Mr. Zombie

Mr. Zombie
Gotcha! Aku Temukanmu (2)


__ADS_3

Tetapi kekeraskepalaan Caylon membuat pusat penelitian terpaksa menyetujui hubungan Caylon dan Thea. Tapi bukan pusat penelitian Christoff namanya jika mereka tak bisa mendapatkan apa yang mereka mau.


Mereka lalu memanipulasi Caylon. Membuat dia menyuntikkan cairan antigen yang sudah disiapkan oleh pusat penelitian untuk istrinya. Caylon pikir yang dia suntikkan adalah obat untuk menguatkan kandungan istrinya, tanpa dia sadari bahwa tangannyalah yang mengantarkan sang istri tercinta ke dekapan malaikat maut.


Caylon benar-benar murka, begitu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa mengenaskannya proses bersalin istrinya. Bersamaan dengan itu, dia juga mengetahui sisi gelap pusat penelitian yang selama ini tertutup rapat.


Kemarahan Caylon semakin menjadi-jadi saat dia mengetahui bahwa anaknya akan dibawa oleh peneliti dan dinamai objek nomor 13 sementara mayat istrinya hanya dikuburkan alakadarnya di belakang pusat penelitian.


Oleh sebab itulah Caylon melakukan berbagai cara untuk mengeluarkan anaknya dari pusat penelitian ini. Bahkan dia melakukan usaha terbaiknya agar keberadaan sang anak tak terendus sedikitpun oleh pusat penelitian ini. Hingga akhirnya Caylon dibunuh karena tak mau sedikitpun membuka mulut mengenai dimana keberadaan anaknya, bahkan dia mengancam akan melaporkan kebusukan pusat penelitian ini ke otoritas keamanan.


'Bermain bersih dan tak terendus'


Itulah motto pusat penelitian Christoff, jadi mereka membereskan masalah Caylon hingga ke akar-akarnya, bahkan hingga ke seluruh keluarga Ford.


Deo menghernyit saat mengenang kembali Caylon. Sebuah kisah cinta tragis yang bahkan mengalahkan Romeo dan Juliet. Dalam hati dia mendengus, siapa suruh bocah itu jatuh cinta dengan gadis yang sudah diincar oleh pusat penelitian ini? Sama saja cari mati namanya.


"Temukan objek nomor 13 segera. Stok vaksin sebenarnya mulai menipis"


Theo berucap tegas, masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya


"Para milyarder itu bahkan rela memberikan dua perempat asetnya hanya untuk 1 vial vaksin"


Mata Theo menerawang, membayangkan berapa banyak yang bisa mereka dapatkan. Tapi selain uang, ada hal lain yang membuat senyumnya semakin lebar. Apalagi kalau bukan kekuasaan?.


Kalau dia bisa memproduksi vaksin secara massal dengan menggunakan objek nomor 13, sudah pasti dunia berada di bawah cengkramannya. Orang-orang penting di dunia ini tentu akan merendahkan kepalanya, memohon belas kasihan Theo.


Perihal berbagai resiko untuk objek nomor 13 apabila dia digunakan untuk produksi vaksin, peduli setan!. Dia sama sekali tak peduli. Bahkan jika objek nomor 13 harus menahan sakit yang teramat sangat atau meninggal sekalipun, Theo tak masalah. Nyawa satu objek tak sebanding dengan nyawa seluruh umat manusia? Bukankah begitu prinsipnya?. Ya, walaupun Theo melakukannya untuk kekuasaan dan uang. Toh ujung-ujungnya dia akan menyelamatkan segelintir umat manusia. Win-win solution kan??.


***


Aku membolak-balikkan tubuhku dengan gelisah. Berapa kalipun aku berusaha memejamkan mata, tetap saja aku tak mampu memasuki alam mimpi.

__ADS_1


Ini kali pertama aku mengalami sulit tidur begitu parah di sepanjang hidupku. Biasanya, kapanpun aku menemukan lokasi untuk rebahan maka aku pasti bisa tidur dengan nyenyak, sekalipun di atas tanah.


Aku bahkan pernah tertidur di lapangan sekolah saat olahraga. Kami disuruh menonton pertandingan futsal antar kelas. Aku selalu beringsut mundur perlahan, lalu memilih kerumunan orang dengan tinggi di atas rata-rata. Kemudian aku dengan santai membaringkan tubuhku, tertidur hanya dengan beralaskan tangan sebagai bantal.


Ya tuhan, kalau begini aku benar-benar merindukan kehidupan SMAku yang tenang dan monoton. Nggak apa deh kalau aku harus berhenti membolos saat pelajaran olahraga. Tapi tolong kembalikan hari tenangku untuk rebahan.


Kalau sekarang aku rebahan saja, yang ada aku malah menjadi makanan bergilir para zombie. Aish, apa aku jadi zombie saja ya? Mana tau aku bisa menjadi seorang deathster yang baik. Ya walaupun melihat kemampuan otakku yang pas-pasan, tak mungkin untukku menjadi seorang deathster.


Seperti malam-malam sebelumnya, kami mengatur jadwal berjaga. Dan saat ini adalah jadwal Leah berjaga. Aku membalikkan tubuhku, menghadap Leah yang baru saja duduk setelah sedari tadi berdiri dan menyisir area sekitar tempat peristirahatan kami.


"Leah"


Panggilku pelan.


Suasana hutan yang sunyi membuat suara pelanku langsung terdengar oleh Leah. Dia lalu memandangku


"Hmm?"


"Lo.. takut?"


Leah menghernyitkan alisnya.


"Takut?"


tanyanya bingung.


Aku mengangguk


"Jujur, gue takut waktu mendengar penjelasan Jason tentang deathster. Gue benar-benar berpikir bahwa hari ini kemungkinan adalah hari terakhir gue bernafas"


"Deathster benar-benar mengerikan, kan?"

__ADS_1


Leah menjawab, wajahnya terlihat masam.


"Gue juga takut Nels, bahkan gue hampir pipis di celana saat gue dengar suara auman yang deathster keluarkan. Jujur gue mukul Jason juga untuk menghilangkan sedikit rasa takut gue, ya walaupun sebagian besar dikarenakan rasa kesal gue sih dengan info setengah-setengah dari Jason. Macam sendal jepit colongan aja"


Aku hanya tersenyum tipis saat mendengar candaan Leah di akhir penjelasannya. Sebenarnya aku juga ingin marah kepada Jason karena dia tak membeberkan informasi sedetail-detailnya tentang apa yang kami hadapi.


Sekalipun Jason bilang alasannya tak memberitahu kami adalah karena dia sendiri memang belum yakin perihal deathster ini, tetap saja dia seharusnya menjelaskan semuanya. Bahkan kemungkinan terkecil sekalipun, apalagi kemungkinan buruk seperti ini.


"Aku khawatir kalau ternyata di hutan ini, ada lebih dari satu Deathster"


Hawa dingin serasa menusuk tulang, membuatku merapatkan jaket.


Leah termenung mendengar pertanyaanku. Terlihat menimbang-nimbang apa yang akan dia katakan selanjutnya.


"Itu juga yang gue pikiri"


Ucapnya dengan nada horor yang tergambar jelas.


"Gue juga ngebayangin kalau seandainya ada lebih dari 1 deathster yang ada di hutan ini. Ngehadapi zombie transisi aja kita hampir babak belur, apalagi ngehadapi deathster? Lebih dari satu pula"


Apa yang Leah ucapkan seluruhnya benar. Sekalipun Leah dan Jason ahli menembak, tetap saja siswa kelas tiga di sekolahku jumlahnya lebih dari 100, belum lagi para guru yang ikut serta. Aku tak tahu apakah ada yang berhasil selamat. Tapi sepertinya hampir sebagian besar terkena gigitan dan berubah menjadi zombie.


Aku meringis saat mengingat jumlah sisa peluru yang kami punya bahkan tak sampai 100. Otomatis kami benar-benar harus berhemat hingga keluar dari hutan dan mencari bantuan.


Rasa syukur membanjiri diriku saat mengingat kembali gubuk tempat peristirahatan sementara para pemburu yang kami temukan. Kalaulah tak ada gubuk itu, pasti kami sudah bergabung bersama para zombie, membentuk lingkaran persatuan zombie sedunia.


"Leah"


Aku memanggil Leah lagi, teringat akan sesuatu yang dikatakan Selena kepadaku ketika kami selesai mengambil barang-barang yang diperlukan dari tenda.


"Menurut gue... Deathster di hutan ini lebih dari 1"

__ADS_1


__ADS_2