Mr. Zombie

Mr. Zombie
Deathster (2)


__ADS_3

Deathster?


Aku mengulangi perkataan Jason di dalam hati. Jadi sosok yang kami lihat tadi adalah Deathster?.


"Apakah.... Dia berbeda dengan zombie?"


Tanya Selena dengan suara bergerar.


Dengan susah payah aku menelan ludah saat lagi-lagi auman itu terngiang di telingaku. Aku mengusap-usap telingaku lagi. Ya tuhan! Ada apa dengan telingaku sebenarnya?.


Jason mengangguk, dia lalu berjongkok dan mulai mengemasi barangnya


"Ayo bergerak terlebih dahulu, sebelum deathster berhasil menemukan jejak kita"


Ucap Jason sebelum akhirnya diam, menggantung penjelasannya.


Mau tak mau kami terpaksa menuruti perintah Jason. Kalau benar kata Jason deathster berbeda, sudah pastilah dia lebih berbahaya dari zombie biasa.


Leah terlihat masih mengepalkan tangan, terlihat tak puas dengan penjelasan Jason yang menggantung. Tapi aku dan Selena langsung merangkul bahunya, mengajaknya berberes agar tinjunya tak melayang lagi ke tubuh Jason.


"Ayolah Leah. Kalau kita nggak bergerak sekarang, bisa-bisa kita berakhir di dalam mulut deathster nanti"


Ucapku setengah bercanda yang hanya di respon Leah dengan helaan nafas berat.


Dia akhirnya ikut berberes bersama kami, mengisi peluru ke dalam senapannya.


Tiba-tiba gerakan tangan Leah terhenti, seperti teringat sesuatu, dia lalu meraih makanan miliknya yang masih separoh di makan dan menyodorkannya kepadaku.


"Buat lo aja"


Ucapnya tanpa melihat ke arahku.


Aku langsung menggelengkan kepala kuat-kuat, dalam hati merasa malu karena Leah menyadari diriku yang masih bisa makan dengan nyaman dalam kondisi seperti ini.

__ADS_1


"jangan malu-malu Nels, gue denger barusan perut lo keroncongan"


"Lagian gue yakin ini kali pertama lo ngeluari energi besar dalam hidup lo. Jadi lo lebih butuh nutrisi daripada gue"


kali ini dia memutar tubuhnya, berhadapan denganku. Senyum tipis terbentuk di sudut bibirnya, sekalipun ekspresi marah masih tersisa di wajahnya.


Seketika pipiku memanas. Aku pikir tak ada yang mendengar suara konser cacingku yang berbunyi bersamaan dengan tinju Leah yang tadi mendarat di wajah Jason. Dasar cacing perut tak tahu malu.


Akhirnya aku menerima makanan yang Leah berikan. Memakannya dengan perasaan takjub dan bahagia. Bahkan Leah seakan bersinar di mataku, persis seperti bidadari. Oh makanan, my love, come to mama.


Melihat Leah memberikan porsi makanan kepadaku, Selena ikut menyodorkan miliknya. Membuatku langsung menggeleng cepat. Selena terus memaksa agar aku mengambil miliknya. Tapi tentu saja aku tidak mau. Selena dan aku adalah spesies yang tak jauh berbeda jika sudah di depan makanan, sama-sama gila.


Melihat kekeraskepalaan Selena membuat aku terpaksa berpikir keras agar aku tak perlu menerima makanan darinya. Aku menerima uluran tangan Selena, senyum ceria terkembang di wajahnya. Lalu dengan gerakan cepat memasukkan makanan ke dalam mulutnya begitu dia membuka mulut ingin mengatakan sesuatu.


"Nels.."


Gumamnya sebal begitu kunyahannya selesai dan sukses dia telan.


Aku hanya nyengir kuda, menepuk bahu Selena pelan berkali-kali.


Ucapku yang ditanggapi Selena dengan bibir manyun.


Lagian nih si Selena gaya-gayaan sok ngasih aku, jelas-jelas dia terus menatap ke arah makanannya walaupun dia menyodorkan makanan secara paksa ke tanganku. Dasar, Selena, Selena.


Kami lalu mengikuti langkah Jason setelah semua persiapan selesai. Suara binatang yang samar-samar menjadi satu-satunya yang menemani kami sepanjang perjalanan. Apalagi langit senja mulai muncul membuat pencahayaan semakin minim.


***


Seorang pria berjalan perlahan, mendekati sebuah lokasi yang tanahnya berbekas, seperti ada yang sudah duduk di sana. Tubuhnya membungkuk, mengendus tanah yang terlihat ada sisa makanan berserakan.


Setelah puas mengendus, pria itu kembali berdiri, memandang jauh ke depan. Terkesan tak tentu arah, tapi sebenarnya dia sudah memfokuskan titik pandangannya ke satu arah. Memburu pemilik aroma harum yang membuatnya bersemangat


***

__ADS_1


Saat langit benar-benar gelap, barulah kami mencapai lokasi yang menurut Jason ideal, yaitu sebuah tempat terbuka yang tak banyak di tumbuhi pohon. Lokasi tempat kami memutuskan untuk bermalam terletak tak jauh dari hutan. Jason bilang kami butuh membersihkan diri secara sungguh-sungguh, tak tahu apa alasannya.


Karena hari sudah malam, kami memutuskan untuk menunda kegiatan bersih-bersih menjadi besok pagi setelah mendapat persetujuan Jason.


Begitu selesai mengatur posisi tidur dan meletakkan barang-barang, kami langsung mengelilingi Jason, menodongnya untuk melanjutkan cerita yang sempat terputus perihal deathster.


Seperti sudah menduga bahwa dia akan diinterogasi, Jason hanya bisa duduk dengan tenang, mempersilakan kami untuk lebih mendekat dan mulai menjelaskan.


"Deathster sangat berbahaya"


Jason memulai penjelasaanya.


"Deathster adalah zombie yang sudah beradaptasi"


Kami sontak saling berpandangan, tak mengerti dengan apa yang Jason katakan. Bukankah Jason bilang para zombie baru tidak punya kendali penuh terhadap tubuhnya walaupun masih bisa merasakan sekitar?.


Tapi kenapa sosok yang memandang kami dari balik pepohonan itu justru terlihat sangat bisa mengendalikan tubuhnya. Aku merinding mengingat bagaimana dia menyandarkan diri di pohon dengan seringaian begitu selesai mengaum.


"Beradaptasi? Maksudnya?"


Jason melipat tangan di depan dada


"Ya, beradaptasi. Maaf kalau gue belum cerita masalah ini ke kalian. Alasannya karena deathster ini masih asumsi yang sedang dibuktikan lebih lanjut oleh pusat penelitian. Dan seharusnya seseorang menjadi deathster setelah beberapa minggu menjadi zombie. Karena untuk menjadi deathster biasanya harus memiliki kecerdasan tinggi dan daya tahan tubuh yang kuat. Gue nggak menyangka kita harus ketemu deathster di hutan ini"


Ucap Jason dengan sedikit nada kesal terdengar di suaranya. Sepertinya Jason juga baru pertama kali menghadapi deathster ini, sehingga dia merasa frustasi dan kesal.


Aku memandang Jason dengan tatapan curiga, teringat bahwa dia belum menjelaskan apa yang dia maksud dengan beradaptasi. Selain itu ada satu hal lain yang mengganjal pikiranku. Yaitu soal auman yang lagi-lagi terngiang di kupingku, entah sudah keberapa kalinya dalam seharian ini.


"Tolong lebih detail soal adaptasi, Jason"


ucapku tak sabaran.


Jason memandangku sejenak dan kembali menjelaskan. Sebenarnya para zombie punya tingkatan tersendiri. Ada zombie transisi yang seperti kami lihat saat di tenda, zombie seutuhnya yaitu para zombie yang tidak disuntikkan vaksin penawar lebih dari 1 minggu sejak tertular virus. Dan yang terakhir sekaligus paling parah adalah deathster, jenis zombie tertinggi yang punya kekuatan di luar nalar.

__ADS_1


Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh para deathster adalah kemampuan mereka dalam mengendalikan zombie di bawahnya. Para deathster juga bisa meningkatkan level kekuatannya dan daya pikirnya dengan cara memakan nuklei otak sesama deathster.


Para deathster tetap tak bisa mengendalikan rasa kanibalnya sehingga mereka tetap punya keinginan untuk menggigit, tapi tak seperti zombie biasa.


__ADS_2