
Lelah!!!
Aku benar-benar ingin berteriak sekarang. Rasanya kakiku sudah mati rasa, tak memiliki sambungan sedikitpun dengan tubuhku.
Bayangkan saja, berjalan selama 5 jam dan hanya beristirahat selama 10 menit, siapa coba yang nggak lelah?.
Leah menepuk bahuku berkali-kali dengan kekuatan penuh. Membuat pikiran lelahku langsung teralihkan dari rasa lelah berganti dengan rasa sakit di bahuku.
"Pakai senapan kalau perlu mukulnya"
Gerutuku sambil mengelus bahu.
Leah tertawa pelan, membentuk huruf V di jarinya
"Habisnya kalau nggak digituin bisa-bisa lo bakal ketiduran sambil jalan Nels saking capeknya"
Ucapnya memberikan alasan.
Aku hanya memutar bola mata jengah dan fokus kembali berjalan. Cara Leah sebenarnya cukup efektif, toh pikiranku berhasil teralihkan ke rasa sakit di bahuku.
Tapi kalau terus-terusan begini, yang ada sendi tanganku akan berger, malah patah sekaligus, tapi bukan karena zombie, melainkan karena ulah Leah. Tsk tsk tsk, ternyata ada yang lebih berbahaya daripada zombie.
"Kita nggak istirahat?"
Tanyaku penuh harap kepada Jason.
"Nggak"
Jawab Jason tegas dan cepat, tanpa membiarkan aku melancarkan rengekanku.
Aku memanyunkan bibir, terpaksa berjalan dengan bahu terkulai. Sementara Selena hanya memandangku sekilas, mengepalkan tangannya untuk memberi semangat, lalu kembali berjalan dan menatap lurus ke depan.
Wah, Selena benar-benar berubah total hanya dalam waktu beberapa hari kami terjebak oleh para zombie. Biasanya Selena tak akan tega melihatku merasa lelah, dia pasti akan ikut meminta Jason agar beristitahat sejenak. Hiks, kembalikan Selenaku yang dulu!.
"Tahanlah Nels, sedikit lagi kita keluar hutan"
Ucap Leah menggebu-gebu, sepertinya mencoba menaikkan semangatku.
Aku hanya menganggukkan kepala, tak ikhlas. Sedari 2 jam lalu Leah menyemangatiku dengan kata-kata yang sama, bahwa kami sedikit lagi berhasil keluar dari hutan.
Coba bayangkan, berapa jarak sedikit lagi yang Leah maksud hingga setelah 2 jam pun berjalan, kami belum juga menembus batas hutan.
Leah ini benar-benar mencerminkan ibuku, yang sangat doyan mengatakan sedikt lagi dalam berbagai hal.
Misal saat makan, ibu akan berkata
"Ayo sedikit lagi habis tuh"
__ADS_1
Padahal masih ada tiga perempat porsi lagi di piringku.
Atau saat menemani ibu belanja, ibu akan berkata
"Sedikit lagi Nels, setelah menemukan barang terakhir kita pulang"
Tapi setelah 3 jam berlalu, kami masih berada di pusat perbelanjaan.
Ah, tiba-tiba aku jadi rindu ibuku, sedang apa ya dia sekarang?. Apakah keluargaku aman dan terlindungi dari para zombie?. Aku lalu merogoh sakuku, mengeluarkan smartphone dan mulai mengecek keberadaan sinyal.
Tapi nihil! Smartphoneku sama sekali tak menunjukkan adanya jaringan, membuat harapanku untuk segera mendapat bantuan sekaligus menghubungi keluargaku pupus.
Jason sepertinya menyadari tingkah konyolku dan berkata "Sekalipun lo cek sampai sapi bertelur, lo tidak akan menemukan sinyal di sini.
Aku hanya mesem-mesem saat mendengar ucapan Jason. Ya, berharap nggak ada salahnya kan?.
Leah dan Selena yang melihat ekspresiku langsung terkekeh.
Kami lalu melanjutkan perjalanan dengan suara desahan lelah tiada akhir dan rengekan dari mulutku.
"Oke, kita istirahat disini"
Perkataan datar Jason berubah menjadi lagu yang merdu di telingaku. Membuatku hampir saja menari kegirangan karena akhirnya doaku dalam hati di dengar tuhan.
Aku langsung menjatuhkan tubuhku ke tanah, meneguk minuman yang seketika mendinginkan tenggorokanku. Bahkan bersender di pohon dengan beralaskan tanah saja bisa membuatku merasa sebahagia ini, apalagi kalau seandainya aku jumpa kasur sekarang?, mungkin berasa menemukan surga!.
Aku menerima pemberian Jason dengan tangan menengadah, seakan sedang menunggu sumbangan. Memang sumbangan sih, sumbangan tenaga.
"Bahagia banget sih Nels kalau jumpa makanan"
goda Leah sambil menoel bahuku.
Aku tak menggubris ucapan Leah, tetap fokus dengan makanan di depanku. Memasukkannya ke mulut secara perlahan, sambil menggigit dengan penuh khidmat.
"Hantu makanan"
"Makanan is my life"
"No makanan, no life"
Tak kupedulikan suara ejekan yang disusul dengan suara tawa Leah dan Selena saat melihatku makan. Bahkan sudut bibir Jason ikut terangkat.
Terserah deh mereka mau berkata apa. Bagiku makan dan rebahan adalah hal yang esensial dalam hidupku.
Jason lalu berdiri, menepiskan kotoran yang menempel di pantatnya.
"Kita cuma punya waktu 3 jam sebelum langit menggelap"
__ADS_1
Ucap Jason mengingatkan kami. Lebih tepatnya bukan kami, tapi lebih kepadaku yang masih menikmati makanan alakadarnya di mulutku.
Ucapan Jason membuatku langsung menghentikan acara makanku dengan khidmatku, berganti dengan gerakan barbar dan cepat. Memasukkan makanan itu ke mulut dan mulai mengunyah tanpa ampun.
Jason akhirnya menambah waktu istirahat selama 10 menit. Itupun setelah aku merengek kepada Jason terus-terusan agar waktu istirahat sedikit di tambah.
Mungkin tak tahan dengan rengekanku, Jason akhirnya menyerah dan menambah lagi waktu istrahat kami.
"Ini 10 menit terakhir Nels, jangan tambah lagi atau kau bakalan di susul deathster sebentar lagi"
Aku langsung mrngangguk riang.
"Jangan tidur!"
Ultimatum Jason saat aku baru saja ingin rebahan sejenak, membuatku langsung mendudukkan kembali tubuhku yang sudah setengah berbaring.
"Sabar Nels, sabar. Sedikit lagi"
Leah lagi-lagi mengulangi mantra keramatnya di telingaku.
"Sedikit lagi yang lo maksud sebenarnya berapa sih? 100 km?"
Tanyaku sebal.
Leah hanya menimpali pertanyaanku dengan tawa.
"Atau lo mau gua gendong?"
Aku langsung memandang galak ke arah Jason. Sudah jelas dia mengatakan pertanyaan ini dengan maksud terselubung, bukan murni bertanya karena menawarkan bantuan.
Apalagi namanya selain punya maksud terselubung?. Jelas-jelas dia sudah menanyakan itu beberapa kali dan selalu ku jawab dengan gelengan kepala.
Dalam hati aku mulai membaca mantra saat Jason mengisyaratkan untuk kembali berjalan. Berkali-kali mengulangi mantra Leah yang sejak 2 jam tadi menipuku
"Sedikit lagi, sedikit lagi, sedikit lagi"
***
Seorang pria memandangi sekelompok orang yang terdiri dari 3 wanita dan 1 pria dengan mata penuh jenaka. Tubuhnya di senderkan ke batang pohon, menyaksikan dari jauh bagaimana mereka makan dengan tenang.
Tanpa sadar menjilat bibirnya yang menghitam saat aroma yang berhasil menuntunnya kesini kembali tercium jelas di hidungnya. Pria itu sempat kesal sebelumnya saat aroma harum ini sedikit memudar tadi pagi.
Tapi, aroma menggoda ini benar-benar luar biasa. Sekalipun hanya samar-samar, tetap saja dia bisa dengan tepat menebak ke arah mana kakinya harus melangkah.
Seringaian kembali mencul di wajah pria itu, menampilkan gigi runcing dengan noda kemerahahan yang menggumpal. Seringaian yang bisa membuat orang bergidik ngeri. Jari telinjuknya lalu terangkat, bergerak berulang kali menunjuk satu persatu, seperti sedang menentukan pilihan antara keempat orang itu.
Hmm... Jadi, yang mana pemilik aroma harum ini?.
__ADS_1