
"Berbeda?"
Kali ini Selenalah yang bertanya.
Jason mengangguk dan melanjutkan kembali penjelasannya.
"Mereka tak segila para zombie transisi dan zombie asli untuk soal rasa lapar. Mereka lebih memilih memakan nuclei otak sesama deathster" Jason menjeda kalimatnya lagi, seperti berat untuk melanjutkan.
"Tergantung level para deathster juga, yang tertinggi mungkin bisa menyerupai manusia"
Ucap Jason, mengakhiri kalimatnya.
Kami lagi-lagi terdiam, tak ada yang mimpali ucapan Jason, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba ada perasaan tak tertahankan yang muncul dari dalam diriku, perasaan untuk mengalihkan pandangan ke arah samping, ke arah pepohonan.
Tak ada siapapun di sana, tapi entah kenapa jantungku langsung berdebar kencang hanya dengan melihat ke arah pepohonan itu. Aku merapatkan sweater di tubuhku. Bagaimana jika yang membuatku melirik ke samping bukanlah zombie, melainkan hantu? Ya tuhan, please, jangan tambah penderitaanku.
"Lalu, apa yang membuat mereka menjadi berbahaya? Dan tolong, jangan potong informasi apapun Jas"
Setelah suasana sempat hening, Leah kembali bertanya, menuntut Jason untuk menjawab sesegera mungkin.
"Itu karena..."
Jason mengalihkan pandangannya, tepat ke arah yang kutatap tadi
"Mereka akan menjadi gila"
Alis Jason berkerut, terlihat bingung.
Entah apa yang Jason bingungkan, tapi tindakannya membuat kami secara refleks ikut melihat ke arah mata Jason menatap.
Diam-diam aku melirik ke arah Leah dan Selena, memastikan ekspresi mereka. Tapi mereka hanya melihat sekilas tanpa menunjukkan ekspresi apapun, lalu kembali fokus kepada Jason, seperti tidak merasakan hal aneh yang kurasa.
"Jas, please! Berhentilah mengalihkan pembicaraan!"
__ADS_1
Protes Leah geram saat Jason masih fokus melihat ke arah pepohonan.
Jason tak menggubris tuntutan Leah. Di dalam hatinya muncul perasaan tak nyaman yang sulit di jelaskan. Dia tak mencium aroma zombie yang mendekat atau mengintip dari sana, tapi kenapa perasaannya tetap tak nyaman?.
"Jas!"
Teriak Leah frustasi, menarik kerah baju Jason dan memaksanya untuk memandang tepat ke mata Leah.
"Cukup mengalihkan perhatian. Sekarang lanjutkan penjelasanmu!"
Jason menghela nafas berat, sekali lagi pandangannya menyelidik ke arah pepohonan yang membuatnya tak nyaman, dan setelah memastikan indra penciumannya tak merasakan aroma zombie sedikitpun, Jason akhirnya memilih untuk abai dan fokus kepada Leah, Selena dan Nelsie.
"Mereka seperti punya insting karnivora tertinggi"
Jason tak menepis tangan Leah, dia tetap membiarkan Leah menarik kerah bajunya.
"Berburu dan melihat hewan buruannya menderita. Lalu di saat bosan, mereka akan memakan otak korbannya hidup-hidup. Menurutmu, bagian mana yang tidak mencerminkan betapa bahayanya para deathster?"
Tanya Jason, menatap Leah lekat-lekat.
"Dan mereka, suka menjadi yang terbaik. Biasanya para deathster mengumpulkan para zombie transisi dan zombie asli untuk menjadi bawahannya. Duduk di piramida teratas sebagai pemburu manusia"
Jason menepuk bahu Leah berkali-kali sebentar sebelum melanjutkan
"Sebagai pemburu sesama zombie juga sih. Seperti yang gue katakan, para deathster suka memakan otak secara langsung. Mereka memang sebenarnya lebih memilih memakan otak sesama deathster. Tapi disaat tak menemukan deathster lain, mereka akan dengan senang hati memakan otak manusia dan zombie lain"
Jason menghela nafas berat, menyelesaikan kalimatnya yang panjang lebar. Dia meneguk air yang sedari tadi berada di genggamannya, mencoba menghilangkan rasa kering yang teramat sangat dari tenggorokannya.
"Jadi.. Apakah ada cara untuk membunuh para deathster?"
Selena memandang ke mata Jason lekat-lekat. Wajahnya terlihat penuh harap. Pada kenyataannya dia memang berharap Jason akan langsung mengangguk dan menepis rasa takut yang menguasai hati Selena.
Tanpa Jason perlu menjelaskan, sebenarnya kami sudah tahu betapa mengerikannya para deathster. Aku teringat bagaimana ekspresi Jason saat dia pertama kali dia mengetahui keberadaan para deathster. Bagaimana cara dia mengumpat, bagaimana wajahnya terlihat panik saat sosok dari balik pepohonan itu mengaum.
__ADS_1
Jason menghela nafas sejenak lalu menganggukkkan kepalanya, membuat kami langsung memandang penuh harap ke arah Jason. Selama ada cara untuk membunuh para deathster, maka mereka masih punya harapan hidup tinggi.
"Mereka harus di tembak tepat di empat sisi"
Jason menunjuk area yang harus di tembak dengan tangannya
"Atas telinga kiri dan kanan, di tengah dahi dan lekukan di bawah kepala belakang"
Ucapan Jason membuat wajah penuh pengharapan kami sirna sudah. Pundak kami terkulai lemas, menyadari apa yang kami hadapi tak ubahnya seperti boss terakhir pada sebuah game.
Aku menggerutu dalam hati. Bagaimana mungkin kami bisa menembak tepat di area yang Jason perintahkan? Bahkan menembak kaki saja aku masih sering meleset. Lagian peluru kami juga terbatas dan yang punya kemampuan menembak terbaik hanyalah Jason dan Leah.
Sial! Bukankah Jason bilang ini masih asumsi yang harus di teliti lebih lanjut oleh pusat penelitian Christoff?. Bukankah Jason bilang butuh waktu berminggu-minggu untuk berubah menjadi deatster?Bukankah Jason bilang hanya orang tertentu yang bisa berubah menjadi deathster?. Jika Jason saja tak menyangka akan menemui deathster disini, bukankah berarti memang tak seharusnya kami bertemu deathster seawal ini? Lalu kenapa? Dari mana deathster itu datang?.
Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku, membuatku merasa pusing. Rasa pusingku semakin bertamabah saat auman kembali terngiang di telingaku. Ya tuhan, sepertinya aku harus mengecek kesehatan telingaku segera. Tapi aku tiba-tiba tersadar dan meringis. Kami sedang menghadapi wabah zombie sekarang. Bisa sajakan zombie sudah menyerang kota?. Aku membayangkan dr. Jhonson, salah seorang dokter THT top di kotaku dengan pakaian dokternya yang sudah di penuhi darah. Dia lalu berkata sambil menyeringai
"Mau diperiksa?"
Lalu detik selanjutnya dia mulai menyerang dan memakan diriku.
Ya tuhan, amit-amit. Aku langsung menepuk kepalaku berkali-kali, menghilangkan khayalan gila yang barusan melintas di kepalaku.
Tiba-tiba Leah berteriak pelan, membuat kami langsung memandang cemas ke arahnya. Leah menepukkan tangan kanannya yang terkepal berkali-kali ke telapak tangan kirinya, membuat gestur menemukan ide.
"Bukankah kita hanya perlu bekerja sama untuk membunuhnya? Jason, kau bisa menembak bagian depan dan telinga kanan. Sedangkan aku bisa menembak bagian belakang dan telinga kiri"
Ucap Leah riang. Dia lalu memandangku dan Selena
"Sedangkan Nelsie dan Leah bisa menembak kakinya dan kaki zombie lain kalau mendadai ada serangan. Setidaknya memperlambat gerakan mereka"
Mendengar penjelasan Leah membuat aku dan Selena langsung ikut tersenyum dan merasa lega. Kami hanya perlu bekerjasama, membunuh para zombie sambil menemukan tempat terdekat. Walaupun dalam sudut hatiku, aku menertawakan pemikiran positif kami yang terlalu berlebihan. Melawan zombie transisi saja kami sudah kewalahan, apalagi para deathster?.
Jason memandang ekspresi riang kami dengan tatapan datar. Dia lalu menggelengkan kepalanya, seakan mematahkan kebahagiaan yang baru saja kami rasakan
__ADS_1
"tembakan di kaki tak akan terlalu lama memperlambat mereka. Berbeda dengan zombie transisi dan zombie asli yang butuh waktu lama agar bisa kembali bergerak ketika kaki mereka tertembak, para deathster hanya membutuhkan waktu sebentar, tak sampai 3 menit"
Ucapnya menjadi bom atom di telinga kami.