Mr. Zombie

Mr. Zombie
Bertahan Hidup


__ADS_3

Semuanya berlangsung cepat tanpa bisa terlebih dahulu kucerna. Tiba-tiba saja seseorang menarik tanganku dan Selena, membuat kami terpaksa berlari sekalipun masih dalam kondisi syok berat. Sayup-sayup bisa kudengar suara teriakan yang bercampur aduk, antara teriakan pilu dan teriakan buas.


"Fokus Lari, cari tempat aman"


Teriak salah seorang yang aku tak tahu siapa karena suasana benar-benar kacau.


Yang kami pikirkan hanyalah bagaimana caranya berlari secepat mungkin, menghindari kejaran makhluk yang seluruhnya adalah siswa di sekolahku. Bahkan saat aku melirik sekilas ke belakang untuk memastikan jarak kami, terlihat Freya ikut mengejar, dengan sebelah tangan yang sudah putus dari tubuhnya.


Beberapa kali Selena terjatuh, tapi seorang cowok berkaca mata tetap menuntun Selena sebelum akhirnya menggendong Selena di punggungnya. Kami akhirnya berhenti setelah tak ada satu suarapun terdengar, kecuali suara nafas kami yang terengah-engah.


"Hampir saja"


Cowok berkacamata itu menghela nafas lega, menurunkan Selena dari punggungnya. Tangannya sesekali terangkat, mencoba mencegah tubuh Selena yang masih terhuyung, gemetar dan lemas.


Aku? Jangan tanya. Kakiku sudah mirip seperti jelly, bahkan tubuhku gemetar hebat sedari tadi. Ini kali pertama di hidupku melihat tangan terobek, bahkan aku bisa melihat tulang yang menyembul dengan jelas, urat bercampir serabut daging, darah yang mengalir. Ya tuhan, rasanya aku ingin muntah.


"Itu tadi apa?"


Tanya seorang cewek sambil terengah-engah.


Mendengar pertanyaan itu membuat kami tersentak dari rasa syok. Aku dan Selena saling bertatapan, ekspresi bingung bercampur horor sangat jelas tergambar di wajah kami masing-masing.


"Sejenis Zombie"


tiba-tiba cowok berkacamata itu bersuara.


Dia lalu menarik nafas dalam-dalam, tangannya sesekali membenarkan posisi kacamatanya.


Zombie? Ya tuhan, yang benar saja. Walaupun menurutku apa yang dia katakan benar. Saat pertama kali melihat Lara yang bergerak secara aneh dan menerjang Freya, kata Zombie langsung melintas dipikiranku. Tapi, ada satu hal yang membuatku sanksi untuk menyuarakan pendapatku.


Jika zombie yang selalu ku tonton di film-film ketika tergigit akan langsung berubah, seperti hilang akal lalu menyerang manusia. Maka berbeda dengan Freya. Saat dia mengejar tadi, aku bisa melihat air mata mengalir di pipinya. Bukankah zombie tak bisa merasakan apapun? Kan mereka mayat hidup.


Seakan menjawab rasa penasaranku, cowok itu kembali melanjutkan ucapannya


"Virus LD, virus LivDeath"


Dia melanjutkan kalimatnya.


Kami lagi-lagi saling berpandangan. Aku menggaruk kepalaku yang tak terasa gatal sama sekali. Seumur-umur, belum pernah aku mendengar virus bernama 'LivDeath' bahkan di dalam game sekalipun.


"Nanti gue ceritain, sekarang ayo cari tempat aman"


Cowok berkacamata itu mulai berjalan, sebelum akhirnya berhenti sejenak dan memandang ke arah Selena


"lu bisa jalan? atau mau gue gendong lagi?"


Tanyanya tenang.


Wajah Selena langsung memerah, dengan cepat dia mengibaskan tangannya


"gue bisa jalan sendiri kok"


cowok itu menghernyit sebentar, sepertinya tengah menyelidiki kebenaran ucapan Selena sebelum akhirnya mengangguk


"Oke"


jawabnya singkat, lalu kembali berjalan.


Kami semua hanya bisa saling menatap dan mengikuti langkahnya. Suasana benar-benar hening, tak ada satupun yang berbicara. Hanya suara derap langkah kaki kamilah yang terdengar, membelah malam yang terasa sangat dingin.


"Nels"


Selena menggenggam tanganku erat-erat, sepertinya menyadari tubuhku yang masih sedikit gemetar.


"Lu takut?"


Tanyanya dengan mata memandang lurus ke depan. Entahlah, yang pasti aku masih sangat syok dengan apa yang terjadi barusan. Kalau takut, tentu saja. Siapapun pasti akan merasakan hal yang sama saat melihat adegan yang biasanya hanya terjadi di film-film, kini terpampang di depan mata. Apalagi melihat adegan penuh kekerasan seperti tadi.


Aku hanya menganggukkan kepala. Selena memandangku lagi, tapi tak melanjutkan pembicaraan, hanya semakin mengeratkan genggamannya.


"Ah iya, gue Leah"

__ADS_1


Ucap cewek yang sedari tadi berjalan bersama cowok berkaca mata. Sepertinya dialah yang menarik tanganku tadi, sedangkan tangan Selena ditarik oleh cowok berkacamata itu.


Cewek bertubuh tinggi dengan rambut cepak itu lalu berjalan tepat di samping Selena. Sepertinya nama dan wajahnya sudah tak asing di telingaku. Leah? hmm.. Leah... ah iya, kalau tidak salah dia adalah Leah Thomson, kapten tim basket putri yang skillnya bahkan melebihi personel tim basket putra.


"gue Selena, dan ini Nelsie"


Jawab Selena ramah, memperkenalkan diri.


Leah menganggukkan kepalanya, senyuman mulai mengembang di wajahnya


"Tau kok, lu berdua kan terkenal seantero sekolah"


ucapnya santai, membuatku dan Selena saling berpandangan bingung.


Kalau hanya Selena yang dia katakan populer, aku bisa maklum. Siapapun ketika melihat Selena, pasti akan senang ataupun jatuh cinta pada pandangan pertama. Wajah imut Selena antara perpaduan cantik dan manis dengan tubuh kecil, persis seperti seekor kucing yang menggelitik naluri melindungi orang-orang yang melihatnya. Sifat ramah dan baik kepada siapa saja semakin melengkapi kecantikan Selena. Tapi, aku populer? Sumpah, baru kali ini ada yang mengatakan bahwa aku populer di sekolah. Sebagai kaum mageran bin rebahan, kata populer sangatlah mustahil menggambarkan diriku.


"Princess dan Keong pemalas"


lanjutnya lagi.


Aku langsung mengerlingkan bola mata jengah. Yayaya, sudah ditebak, tentu saja kepopuleranku tak jauh-jauh dari kata mager. Leah tersenyum lagi sebelum memandang ke arah depan. Woahh, jika dilihat dari samping begini, Leah justru terlihat ganteng. Baru kali ini aku melihat seorang cewek bisa cantik dan ganteng sekaligus. Pantas saja saat valentine dia selalu mendapatkan cokelat banyak, baik dari laki-laki maupun perempuan.


"Percaya aja sama Jason"


ucapnya lalu memandang kami dengan ekspresi seakan siap menumpahkan sebuah rahasia


"Dia?" Tanyaku sambil menunjuk cowok yang fokus berjalan di depan.


Leah menganggukkan kepalanya.


"Gue dan Jason udah sahabatan dari dalam rahim. Ini rahasia sih, tapi kalian harus tahu. Ayah Jason adalah ilmuwan di pusat penelitian Christoff"


Aku dan Selena saling berpandangan. Pusat penelitian Christoff? Bukankah itu pusat penelitian elit milik milyuner Christoff yang bergerak di bidang produk biologi?. Dikotaku bahkan terkenal kapsul makanan yang bisa memberikan rasa kenyang dan nutrisi, tetapi yang mengkonsumsi tetap langsing dan sehat.


Leah menganggukkan kepalanya lagi lalu melanjutkan ucapannya


"Sejak kecil Jason udah biasa ngikutin ayahnya ke pusat penelitian, jadi ya kejeniusannya gak perlu di ragukan lagi"


Cukup jauh kami berjalan, hingga tak terasa kami sampai di sebuah gubuk kecil yang sepertinya sudah lama di tinggalkan.


"Syukurlah"


Kami bertiga sontak menghela nafas lega.


Jason memandang kami sejenak, dia lalu mengangkat tangannya, memberi kami isyarat untuk menunggu.


"gue cek dulu, kalian tunggu disini"


Kami serempak mengangguk. Jason lalu melangkah pelan, terlihat sangat hati-hati. Cukup lama dia berada di dalam sebelum akhirnya keluar dan memberi isyarat aman.


Sekalipun tampak tak terawat dari luar, gubuk ini justru sangat bersih dan cukup luas. Sepertinya memang gubuk yang digunakan untuk persinggahan sementara para pemburu. Bahkan di samping cerobong asap masih terletak beberapa kayu bakar yang diikat rapi.


Kami lalu menelusuri seisi rumah. Disudut ada sebuah kotak besar yang langsung membuatku hampir menari hula-hula saat menemukan stok makanan kaleng di dalamnya. Teriakan senang Selena juga terdengar saat dia menunjukkan isi lemari, ada banyak selimut dan bantal. Setidaknya cukup untuk menjadi tempat kami beristirahat.


"lihat yang gue temuin"


Leah menepuk bahuku lalu menunjukkan sesuatu yang dia jinjing. Mataku langsung membelalak saat melihat apa yang ada di tangannya. Senjata! Sepertinya gubuk ini benar-benar milik seorang pemburu.


"Oke, kita bisa istirahat disini"


Ucap Jason yang baru saja kembali masuk setelah melakukan sesuatu di luar gubuk.


Dia lalu bergerak menuju perapian, dengan sigap mulai memasukkan kayu dan menyalakan api, membuat rasa hangat mulai menjalar ke seisi ruangan. Setelah memastikan api menyala dengan sempurna, Jason lalu berjalan menuju lemari tempat Selena berdiri, membantu Selena yang kepayahan mengeluarkan beberapa kasur lipat dan membentangkannya di tengah ruangan.


Hening, suasana kembali hening. Tak ada yang bersuara. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menghangatkan diri. Otakku masih berusaha mencerna rentetan kejadian malam ini. Siapa sangka camping yang selalu ku kutuk sebagai camping petaka di dalam hati benar-benar berakhir petaka?. Tak pernah sedikitpun kubayangkan bahwa kami akan menghadapi kejadian mengerikan seperti ini. Tiba-tiba aku merasa bersyukur karena berhasil mengalahkan rasa magerku dan menemani Selena buang air kecil. Kalau tidak, mungkin aku sudah menjadi sasaran empuk yang paling pertama digigit.


"Jadi, itu tadi apa?"


Selena bersuara, memecahkan keheningan di antara kami.


Jason menatap Selena sejenak, lalu melemparkan selimut di tangannya, memberi isyarat agar Selena menyelimuti dirinya yang masih terlihat kedinginan.

__ADS_1


"Sebutannya tetap Zombie, hanya saja sedikit berbeda"


jawabnya.


Hening, saat ini mata kami bertiga hanya terfokus pada Jason yang masih menjeda kalimatnya.


"Tau pusat penelitian Christoff?"


Kami langsung mengangguk serempak. Jason mulai menceritakan secara detail. Pusat penelitian Christoff saat ini sedang mengembangkan sebuah virus yang bernama LivDeath, sebuah virus yang sebenarnya hanya menjangkiti hewan dan membuatnya menjadi kehilangan kendali tubuh dan memiliki kecendrungan kanibalisme dan bertindak brutal.


Pusat penelitian Christoff dikenal sebagai pusat penelitian yang berfokus menciptakan produk biologi yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya adalah pusat penelitian yang secara diam-diam juga mengembangkan senjata biologis. Mereka membuat senjata biologis, lalu membuat penawarnya untuk membuat siapapun musuh bertekuk lutut, mengemis agar bisa mendapatkan penawar dari senjata biologis yang mereka ciptakan.


Saat ini mereka sedang mengembangkan LivDeath sebagai senjata biologis sambil mencari penawarnya, dan ayah Jason terlibat dalam penelitian ini. Beberapa hari yang lalu, mobil pengangkut milik pusat penelitian Christoff yang mengangkut tubuh objek eksperimen mereka terguling di dekat hutan ini, membuat si objek eksperimen kabur dan masuk ke dalam hutan. Itulah alasan ayahnya menentang keputusan Jason untuk ikut di dalam camping.


"Jadi, kenapa lu masih ikut?"


Tanyaku penasaran.


Jason dengan tenang menjawab


"Ada seseorang yang harus gue awasi, karena gue nggak mungkin ngelarang dia untuk ikut"


Mendengar jawaban Jason, aku dan Selena mengangguk paham. Mungkin yang dimaksud Jason adalah Leah. Sebagai sahabat yang kata Leah sudah bersama sejak dalam rahim, tentu saja Jason ingin melindungi sahabatnya. Seketika aku merasa kagum dengan sifat ksatria Jason.


Sedangkan Leah tak terlalu menggubris ucapan Jason "lanjut dong, penasaran gue"


Aku dan Selena saling menatap lalu sama-sama menghela nafas. Sepertinya pikiran kami sama, yaitu mengasihani Jason yang sifat ksatrianya tak sedikitpun dihargai oleh Leah. Duh Jason, malangnya kamu nak.


Pria yang kami kasihani justru terlihat cuek dan kembali melanjutkan ceritanya. Orang-orang yang terinfeksi virus ini tak serta merta menjadi zombie utuh, mereka masih bisa merasakan sesuatu, hanya saja tak bisa melakukan apapun karena tak bisa mengendalikan tubuh mereka.


"pantas saja gue ngeliat Freya nangis"


Aku paham sekarang. Setelah mencocokkan dengan apa yang Jason ceritakan, aku menemukan alasan kenapa Freya menangis saat mengejar kami, seakan dia sedang meminta tolong untuk diselamatkan.


Jason mengangguk "Siapapun yang kena virus ini sebenarnya masih bisa merasakan dan memahami kondisi sekitarnya, tergantung daya tahan tubuhnya dalam menghadapi virus ini. Tapi ya begitu, percuma, mereka tak bisa mengendalikan dirinya. Dan..."


Jason terhenti sejenak, memandang ke arah api dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan


"Kalau dalam waktu 1 minggu mereka nggak disuntikkan penawar, mereka bakalan benar-benar jadi zombie dan kehilangan kendali total"


"Masih bisa sembuh?"


Kali ini Selena bersuara.


Dia meringkuk di balik selimut, merapatkan selimut di tubuhnya.


Jason mengangguk "Hanya saja sulit dan hampir mustahil. Lagian ketika menjadi zombie seutuhnya mereka bakalan lebih ganas. Potongan tangan yang kalian lihat tadi belum seberapa, masih banyak yang lebih ganas dari itu"


Aku termenung. Masih ada yang lebih ganas? Potongan tangan itu saja hampir membuatku menumpahkan isi perutku. Apalagi yang lain?.


"Lagian sembuh juga bakalan menyedihkan. Para zombie cendrung kanibal, bukan hanya ke manusia, bahkan sesamanya. Bayangkan berapa organ tubuh mereka yang bakal lepas"


Lanjut Jason.


Dia lalu mengisi kembali perapian yang mulai mengecil.


"Oleh sebab itu kita harus bertahan, menemukan jalan untuk kembali ke kota"


Kembali ke kota? Dengan berjalan kaki? Yang benar saja, belum jauh mungkin kami bakalan di terkam zombue terlebih dahulu. Menyadari kekalutanku, Jason langsung melanjutkan ucapannya


"Apalagi yang bisa kita lakukan selain berlari dan menyelamatkan diri?"


Tanyanya, menatapku dengan tatapan datar.


Apa yang Jason ucapkan benar. Apalagi yang bisa kami lakukan selain berlari dan menyelamatkan diri. Tidak mungkin kan pasrah menunggu para zombie menghampiri kami? Walaupun entah kenapa pikiran itu sempat terlintas di kepalaku. Mengingat betapa melelahkannya berlari, bukankah lebih baik menjadi zombie dan memastikan keutuhan anggota tubuhku sambil menunggu penawarnya?.


Tapi, ucapan Jason tadi membuatku bergidik ngeri, saat aku masih punya kesadaran, mungkin aku bisa berusaha keras menjaga tubuhku. Tapi, saat aku menjadi zombie seutuhnya? siapa tahu apa yang akan kulakukan.


Tiba-tiba aku teringat sesuatu. walaupun Jason terbiasa mengikuti ayahnya ke pusat penelitian, bukankah tak selayaknya informasi sebanyak ini bisa terdengar di telinganya.


Aku menyipitkan mata, memandang Jason yang kini melangkah menuju jendela dengan tatapan curiga. Sebenarnya, Jason ini siapa?

__ADS_1


__ADS_2