bercanda, Nels"
Lanjut Leah sambil tertawa, sama sekali tak mencerminkan sikap orang meminta maaf. Matanya malah terus dinaik-turunkan, terlihat menggodaku.
Leah semakin tertawa terkekeh, bahkan suaranya menggema memecah malam, membuat Jason dan Selena terbangun dan memandang kami dengan tatapan penuh tanya. Mereka baru kembali tidur setelah Leah meyakinkan bahwa kami hanya sedang bercanda.
"Iya, iya Nels. Beneran maaf nih kali ini"
Ucap Leah lagi setelah susah payah menghentikan tawanya.
Aku hanya mengerlingkan bola mata jengah. Lagian darimana pula Leah bisa berpikiran bahwa aku adalah penggemar Sean? Tidakkah dia bisa melihat sikap netralku yang malah cenderung muak saat melihat jejeran penggemar Sean?.
"Intinya insting gue bilang kalau sosok yang kita lihat bukan Sean. Kalau soal alasannya gue juga nggak tahu"
Jelasku panjang lebar yang lagi-lagi ditanggapi dengan anggukan penuh makna dan tatapan menggoda dari Leah.
Dengan kesal aku membaringkan tubuhku lagi. Berbaring menghadap arah yang berlawanan dari Leah yang sayup-sayup terdengar menahan tawa.
***
__ADS_1
Pusat Penelitian Christoff
"Aku serahkan Jason kepadamu"
Ucap Alfonso sambil menyerahkan kotak kecil bewarna ungu
"Disini ada beberapa vial vaksin. Gunakan saat kondisi terdesak, bagaimanapun kau harus memastikan bahwa Jason selamat"
A1 mengangguk dan memberi hormat. Dia lalu menerima kotak yang disodorkan Alfonso, menyimpannya di tempat teraman.
Phillia memandangi A1 yang kini sudah segar bugar. Kepanikan Alfonso hampir saja menyebabkan A1 meregang nyawa secara cuma-cuma. Kalau saja A1 langsung menembus hutan tanpa sempat berpamitan kepada Phillia, sia-sialah sudah sel punca yang mereka berikan kepada A1. Selain itu tentu saja Alfonso akan kehilangan ajudannya yang paling setia dan tak pernah membantah perintah apapun, bahkan membunuh sekalipun.
"Jason harus selamat. Untuk lokasi Jason, kau tinggal mengikuti titik koordinasi yang ada di sini"
Alfonso menunjuk sebuah layar tipis yang mirip seperti HP tetapi tipis seperti kartu nama. Layar itu memiliki fungsi sama seperti GPS. Hanya saja berbeda dengan GPS biasa, layar itu hanya menampilkan peta keberadaan seseorang yang sudah diinjeksikan chip khusus.
Sebenarnya chip itu hanya diperuntukkan untuk objek-objek penelitian yang ada di pusat penelitian Christoff. Hanya saja Alfonso sengaja meletakkan sebuah chip di tubuh Jason tanpa Jason sadari, tepat pada malam hari sebelum keberangkatan putranya ke acara camping perpisahan sekolah.
Alfonso sudah menebak bahwa masalah zombie akan meledak dalam waktu dekat. Apalagi putra kesayangannya itu dengan sengaja mendekati area terlarang.
Peristiwa tergulingnya mobil pengangkut pusat penelitian Christoff hanya berselang 1 minggu dari jadwal keberangkatan sekolah Jason.
"Ada orang yang harus ku jaga"
Lagi-lagi Alfonso teringat ucapan Jason saat dia menentang dengan keras keinginan putra semata wayangnya itu untuk berangkat.
Siapakah orang yang dimaksud putranya?. Apakah Leah, putri tetangganya yang sejak kecil sudah bersama Jason bahkan mereka lahir di waktu yang sama dan di rumah sakit yang sama.
Tapi, selama ini Jason hanya bertingkah normal, malah cenderung cuek kepada Leah. Jadi, siapa orang yang ingin Jason lindungi? Apakah putranya tanpa dia sadari telah jatuh cinta kepada seseorang?.
Ah, entahlah. Alfonso mengurut kepalanya yang terasa sakit. Jika benar Jason telah jatuh cinta dengan seseorang, Alfonso tak terlalu ambil pusing. Yang penting anak semata wayangnya itu bisa selamat.
Setelah dipikir-pikir lagi, Alfonso kini menyadari sesuatu. Jika dalam hal bersikap, Jason lebih mirip seperti istrinya yang tenang dan pendiam. Maka, ketika jatuh cinta, Jason lebih cenderung seperti dirinya. Posesif dan cenderung melindungi, bahkan rela melakukan apapun untuk orang yang dia cintai, seperti yang Alfonso lakukan kepada istrinya.
Ah, sepertinya benar sebuah pepatah yang mengatakan 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya'.
__ADS_1