
Sebuah mobil jeep terus berjalan lurus, menembus berbagai tubuh yang menghalangi jalannya. Si pengemudi terlihat begitu tenang saat badan mobilnya menabrak beberapa zombie yang berkeliaran di jalan.
Sudah 6 hari pasca wabah zombie melanda kota. Dalam sekejap kota ini berubah menjadi kota para zombie. Hanya merekalah yang berkeliaran di jalan sedangkan para manusia hampir rata-rata bersembunyi. Entah sampai kapan mampu melindungi diri dari para zombie yang siap sedia berburu.
Mobil jeep itu terus melaju hingga akhirnya memasuki jalanan yang lengang. Hanya ada pepohonan di kiri dan di kanan, tanpa ada satupun rumah.
Setelah memastikan tak ada zombie lagi di sekitarnya, pria itu menepikan mobilnya. Mengeluarkan sebuah layar berbentuk kartu dari kantung bajunya.
Matanya fokus mengamati koordinat yang terpampang di layar dan berapa jauh lagi jarak yang dia butuhkan untuk mencapai lokasi yang dia tuju.
Pria itu adalah A1. Setelah tubuhnya kembali normal seperti biasa, Alfonso segera memerintahkan A1 untuk melaksanakan tugasnya yang tertunda, yaitu mencari dan melindungi Jason.
A1 mencocokkan estimasi di layar dengan jam tangannya, mengaktifkan alarm, memastikan kecepatan yang dibutuhkan agar waktu sampainya sesuai dengan yang tertera di layar
***
"Sepertinya kita bisa nih nangkap ikan dari sungai. Lumayan, bisa dijadikan ikan bakar, walaupun pasti rasanya hambar"
Usul Leah ditengah-tengah akivitas berendam kami.
Entah kenapa, berendam di sungai ini menjadi kemewahan tak ternilai bagi kami. Sedari tadi senyum sumringah tak henti-hentinya tersungging di bibir kami.
Padahal dulu aku paling malas mandi di sungai karena tak tahan dingin. Tapi saat ini rasa dingin yang kurasakan sama sekali tak mampu memghentikanku untuk berendam sepuas-puasnya di sungai ini.
Aku tertawa terkekeh saat mendengar usulan Leah. Siapa pula yang mau mencari ikan di sungai?. Bisa sih kami menyuruh Jason. Tapi bukankah Jason bilang kami harus segera berangkat begitu selesai bersih-bersih dan sarapan?.
"Memangnya Jason ngijini? Bukannya dia bilang kita harus segera berangkatnya?"
Tanya Selena.
Dia sebenarnya setuju dengan usulan Leah. Beberapa hari ini mereka hanya memakan makanan kaleng. Tentu saja daging segar menjadi godaan tersendiri untuk kami, bahkan aku tanpa sadar menelan ludah saat membayangkan ikan yang dibakar.
Akhirnya logika kami dikalahkan oleh rasa rindu daging segar yang menggebu-gebu. Mungkin orang akan berpikir kami lebay, tapi kalau kau menghadapi serangan zombie dan punya stok makanan terbatas, pastilah kau akan mengerti bagaimana rasanya merindukan daging segar. Walaupun baru beberapa hari sih kami terpaksa memakan makanan kaleng.
Kami sepakat untuk memaksa Jason untuk menangkap ikan, tentu saja di bantu oleh Leah. Sedangkan Selena bertugas memasak, dan aku, sudah pasti menjadi penonton sambil tiduran, hahaha.
__ADS_1
"Kalian sadar nggak sih?"
Selena tiba-tiba bertanya, terlihat serius. Tawa akibat membayangkan konspirasi ikan yang akan kami lancarkan sudah menghilang dari wajahnya.
"Kalau para zombie berbeda dengan yang ada di film-film? Apalagi soal deathster"
Lanjut Selena sambil sesekali mencipratkan air ke sembarang arah.
Aku dan Leah terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Apa yang dikatakan Selena benar. Melihat zombie di film dengan menghadapinya langsung di dunia nyata benar-benar berbeda.
Bahkan aku tak pernah menyangka bahwa zombie akan memiliki tingkatan dan level tertentu. Semakib tinggi maka akan semakin berbahaya.
Leah lalu keluar dari sungai, mulai mengeringkan tubuhnya, menyudahi ritual mandi miliknya. Sementara aku dan Selena memilih untuk berendam lebih lama.
"Gue juga mikir gitu. Apalagi gue pecinta film action, dan film zombie jadi salah satu pilihan utama tontonan gue. Mulai dari Train to Busan, Resident Evil.."
Leah mulai menyebutkan satu persatu judul film zombie yang pernah dia tonton.
"Gue pikir kalau gue jadi tokoh di film zombie, gue yakin bisa bertahan. Apalagi dengan kekuatan fisik dan kemampuanku dalam menembak"
"Tapi semua salah. Kenyataannya gue sedikitpun nggak percaya diri kalau gue bisa bertahan sampai akhir"
Tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku, menyetujui ucapan Leah. Dia yang punya kemampuan fisik di atas rata-rata saja tak percaya diri, apalagi aku yang serapuh kertas A4? Bertahan sampai akhir sepertinya suatu kemustahilan untukku.
"Jujur, gue benar-benar takut"
Ucap Selena lagi
"Kalau seandainya di tangan gue ada vaksin, mungkin gue nggak bakal setakut ini"
Aku dan Leah kompak menghela nafas. Tentu saja kalau ada vaksin mungkin kami bisa bernafas lebih lega. Tapi bukankah dengan adanya vaksin justru akan membuktikan betapa egoisnya kami?. Kami hanya akan menyembuhkan diri kami sendiri dan mengabaikan teman-teman lain yang juga terinfeksi.
"Tapi, bukankah yang bisa kita lakukan sekarang adalah menatap ke depan?. Ayolah! Semangat!"
Aku mencipratkan air ke arah Selena dan Leah, mencoba menghilangkan atmosfer berat yang tercipta di antara kami.
__ADS_1
Selena menerima cipratan air dan membalasku dengan ikut mencipratkan air. Sedangkan Leah langsung menghindar sambil menggerutu.
Hah, disaat seperti ini, menjaga semangat dan kewarasan adalah hal yang sangat penting. Jadi, bukankah menjaga diri dari pikiran buruk adalah hal yang kami butuhkan saat ini?.
Lagi-lagi suara dengingan dan auman rendah kembali terngiang di telingaku. Aku langsung memegang telinga, menggosoknya, sambil mengumpat di dalam hati. Disaat begini telingaku malah mengalami hal ini. Aku menduga bahwa apa yang kurasakan di telingaku adalah kombinasi antara rasa syok saat mendengar auman deathster dan serangga yang mungkin masuk ke dalam telingaku saat tidur semalam.
Leah dan Selena sebenarnya menyadari ekspresiku saat mendengar suara itu. Tapi aku langsung menyiram air lagi ke arah mereka, membuyarkan pertanyaan yang siap keluar dari mulut mereka, berganti menjadi gerutuan kesal.
***
"Apa?"
Jason memandang kami satu persatu dengan ekspresi tak percaya.
"Kalian memintaku untuk menangkap ikan?"
Tanyanya dengan alis berkerut.
Kami langsung mengangguk serempak. Aku dan Leah mendorong tubuh Selena ke depan, memaksanya menjadi juru bicara agar Jason mau menerima usulan kami.
Selena langsung melemparkan tatapan tajam ke arah kami berdua. Sepertinya dia tak terima kami menjadikan tumbal demi meraih tujuan kami. Padahal tadi Leah sudah berjanji bahwa dialah yang akan memberitahu Jason, bahkan jika harus menggunakan kekerasan sekalipun.
Selena menghela nafas, sepertinya sudah menerima takdirnya sebagai juru bicara kami. Dia lalu memandang Jason lekat-lekat sambil menganggukkan kepala
"Iya"
Jawabnya singkat.
Aku langsung melayangkan cubitan pelan ke perut Selena, membuatnya meringis pelan. Tentu saja tindakan Selena salah. Disaat seperti ini dia seharusnya mengeluarkan jurus sejuta umat, apalagi kalau bukan rayuan.
Selena mendengus kesal, dirinya sama sekali tak ahli dalam hal bertingkah imut.
"Gue pengen makan ikan segar. Lagian setelah ini belum tentu juga kita bisa makan makanan segar"
Lanjutnya dengan ekspresi cuek, khas Selena.
__ADS_1
Lagi-lagi cubitan mendarat di perut Selena, tapi kali ini bukan hanya dariku tapi juga dari Leah.