Mr. Zombie

Mr. Zombie
Gotcha! Aku Temukanmu (5)


__ADS_3

"Kau tahu Jas, gue curiga sama elo"


Entah apa yang merasukiku sampai aku melontarkan peryataan itu begitu kami sampai di tempat peristirahatan.


Jason memandangku sebentar, lalu kembali fokus mengawasi kondisi sekitar.


"Gue tahu"


Jawabnya tanpa melihat ke arahku.


Aku memandang Jason tak percaya


"Lo tau?"


Tanyaku kaget.


Jason menganggukkan kepalanya, lagi-lagi tanpa repot-repot melihat ke arahku.


"Gue tau Nels, sekalipun lo kelihatan diam dan tenang, tapi sebenarnya diantara semua, elo lah yang paling curiga dengan gue"


"Dari cara lo natap gue, sampai cara lo bersikap. Kecurigaan terlihat jelas di diri lo"


Jawabnya datar.


Aku terdiam begitu mendengar jawaban Jason, mengingat-ingat lagi sikapku selama ini kepadanya. Sepertinya aku tak pernah menunjukkan secara terang-terangan rasa curigaku kepadanya?. Sikapku juga biasa saja. Tidak canggung ataupun menatapnya dengan ekspresi curiga.


Jason menghela nafas, kali ini dia melihat ke arahku


"Lo tau Nels, gue sempat mendiskreditkan lo dulu"


Mataku membelalak, lalu berganti menjadi kesal begitu menyadari maksud mendiskreditkan Jason, apalagi kalau bukan soal otakku yang standar dan kemageran tingkat galaksi bima sakti milikku?.


Jason melanjutkan ucapannya


"Gue pikir elu lambat dalam berpikir dan memahami situasi. Tapi ternyata gue salah. Diantara semuanya elo lah yang paling cepat memahami apa yang terjadi sekalipun otak bebal lo memilih untuk tak memikirkannya pas kejadian dan baru memikirkan setelah lo ngerasa diri lo aman"


"Asal lo tau, sepanjang percakapan lo dan Leah tadi, gue sama sekali nggak tidur. Gue justru mendengarkan cerita kalian. Lo benar Nels, Sean dan sosok itu adalah dua orang yang berbeda. Sebenarnya gue juga belum yakin apakah Sean adalah deathster atau hanya zombie transisi yang masih bisa mengendalikan tubuhnya"


Jason mengerutkan alisnya begitu menyebutkan nama Sean.

__ADS_1


"Sikap mageran lo pun menurut gue bukan mageran biasa. Lo cuma mager dengan hal-hal yang merepotkan, dengan kata lain insting lo tajam. Tau yang mana menguntungkan dan mana yang merugikan buat elo"


Aku hanya terplongo saat Jason menyelesaikan ucapan panjangnya yang mirip gerbong kereta api. Otakku mencerna ucapan Jason, memahami maksud semua perkataannya.


Jason terdengar menghela nafas dan berjalan mendekatiku


"Dengan kata lain lo punya otak yang bagus dan insting yang kuat"


Dia memukul pelan kepalaku dengan ujung senapan.


"Ish"


Ringisku sambil mengelus kepala yang sebenarnya tidak sakit.


Jason tiba-tiba terdiam, terlihat mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya menarik nafas dalam-dalam dan berkata


"Securiga apapun diri elo ke gue Nels, percayalah gue nggak pernah bermaksud jahat ke elo semua. Gue cuma pengen kita selamat dan sama-sama keluar dari hutan ini"


"Perihal diri gue yang sebenarnya, gue pastikan gue bakal cerita ke kalian saat waktunya tepat"


Jason mengakhiri kalimatnya, memandangku dengan ekspresi penuh harap agar aku mempercayainya.


Jason lalu tersenyum, senyum pertama yang kulihat sejak bertemu dengan Jason


"Thank you, Nels"


***


Suara kicauan burung perlahan masuk ke gendang telingaku. Aku menggeliat, merenggangkan tubuh sambil sesekali berguling ke kiri dan ke kanan.


Gulingan tubuhku terhenti oleh sepasang tangan yang menghalangi jalurku berguling. Aku membuka mataku perlahan sambil bergumam


"Apaan sih mom, masih ngantuk nih"


kicauku asal, kembali menutup rapat-rapat.


Kebiasaan tidurku memang amburadul, bergerak kesana kemari, berguling-guling sebelum mataku bisa terbuka lebar. Biasanya ibukulah yang selalu siaga menghentikan gulinganku agar tubuhku tak terjatuh dari tempat tidur.


"Parah nih anak. Berasa di rumah ya. Bangun lo, Nels"

__ADS_1


Suara seseorang yang berbeda dari suara ibuku langsung membuatku membuka mata lebar-labar.


Ah, ternyata Leahlah yang menghentikan gulinganku. Dalam hati aku merasa sedih. Aku pikir apa yang kualami adalah mimpi dan sekarang sudah saatnya aku terbangun.


"Ayo mandi Nels"


Selena menarik tanganku, memaksaku untuk segera duduk.


Aku menguap sebentar sebelum mengikuti Selena dan Leah yang mulai berjalan menuju sungai. Sepertinya memilih tempat peristirahatan di dekat sungai adalah pilihan terbaik.


Tanpa sadar hidungku bergerak, mengendus aroma tubuhku untuk sekedar mengecek. Refleks hidungku menjauh begitu menyadari aroma tak sedap yang menampar-nampar hidungku. Efek dari banjir keringat setelah beberapa hari bermain petak umpet bersama para zombie.


Saat para zombie mengejar kami, aku sama sekali tak menyadari bahwa aroma tubuhku juga tak sedap. Tetapi mungkin karena bau yang dikeluarkan para zombie lebih kuat, aroma tubuh sendiri jadi tak terlalu terendus di hidungku.


"Jason, kemana?"


Tanyaku ketika menyadari tak menemukan Jason sedari aku membuka mata tadi.


Selena dan Leah kompak mengangkat bahu


"Entah, katanya ingin memastikan sesuatu. Terus dia ngilang deh"


Jawab Selena cuek.


Aku hanya menganggukkan kepala. Teringat kembali permintaan Jason agar aku percaya dengan dirinya sekalipun berbagai pertanyaan tentang dirinya belum bisa dia jelaskan.


Sepertinya Jason benar-benar tulus tentang ingin melindungi kami. Kalau tidak, buat apa dia bersusah payah berpatroli dengan porsi jam yang paling lama di antara kami berempat?.


Pikiranku langsung terasa segar saat melihat aliran sungai yang mengalir, tak terlalu deras juga tak terlalu tenang. Airnya bahkan sangat jernih, hingga aku bisa melihat bebatuan dan ikan-ikan kecil yang berenang di sela-sela batu.


Tanpa banyak bicara, kami bertiga langsung menyemplungkan diri, menikmati perasaan nyaman. Menghilangkan rasa gerah dan lengket yang sudah beberapa hari ini kami rasakan.


Sungai ini juga tak terlalu dalam, hanya sebatas lutut. Membuat siapapun akan merasa aman dan nyaman saat berendam. Sepertinya sungai ini masih satu aliran dengan sungai yang menjadi destinasi trekking di hari pertama camping sekolah. Ah, mengingat hal itu membuat rasa sedih kembali melanda hatiku.


Padahal pada saat itu kami masih bisa tertawa riang membahas tentang masa SMA yang segera berakhir. Membahas tentang pernyataan cinta yang teman-temanku rencanankan pada saat api unggun. Walaupun aku dengan santainya mencibir mereka, mengatakan bahwa mereka harus segera bangun dari mimpinya. Tentu saja guru-guru tak akan mengijinkan kami untuk melakukan aksi menyatakan perasaan secara massal.


Ah, sekarang aku harus mengakui bahwa aku merindukan tatapan sinis teman-temanku saat aku mencibir percakapan mereka. Kekesalan mereka bahkan pukulan mereka di kepalaku di saat aku selalu curi-curi waktu untuk tidur di saat mengerjakan tugas kelompok.


Aku bahkan merindukan ocehan abstrak Freya dan Lara tentang Sean. Sudut mataku jadi memanas begitu teringat kembali bagaimana kondisi Freya saat aku terakhir kali bertemu dengannya sebagai zombie, leher terkulai dengan bekas daging terkoyak akibat gigitan.

__ADS_1


__ADS_2