Mr. Zombie

Mr. Zombie
Gotcha! Aku Temukanmu (4)


__ADS_3

Tak ada kata yang bisa menggambarkan suasana malam di sebuah hutan selain 'mencekam'. Tapi tak seperti kondisi malam hari di hutan lain yang sesekali terdengar suara sahutan hewan malam, hutan ini justru benar-benar lengang. Begitu lengang tanpa ada suara, bahkan hewan malam saja tak ada satupun yang saling sahut-menyahut. Seakan merek paham ada sesuatu yang sangat berbahaya menginvasi habitat mereka.


Sebuah suara benda terseretlah yang mampu memecah kesunyian hutan. Tapi bukannya mengurangi rasa mencekam, suara seretan itu justru semakin menambah kesan menyeramkan hutan ini.


Suara seretan itu berasal dari sesosok pria yang tengah berjalan membelah malam. Menggerak-gerakkan hidungnya, memanfaatkan ketajaman indra penciumannya yang melebihi seluruh indra lain di tubuhnya.


Sosok itu menyeringai, mengangkat telunjuknya, memain-mainkan Jari telunjuknya yang hanya tinggal separoh. Dia menunjuk beberapa arah secara bergantian, seakan sedang bermain, menentukan secara acak lokasi mana yang akan dia tuju.


Tentu saja sosok itu sudah tahu arah mana yang harus dia ambil, dengan mengikuti baunya yang menggiurkan saja sudah cukup membuatnya tahu kemana kakiknya harus melangkah.


Tapi melakukan hal ini menimbulkan sensasi candu tersendiri untuknya. Membayangkan bagaimana sang pemilik aroma harum tak menyadari bahwa dia sedang bermain-main dengan nasib si pemilik aroma. Berpura-pura menentukan arah, padahal dia sudah siap menerkam mangsanya.


Sosok itu lalu berhenti di sebuah pohon besar, menyenderkan tubuhnya dengan santai. Sebenarnya tak terlalu jauh lagi baginya untuk mencapai posisi si pemilik aroma lezat. Tetapi dia memutuskan untuk menunda mengejutkan pemilik aroma yang aroma samarnya saja bisa membuat air liurnya menetes. Bukankah mangsa terbaik di makan saat penuh perlawanan?.


Seringaian semakin lebar terlukis di bibirnya. Dia lalu duduk di bawah pohon besar. Sengaja mengulur waktu, membayangkan betapa lezatnya si pemilik aroma jika ditangkap saat penuh perlawanan.


***


Mataku kembali terbuka setelah beberapa saat sempat terpejam. Kali ini bukan karena tak bisa tidur, tetapi karena ingin buang air kecil.


Aku mendudukkan tubuh, memandang Jason yang sedang memungguiku, terlihat mengamati area sekitar tempat peristirahatan kami. Ah, sepertinya saat ini adalah jadwal Jason berjaga.


Duh, ini kenapa kandung kemihku tak bisa di ajak kerjasama sih. Kenapa pula dia harus mengulah di tengah malam begini?. Mana mungkin aku meminta Jason untuk menemaniku buang air kecil?. Aku melirik ke arah Selena dan Leah yang tengah tertidur pulas.


Baiklah, tahan saja dulu. Aku lalu kembali berbaring, berusaha memejamkan mata lagi, berharap kantung kemihku bisa di ajak kompromi. Tapi selang beberapa menit saja aku langsung kembali terduduk, tak sanggup menahan rasa sesak.


"Jas"


Panggilku pelan.


Jason berbalik, memandangku dengan ekspresi penuh tanya.


"Gue.." Aku sedikit ragu meneruskan ucapanku.


"Apa?"


Aku menghembuskan nafas berat, mau tak mau aku harus jujur kalau tak ingin menderita atau buang air di celana sekalian.

__ADS_1


"Gue pengen buang air kecil"


Ucapku sepelan mungkin. Rasanya wajahku memerah sekarang karena menahan rasa malu.


Sebenarnya aku ingin membangunkan Selena. Tapi jadwal Selena tepat sebelum Jason, jadi sudah pasti Selena baru saja tertidur setelah berjaga selama satu setengah jam. Sedangkan Leah juga pasti belum lama tertidur. Berdasarkan jadwal jaga kami, akulah yang pertama bertugas berjaga, sehingga tidurku sudah lebih dari cukup.


"Ayo"


Tanpa banyak basa-basi Jason mulai berjalan menuju lokasi yang aman untuk aku buang air kecil.


Sebenarnya aku ingin menolak dan menawarkan untuk pergi sendirian saja. Tapi Jason bahkan tak mengizinkanku untuk mengucapkan penolakanku dan langsung berjalan begitu saja.


Dengan cepat aku menyelesaikan hajatku. Begitu lega ketika kandung kemihku kembali longgar. Setelah urusanku selesai, aku lalu berjalan ke arah Jason yang berdiri membelakangi posisiku.


Sedikit lagi langkahku sampai di dekat Jason. Sebuah lengkingan terdengar di telingaku. Membuatku sontak menutup telinga dan berjongkok.


Suara itu lalu berganti dengan auman rendah, persis seperti yang pernah ku dengar saat kami bertemu dengan deathster kemarin.


"Nelsis!"


Memegangi pundakku, mengguncang tubuhku pelan berkali-kali.


Suara itu masih terdengar, bahkan lebih kuat dari yang tadi. Susah payah aku menekan-nekan telingaku, mencoba menghilangkan suara yang terasa sangat dekat di telingaku.


"Nelse!"


"Nels!"


Jason menangkup wajahku, memaksaku untuk melihat ke matanya.


Perlahan suara itu mulai menghilang, hingga tak ada apapun yang kudengar.


"Lo nggak apa?"


Tanya Jason cemas, membalik tubuhku ke kiri dan ke kanan, memastikan tak ada luka apapun.


Aku mengangguk. Sesekali mengusap telingaku. Apa yang terjadi barusan? Suara apa yang kudengar tadi?. Berbagai pernyataan berseliweran di pikiranku. Aku yakin ada yang aneh dengan diriku.

__ADS_1


Bukan sekedar terngiang di telinga, tapi lengkingan dan auman itu terasa dekat, seakan sedang diperdengarkan tepat di telingaku. Refleks aku melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa pendengaranku tak ada hubungannya dengan kemunculan Deathster. Kalaulah deathster muncul disaat seperti ini, sudah pasti kamilah yang paling tidak di untungkan.


"Barusan lo kenapa, Nels?"


Tanya Jason, membantuku untuk berdiri.


Dengan susah payah aku berdiri. Sepertinya suara tadi sukses membuat lututku merasa lemas, sampai berdiri saja aku hampir tumbang. Bahkan Jason terpaksa memapahku.


"Lo, dengar sesuatu nggak?"


Tanyaku, sambil melepaskan pegangan Jasoj setelah kakiku terasa lebih kuat.


Jason menghernyitkan alis bingung


"Suara?"


Aku menganggukkan kepalaku cepat. Jason terdiam, kerutan di alisnya semakin dalam. Tak berapa lama, dia menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa dia tak mendengar apapun.


Susah payah aku menelan ludah, membasahi tenggorokanku yang mendadak terasa kering. Dengan kata lain, hanya aku saja yang mendengar suara itu? Ya ampun, apakah aku sedang berhalusinasi?.


Tidak, aku yakin 100% bahwa telingaku benar-benar mendengar suara lengkingan yang memekakkan telinga kemudian diikuti suara auman rendah, mirip seperti auman deathster.


Tapi, Jason bilang dia tak mendengar apapun. Jadi, bagaimana mungkin hanya aku yang mendengar suara itu?.


"Suara apa Nels?"


Jason masih memandangku dengan tatapan penuh tanya.


Sebenarnya aku ingin mengatakan suara apa yang baru saja kudengar. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk menggelengkan kepala


"Ah, sepertinya telinga gue dimasuki serangga. Soalnya berdengung banget"


Jawabku sambil menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.


Jason menaikkan alisnya, memandangku tak yakin, sepertinya dia menyadari bahwa aku menyembunyikan sesuatu. Tapi dia akhirnya tak bertanya lebih lanjut setelah mengamati ekspresiku yang menolak untuk bercerita.


Kami melanjutkan langkah, kembali menuju lokasi peristirahatan kami. Sepanjang jalan kami hanya terdiam. Jason terlihat sibuk memikirkan sesuatu yang entah apa, sedangkan aku sibuk memikirkan suara tadi. Dilema antara itu adalah khayalanku, sengatan serangga atau benar-benar suara yang nyata.

__ADS_1


__ADS_2