Mr. Zombie

Mr. Zombie
Gotcha! Aku Temukanmu (7)


__ADS_3

"Mom, Emma takut"


Seorang anak kecil menyembunyikan tubuhnya di balik sang ibu.


Wajahnya terlihat penuh ketakutan, memandang keluar kaca mobil yang kini dikerumuni oleh makhluk yang sangat mengerikan bagi Emma.


Organ tubuh mereka tak lengkap, ada yang kehilangan tangan, kaki, bahkan ada yang kepalanya hampir putus.


Emma semakin mengerutkan pelukan kepada ibunya, sementara sang ibu hanya bisa membalas pelukan sang putri dengan sama eratnya.


Tubuh Allisa bergetar hebat, memandang horor ke kaca yang semakin di gedor-gedor. Entah sampai kapan kaca ini mampu bertahan, mungkin sebentar lagi kaca ini akan pecah, memberi akses para zombie itu untuk masuk dan menyerang mereka.


Allisa terus berdoa di dalam hati, sesekali merutuki dirinya yang bisa berpikiran nekat untuk keluar dari rumah hanya untuk menemukan tempat aman. Sialnya lagi, mobil mereka malah mogok di tengah jalan.


Keringat dingin mengucuri dahi Allisa saat salah seorang zombie tiba-tiba membuka mulutnya, menggigit pundak zombie di sebelahnya hingga daging bahu zombie itu terlepas.


Seketika teriakan panik keluar dari mulut Allisa. Dengan panik dia menutup mata Emma sesegera mungkin, mencegahnya melihat aksi brutal yang terjadi langsung di depan mata mereka.


Para zombie yang ada di depan mereka perlahan mulai saling menyerang, tetapi tak sedikitpun beranjak dari sekeliling mobilnya.


Air mata Alissa benar-benar sudah kering sekarang, bahkan suaranya menjadi serak karena berteriak. Awalnya saat informasi mengenai keanehan yang terjadi di kota muncul, Alissa sama sekali tak mempercayainya.


Apalagi saat banyak stasiun televisi membeberkan bahwa keanehan di kota mereka terjadi akibat serangan zombie. Alissa bahkan tertawa mengejek saat menonton berita itu. Zombie kata mereka? Yang benar saja! Apakah orang-orang itu terlalu banyak membaca cerita?.


Tapi, tak butuh waktu lama, ejekan Alissa langsung berganti menjadi kepercayaan mutlak saat dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat zombie pertama kali menyerang area tempat tinggalnya. Dan dalam sekejap menularkan virus ini ke hampir seluruh warga.


Sore itu Alissa tengah berdiri di jendela, menikmati secangkir cokelat hangat yang memang sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Alissa adalah seorang penulis, dan aktivitas ini membuatnya bisa menemukan ide baru.


Rumah Alissa tepat terletak tak jauh dari persimpangan jalan, membuatnya leluasa menyaksikan apa yang terjadi di persimpangan jalan itu.


Alissa masih ingat saat matanya tak sengaja menangkap sosok seorang pria yang berjalan terhuyung. Alissa pikir itu hanyalah seorang pria yang tengah mabuk. Tapi, tiba-tiba pria itu berlari dan menerjang seorang pria lain yang tak lain dan tak bukan adalah tetangga Alissa.

__ADS_1


Mereka sempat bergumul di tanah, sebelum akhirnya tak ada pergerakan lagi dari tubuh tetangga Alissa. Alissa bahkan menekan nomor polisi untuk melaporkan ada perkelahian di dekat rumahnya.


Tapi, tiba-tiba HPnya merosot, bersamaan dengan gelas yang terjatuh dan menghantam lantai saat dia melihat tubuh tetangganya kembali bangkit, dengan dua daun telinga lepas. Darah bercucuran dari telinga hingga ke bajunya. Tetangganya lalu mulai berjalan terhuyung, membuat Alissa secara naluriah merasa terancam. Dia langsung berlari ke seluruh pintu dan jendela, menguncinya rapat-rapat lalu bersembunyi bersama putrinya di basemen.


Alissa tersadar dari lamunannya saat suara gedoran terdengar lagi, kali ini para zombie yang mengelilingi mobilnya bertambah banyak. Saat Alissa memutuskan untuk pasrah, tiba-tiba suara tembakan saling bersahutan terdengar. Dan para zombie, satu persatu ambruk ke tanah.


***


Diluar dugaan kami, ternyata Jason setuju setelah mendengar perkataan Selena. Membuat kami langsung bersorak kegirangan, mengakui betapa pesona wanita sangat mengerikan. Patut saja ada perkataan yang berbunyi Harta, Tahta, Wanita, cihuyy.


Jason dan Leah lalu berangkat ke sungai, sementara kami sibuk mempersiapkan api untuk membakar ikan.


Tak butuh waktu lama baginLeah dan Jason muncul kembali, membawa 4 ikan besar yang mereka masukkan ke dalam kantung plastik. Bahkan ikan itu juga sudah dibersihkan.


Aku dan Selena hanya bisa terpana melihat mereka. Wah, kemampuan mereka benar-benar tak bisa disepelekan. Hanya dengan tangan kosong dan waktu sesingkat ini mereka bisa menangkap ikan.


Kami langsung menyambut ikan itu dengan sukacita, memperlakukannya seakan benda berharga. Selagi menunggu ikan matang, kami bertiga mulai bergosip. Menggosipkan tentang bahan apa yang diperlukan untuk membuat ikan terenak sedunia.


Tak sengaja pandanganku tertuju ke arah Jason dan Selena. Saat ini Jason sedang sibuk mengipas ikan bersama Selena. Sesekali memastikan bahwa Selena tak terlalu banyak terkena asap.


"Benar-benar berasa obat nyamuk, yakan Nels?"


Bisik Leah dengan mulut dimanyunkan ke arah Jason dan Selena.


Kami hanya bisa menghela nafas secara bersamaan, memilih untuk mengabaikan adegan sinetron di depan kami dan mulai menari-nari tak sabar saat melihat warna ikan yang berubah, sepertinya sudah matang.


Benar saja, penantian penuh haru kami membuahkan hasil. Tak lama Jason mulai mengangkat ikan dan meletakkannya di atas kaleng makanan yang sudah kosong.


Kami langsung duduk melingkari ikan yang baru saja matang. Rasanya air mata bisa meleleh dari mataku hanya karena melihat ikan ini. Wajah Leah dan Selena pun tak kalah terharunya dengan wajahku. Seakan ini adalah makanan bintang 5 restoran mahal yang baru kami makan sekali seumur hidup.


Hanya Jasonlah yang tetap tenang. Dia lalu mendistribusikan ikan itu ke depan kami. Aku langsung meraih porsi milikku dengan tidak sabar, mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berucap

__ADS_1


"Oh ikan, my love, my darling"


Ucapanku lalu diikuti oleh Selena dan Leah, dengan meniru gerakan yang sama.


Sementara Jason hanya mengerlingkan mata melihat tingkah absurd kami.


Hanya dalam sekejap mata, ikan yang semula memiliki daging yang menggoda, kini hanya tinggal tulang. Aku memandang ikanku dengan tatapan tak rela, lalu beralih memandang iri ke arah Selena yang sedang melahap separuh ikan milik Jason.


Kalau kemarin Selena memaksaku untuk menerima makanan kalengnya, berbeda dengan hari ini. Dia bahkan langsung menolak tegas dan menyembunyikan ikan pemberian Jason di belakang punggungnya. Aku mendengus sebal, dalam hati menggerutu. Hah, ternyata persahabatan kami hanya sebatas ikan.


"Kalau sudah selesai cepat berberes, kita harus segera berangkat"


Perintah Jason dengan nada tak sabaran. Mungkin dia sedikit terganggu dengan ekspresi lebay kami yang terlihat tak rela berpisah dengan ikan yang kini hanya tinggal tulang.


Setelah mendapatkan tatapan membunuh dari Jason, akhirnya kami menyerah. Melepaskan tulang ikan kembali ke alam lepas dengan mata berkaca-kaca.


Oh ikan, cintaku, bye-bye. Semoga aku bisa memakanmu kembali secepatnya.


Kami lalu berberes, mematikan api dan menyiramkannya dengan air. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal kami kembali berjalan membelah hutan dengan senjata di tangan.


Jasonlah yang paling terakhir melangkah di antara kami. Dia terlihat memandang sisa api sebentar, sebelum akhirnya menyusul kami dengan ekspresi tak nyaman tergambar jelas di wajahnya.


***


Seorang pria perlahan berjalan, melewati satu persatu pepohonan. Kakinya berhenti tepat di lokasi dengan bekas pembakaran yang masih baru. Tempat itu tak lain dan tak bukan adalah tempat peristirahatan Jason dan teman-temannya.


Pria itu berjongkok, menyentuh sisa pembakaran, mengendusnya sebentar. Langkahnya lalu berlanjut menuju sisa tulang yang masih tersisa di tanah.


Tangannya meraih salah satu tulang, mengendusnya berkali-kali sebelum akhirnya menyeringai, menampilkan ekspresi yang seakan berkata


'Gotcha! Aku temukanmu.

__ADS_1


__ADS_2