
Bang...
Thud...
Suara tembakan dan benda menghantam bumi saling bersahutan.
Aku memandang nanar ke arah zombie yang kini tersungkur dan tanganku yang teracung secara bergantian. Syukurlah aku punya refleks yang cepat, kalau tidak mungkin saat ini diriku sudah menjadi sasaran empuk kunyah-mengunyah si zombie.
"lu nggak apa Nels?"
Leah mengulurkan tangannya, mencoba membantuku untuk berdiri. Dengan gemetaran aku menerima uluran tangannya.
"Ya tuhan, hampir gue mati"
Ucapku sembari menepuk-nepuk dada, mensyukuri gerakan refleksku dan kemampuan menembak Leah yang tak perlu dipertanyakan lagi.
Memang tadi aku sempat menembak zombie yang muncul, tetapi aku hanya mampu menembak kakinya, mencegah pergerakan lebih lanjut. Leahlah yang menuntaskan tembakan tepat di tengah dahi si zombie.
"Hampir jadi zombie sih, bukan hampir mati"
Ucap Leah setengah bercanda, mungkin ingin mencairkan ketegangan di antara kami.
Sama saja sih, kalau jadi zombie dan tidak disuntikkan vaksin tetap saja akhirnya aku akan mati kan?.
Aku berjalan mendekati zombie yang tergeletak, benar-benar sudah tak bernyawa. Seketika dadaku terasa sesak saat melihat siapa zombie yang baru saja kami bunuh. Sekalipun wajahnya sudah membiru dan ada bekas luka, tapi aku masih bisa mengenalinya. Dia adalah Shasa, sobat magerku yang sering nongkrong bersamaku di UKS saat pelajaran olahragai.
Jantungku terasa mencelos ketika melihat kondisi tubuh Shasa yang penuh bekas robekan, bahkan beberapa jarinya terlepas. Shasa cantik, yang selalu membanggakan kreasi gambaran kukunya dan terkadang memaksa untuk menggambar kukuku, Shaha yang selalu menyediakan snack untuk cemilan di UKS, Shasa yang selalu menyetok berbagai alasan yang bisa aku gunakan agar mendapat izin untuk bolos pelajaran olahraga, Shasa yang sama dengan yang kini terbaring akibat tembakanku dan Leah.
"N..Nels?"
Suara bergetar Leah diiringi dengan goncangan keras di bahuku sontak membuat pandanganku tertuju ke arah yang kini di tunjuk Leah. Mataku seketika membulat saat menyaksikan gerombolan zombie yang bergerak mendekati kami.
"Ya Tuhan"
Aku dan Leah saling berpandangan, lalu mengangguk dan dengan cepat bergerak. Mengangkat pistol dan mulai menembak.
Bang!
Bang!
Percayalah tak pernah sekalipun terbayang olehku suatu saat aku akan menggunakan senjata api tanpa ragu seperti ini. Lagi-lagi hatiku terasa seperti ditusuk-tusuk saat menyaksikan beberapa zombie yang kukenali mulai muncul dan berjatuhan akibat tembakanku dan Leah.
Setelah ini, mereka tak ada harapan lagi untuk hidup, kenyataan itu berputar-putar di otakku. Kalau mereka menjadi zombie dan disuntik vaksin, bisa saja mereka kembali menjadi manusia normal.
__ADS_1
"Mereka punya kecendrungan kanibalisme yang nggak bisa mereka tahan, bahkan mereka bisa memakan sesamanya kalau lapar"
Ucapan Jason membuatku meringis. Benar saja, hampir semua zombie yang muncul di hadapan kami tak memiliki anggota tubuh yang lengkap. Entah itu kehilangan tangan, jari atau anggota tubuh lain.
"Sial!"
Teriakan bergetar Leah membuat tubuhku bergidik.
Bagaimana tidak? sebanyak apapun aku dan Leah menembak, gelombang zombie masih terus bermunculan. Aku mengecek jumlah amunisiku saat ini.
Tinggal 5, bukan jumlah yang bagus melihat gelombang zombie yang terus bermunculan. Aku mengalihkan tatapanku ke arah Leah yang ternyata juga sedang menatapku dengan putus asa. Sepertinya jumlah amunisi yang dia punya tak jauh berbeda denganku.
"Nels, sebelah sini"
Suara teriakan Selena seakan menjadi sumber kewarasan untukku dan Leah yang hampir gila karena melihat gerombolan zombie yang tiada habisnya. Dengan sigap kami berlari ke arah Selena dan Jason yang sudah mengamankan jalur belakang untuk menyelamatkan diri.
Kami mulai berlari, berbagi barang bawaan agar memudahkan untuk bergerak. Suara tembakan yang saling bersahutan terdengar, memecah suasana hutan yang entah mengapa mencekam walaupun hari masih siang.
"Lari dan jangan lihat ke belakang!"
Jason memerintah begitu kami menyadari bahwa tak ada amunisi lagi di senjata kami masing-masing.
Ya benar, jika sudah begini jalan satu-satunya adalah terus berlari sambil berharap zombie yang bergerak lambat tak mampu mengejar kami.
Jason menutup pintu rapat-rapat sambil tetap mengarahkan pandangannya ke arah luar. Sedangkan kami bertiga hanya bisa terduduk di lantai, ngos-ngosan setelah pergumulan yang baru saja terjadi.
Saat seperti ini aku mulai percaya bahwa kondisi mendesak bisa mengubah manusia. Iya, bayangkan saja, aku yang mendapat julukan 'kura-kura lebih baik daripada Nelsie' mampu berlari kencang seperti ini.
"Kita nggak punya waktu untuk bersantai. Begitu rasa lelah kalian hilang, kita harus berkemas dan melanjutkan perjalanan"
Setelah memastikan bahwa kondisi di luar masih aman, Jason lalu berjalan ke arah kami, menarik tangan Selena dan mulai mengepak barang-barang yang diperlukan. Sedangkan aku dan Leah mencoba berkomunikasi dengan dunia luar.
Ah, tapi sial sekali. Tak ada sinyal yang bisa kami dapatkan di sini. Kalau mau mencari sinyal, kami setidaknya harus berjalan menuju kota terdekat. Jason yang menyadari rasa frustasi aku dan Leah hanya mengisyaratkan kami untuk lanjut berkemas.
Suasanya di antara kami benar-benar canggung. Tak ada satupun yang bersuara, hanya bunyi barang bergeser dan dimasukkan sajalah yang ada di antara kami. Lagi-lagi rasa frustasi menggerayangi diriku saat melihat jumlah amunisi yang kami punya.
Benar-benar sangat minim, aku bahksan sanksi bisa keluar hutan dengan jumlah amunisi sesedikit ini.
"Aish"
Gerutuan juga lolos dari mulut Leah. Sehebat apapun kemampuan menembak milik Leah, tetap saja butuh amunisi yang banyak. Apalagi kami para penembak amatir? Ya tuhan!.
"Nels"
__ADS_1
Tiba-tiba Selena mendekati posisiku yang kini tengah mengepak senjata, wajahnya terlihat pucat, ekspresi sedih terlihat di sana.
"Kenapa Sel?"
Tanyaku sepelan mungkin. Melihat ekspresi Selena dan suaranya yang dibuat sepelan mungkin, aku yakin bahwa apa yang ingin dia bicarakan bukanlah sesuatu yang dia ingin orang lain dengar.
"Gue... ngeliat Sean tadi"
Ucapan Selena membuatku menghernyit, Sean? Berarti Mr. Populer tertangkap dan jadi zombie, kah?.
"Ah sayang sekali"
Ucapku prihatin.
Selena mengangguk sebelum menggeleng lagi
"Jason bilang, Sean yang paling berbahaya di antara semuanya"
Aku menyipitkan mataku, paling berbahaya katanya? Wah, Mr. Serba Bisa benar-benar berada di level yang berbeda. Bahkan ketika menjadi zombie pun dia tetap berbeda dari yang lain.
Selena melanjutkan ucapannya
"Bagaimana ya cara mengatakannya, Jason bilang ini rahasia, tapi kayaknya lu perlu tahu. Jadi lu bisa lebih waspada Nels"
"Bukannya kita semua harus waspada?"
Selena mengangguk dan memandangku dengan tatapan... cemas?
"Kenapa sih Sel?"
Dia menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan
"Sepanjang serangan zombie di tenda tadi, Jason dan gue ngeliat Sean berdiri di salah satu pohon tak jauh dari kita. Dia ngga nyerang atau mendekat kayak zombie lainnya, cuma memperhatikan tanpa bergerak. Dan Jason bilang ini kali pertama dia ngeliat zombie semacam Sean"
"Lha terus? kenapa lu mandang gue dengan tatapan cemas kayak gitu sih?"
Tanyaku penasaran
"Lu tau yang Sean lihat? Sepanjang serangan zombie tadi, dia cuma ngeliat ke 1 tempat, sama sekali nggak berkedip, bahkan bola matanya sama sekali tak berpindah atau bergerak tak karuan seperti zombie lain"
Selena mendekatkan bibirnya ke telingaku
"Dan yang dia liat adalah elu"
__ADS_1