
Geraman Jason membuat jantungku berdetak 100 kali lebih cepat. mungkin inilah rekor detak jantung terbanyak sepanjang hidupku di muka bumi. Dengan sigap kami mengambil posisi, Jason di pintu depan berjaga-jaga sementara kami keluar melalui pintu belakang.
Tangan kami kini mengacungkan senjata, terlihat waspada mengamati sekitar. Jika Jason berada di paling belakang, maka Leahlah yang berada di depan. Memandangi punggung lebar dan pinggulnya yang ramping, membuatku bahkan di kondisi seperti ini mengagumi Leah. Sekarang aku paham apa alasan para wanita bisa berkerumun di sekitar Leah, bahkan memberikan cokelat setiap hari valentine. Alasannya simpel, Leah benar-benar menampilkan kesan 'girl crush' di dunia nyata, membuat siapapun terpesona dengan keberanian dan kharismanya.
Sedangkan para pria aku jamin 100%, mereka tertarik pada Leah karena kecantikan dan sikap easy goingnya, yang membuat siapapun merasa nyaman saat bersamanya. Sedangkan bagian tengah diisi oleh aku dan Selena, dua manusia paling pemula dalam hal tembak menembak. Bahkan aku ingin tertawa terkekeh sekarang saat melihat tanganku yang kewalahan memegang senapan.
Leah membuka pintu belakang, masih berhati-hati dan memasang kewaspadaan tinggi. Jason bilang para zombie biasanya bergerak 1 arah dan mereka cenderung tidak punya kemampuan berpikir tinggi seperti manusia. Jadi kalau seandainya ada zombie yang datang dari pintu depan, maka kami harus segera melarikan diri dari pintu belakang, begitu pula sebaliknya. Dan entah bagaimana, Jason berhasil menebak arah kedatangan zombie bahkan sebelum mereka datang. Hanya dengan melihat ke arah pepohonan dari jendela.
Tiba-tiba langkah Leah terhenti, membuat hidungku menabrak punggung Leah. Baru saja aku akan bertanya alasan Leah berhenti, tiba-tiba bulu kudukku meremang, menyaksikan apa yang ada di balik pintu. Tak terlalu jauh, berdiri 10 zombie yang perlahan berjalan mendekat dengan kondisi tubuh sangat mengerikan.
"Sial! Leah, cepat"
Teriakan Jason membuat Leah tersentak dari keterkejutannya. Dia mulai mengangkat senjata dan bersiap menembak.
Jason masih fokus di belakang, bahkan telinga amatirku bisa mendengar suara geraman dari arah belakang.
"Nelsie back up Leah, Selena back up gue. Tembak kaki mereka, usahakan dekat area mata kaki. Ingat, jangan terlalu banyak menghabiskan peluru"
Perintah Jason setengah berteriak
"Fokus, atau mati disini"
Jason mengakhiri ucapannya, sengaja memberi penekanan pada kata 'mati'.
Aku meringis, tentu saja kami tak akan langsung mati. Kami akan menjadi zombie peralihan yang masih bisa disembuhkan sebelum akhirnya berubah total dan menjadi zombie gila sesungguhnya yang berarti sama saja dengan mati.
__ADS_1
Suara tembakan saling bersahutan. Aku memfokuskan membidik area kaki, awalnya beberapa tembakanku meleset sebelum akhirnya mulai mengenai posisi yang tepat. Bagian belakang pun tak jauh berbeda. Suara benturan di pintu berkali-kali terdengar, menandakan ada yang sedang berusaha mendobrak pintu.
Wah, kalau orang tuaku menyaksikan betapa banyak keringat yang membasahi bajuku, mungkin mereka akan mengadakan syukuran saking terharunya. Seketika rasa khawatir melanda diriku. Ya tuhan, semoga keluargaku baik-baik saja.
Bang..
Dan satu zombie terakhir yang menghalangi jalan pelarian kami ambruk ke tanah, tak bergerak. Leah mendekati zombie yang kini terkapar, memeriksa dengan kakinya, memastikan tak ada pergerakan lagi dari tubuh si zombie.
Kami bertiga langsung bersorak riang, hanya Jasonlah yang tetap memasang ekspresi penuh antisipasi.
"Lo keren Leah"
ucapku kagum sambil menepuk-nepuk bahu Leah.
Tak repot-repot menampik pujianku, Leah membusungkan dadanya, senyumanya seakan mengatakan bahwa dia memang keren.
Setidaknya kami bisa bernafas lega sedikit. Berdasarkan informasi yang pernah Jason beberkan, para zombie tak akan punya inisiatif mengelilingi rumah sebelum ada salah satu zombie yang memulainya terlebih dahulu.
"Lari, cepat!"
Jason yang berada di belakang mulai mendesakku dan Leah untuk segera berlari.
Leah tersenyum dan berkata dengan nada menenangkan ke arah Jason
"Tenanglah Jas, kalaupun ada 1 atau 2 zombie yang muncul dari samping, biar aku yang tembak"
__ADS_1
Belum lagi sampai area pagar pembatas, tiba-tiba Selena menarik bajuku, membuat langkahku terhenti. Dia menunjuk ke arah samping, ke balik pepohonan yang tak jauh dari kami.
Aku mengikuti arah pandangan Selena, membeku seketika saat melihat sosok seorang pria yang berdiri dengan tubuh tegak sempurna. Aku menyipitkan mata, memastikan apa yang kulihat. Bagaimanapun aku menilai, sosok itu terlihat seperti manusia, apalagi tubuhnya berdiri tegak seakan semua tulang dan sendinya bekerja dengan baik. Berbeda dengan para zombie yang cenderung berdiri dengan tubuh terkulai.
"Sial!"
Umpatan keras Jason terdengar bersamaan dengan suara auman rendah, mirip seperti suara hewan buas. Sesering-seringnya guru biologiku menampilkan tayangan National Geoghrapic saat kami mempelajari tentang keanekaragaman hewan, tak pernah sekalipun aku mendengar suara seperti ini. Memang mirip suara hewan buas, tapi lebih rendah dan membuat telinga sakit walaupun tak terlalu keras.
Selanjutnya suara langkah kaki berat terdengar sahut menyahut dari samping kami, kiri dan kanan. Sosok itu perlahan mendekat, lalu menyender di pepohonan, sepertinya sedang tersenyum dan bersiap menonton sesuatu yang menarik. Benar saja, tak lama gerombolan zombie mulai muncul dari kiri dan kanan. Seakan mengikuti komando dari atasan.
Aku membelalakkan mata lebar-lebar, sangat syok dengan apa yang kusaksikan. Bukankah Jason bilang bahwa para zombie cenderung bergerak satu arah? Jadi kenapa saat ini mereka bisa muncul dari kiri dan kanan?. Secara tak sadar aku kembali memandang ke arah tempat dimana sosok tadi berdiri. Tapi nihil! dia sudah menghilang dan tak ada siapapun disana.
"Lari! Dari pintu depan!"
Teriakan Jasonlah yang lagi-lagi menyadarkan kami. Entah sudah berapa kali Jason yang selalu terlihat tenang berteriak sepanjang hari ini.
Bahkan saat malam pertama kami menghadapi para zombiepun Jasonlah yang selalu tenang. Seakan dia sudah siap menghadapi apa yang ada di depannya, sampai aku curiga dengan Jason.
Tersentak, kami langsung mengikuti perintah Jason, segera berlari ke pintu depan. Jason menendang keras hingga pintu tanggal dari engselnya dan terjatuh dengan suara berdebum.
Dia lalu melepas beberapa tembakan dengan ahli, menumbangkan 5 zombie yang ada di depan. Dia berlari cepat, terus menembak bersama Leah ke arah zombie yang masih tersisa di pintu depan.
"Lari sekencang mungkin"
Teriak Jason lagi, bercampur dengan suara tembakan dan suara tubuh yang menghantam tanah. Kami serempak mengangguk tanpa bersuara, fokus membersihkan area pelarian.
__ADS_1
Lari dan terus berlari, seperti berlari adalah aktivitas wajib yang harus aku lakukan mulai detik ini. Begitu area bersih dari zombie, kami mulai berlari kencang. Mengikuti langkah Jason, membelah hutan, seakan ini adalah area yang sudah biasa dia lalu.
Entah kenapa, aku merasa harus melihat ke belakang. Begitu aku mengintip sekilas, mataku kembali menangkap sosok pria yang tadi berdiri di belakang pepohonan. Berdiri di antara para zombie yang tiba-tiba berhenti mengejar kami.