
Pusat Penelitian Christoff
Seorang pria paruh baya terus mondar-mandir, raut cemas sekaligus gelisah tergambar jelas di wajahnya. Berulangkali dia mengecek layar Handphone, berharap menemukan notifikasi dari nomor yang dia inginkan dari ribuan nomor yang masuk ke gawainya.
'Profesor Alfonso'
Begitulah yang tertulis di tag namenya, menunjukkan bahwa dia bahwa dia adalah salah satu profesor di pusat penelitian ini. Akhirnya kesabarannya yang memang sudah di ujung tanduk habis, dia lalu melangkah menuju meja kerjanya, menekan tombol merah yang ada disana. Tak lama pintu ruangannya diketuk, menandakan seseorang sudah ada di depan sana.
"Masuk"
Pintu lalu terbuka, di sana berdiri seorang pria yang masih sangat muda. Postur tubuhnya tegap, dengan ekspresi tegas cenderung dingin. Alfonso memandang pria di depannya. Tanpa sadar dia menghela nafas, tak menyangka bahwa saat ini akan tiba, saat dimana dia harus menggunakan objek penelitiannya sendiri.
"A1"
"Ya, tuan"
Pria yang dipanggil A1 itu menyahut dengan suara yang mirip seperti tentara kepada atasannya.
"Pergi dan temukan Jason. Bocah bebal itu.."
Alfonso memandang ke arah gawainya lagi. Pikirannya benar-benar campur aduk sekarang, antara melanjutkan produksi vaksin atau mencari keberadaan anak semata wayangnya yang tak pernah menurut sedikitpun.
"Baik Tuan"
A1 menjawab tegas, lalu menaikkan tangannya, membentuk isyarat memberi hormat. Saat dia hendak berbalik dan meninggalkan ruangan, suara Alfonso menahannya
"Jangan biarkan satupun orang di pusat penelitian ini tahu"
Alfonso memandang A1 lekat-lekat. A1 adalah salah satu objek penelitian tersembunyi milik pusat penelitian Christoff. Sudah beberapa tahun belakangan ini pusat penelitian Christoff melakukan penelitian terselubung yang tak terendus otoritas keamanan. Mulai dari pembuatan mutasi virus, hingga rekayasa genetika untuk mendapatkan manusia 'ideal' yang diinginkan klien mereka.
Alfonso menghela nafas berat, dia teringat saat pertama kali A1 datang kesini. Nama aslinya adalah Andreas. Sebagai anak yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan, Andreas tak memiliki keluarga sama sekali. Hanya saja saat itu Andreas masih normal dan punya kesadaran penuh. Tapi, sepertinya malang tak bisa dia hindari, panti asuhan yang menaunginya menerima tawaran dana besar dari pusat penelitian Christoff dengan imbalan seorang anak lelaki yang sehat dan kuat untuk dibawa ke pusat penelitian, dengan alasan akan diberikan pendidikan.
Dia masih ingat bagaimana dulu Andreas menjerit kesakitan atau mencoba melarikan diri saat awal mula penelitian dilakukan. Tentu saja pusat penelitian ini kejam. Tak ingin siapapun mengetahui praktek gila mereka, pusat penelitian ini terus memanipulasi ingatan Andreas, baik dengan metode hipnotis maupun metode obat-obatan. Hingga akhirnya terbentuklah A1 yang kini berdiri di depannya. Kaku, tak ada ampun dan hanya tunduk kepada perintah.
A1 hanya mengangguk lalu meninggalkan Alfonso sendirian yang lagi-lagi dihantam berbagai pikiran berat. Matanya tak sengaja menangkap salah satu koran dengan headline besar di sana
'Huru Hara Kota Akibat Munculnya Mayat Hidup'
Alfonso memejamkan matanya. Lagi-lagi dia hanya bisa menghela nafas, akhirnya yang terburuk akan terjadi juga
***
Sial!
Rasanya aku benar-benar ingin pingsan saja sekarang. Latihan berat yang diberikan oleh Janson dan Leah benar-benar menguras daya energiku hingga titik 0.
Berkali-kali aku kepayahan mengatur nafas, mencoba menyelesaikan perintah sit up 30 kali yang Leah berikan. Ini benar-benar gila, kalau begini aku beneran lebih baik dimakan zombie saja.
"Semangat dong, Nels"
Kata-kata Selena yang justru lebih mirip cemoohan terdengar di telingaku.
Aku langsung memandang Selena sebal. Di luar ekspektasi, Selena ternyata bisa mengikuti latihan gila Leah yang menargetkan kami mempunyai kemampuan menembak walaupun tak begitu hebat dalam waktu 3 hari. Bayangkan bagaimana lelahnya. Bukan hanya berlatih menembak, Leah juga menyuruh kami melatih tubuh. Kalau begini sih yang ada tubuhku remuk duluan, bahkan sebelum menghadapi para zombie.
Aku memandang Selena lagi, kali ini dengan tatapan 'dasar pengkhianat'. Awalnya aku pikir Selena akan menentang usulan Leah agar kami melatih tubuh walaupun hanya sedikit. Tapi Selena justru dengan cepat mengangguk dan menyetujui ucapan Leah, meninggalkanku sendiri yang mau tak mau mengikuti keinginan mereka. Sedangkan Jason hanya diam saja, memandangi perdebatan kami sekaligus penderitaanku (ya walaupun aku yakin dia hanya datang untuk mengecek keadaan Selena), sebelum akhirnya kembali berpatroli.
"Jason kenapa nggak latihan"
Tanyaku ngos-ngosan.
Aku langsung membaringkan tubuh begitu menyelesaikan semua latihan yang Leah berikan. Kalau begini lama-lama aku bisa jadi anggota tentara. Ya tuhan, sudah berapa banyak energi yang sudah kuhabiskan seharian ini?.
Diantara kami hanya Jason yang tidak ikut melatih tubuh. Bahkan Leah sebagi instruktur juga ikut berlatih. Memang sih sedari tadi Jason berpatroli, memastikan keamanan di sekitar kami. Tapi bukankah tidak adil kalau Jason tidak ikut berlatih?.
Leah meneguk minumannya sebentar sebelum menjawab dengan penuh antusias
__ADS_1
"Jason sih jangan di tanya lagi. Bahkan kalau dia ikut pertandingan menembak internasional, dia pasti jadi pemenangnya"
Leah melipat tangannya, lalu dengan bangga berkata
"Kalau soal stamina jangan tanya, sekalipun badan Jason sebelas duabelas dengan papan cucian, tapi staminanya luar biasa. Belum lagi kecepatan lari Jason di atas rata-rata"
Tiba-tiba Leah menghentikan ucapannya. Tangannya kini beralih memeluk tubuh
"Kalau tiba-tiba dia jadi zombie, matilah kita"
Lanjutnya dengan nada ngeri.
Aku ikut bergidik saat membayangkan ucapan Leah. Kalau apa yang dikatan Leah benar, maka sudah pasti kami bakalan ikut menyusul menjadi zombie tak lama setelah Jason menjadi zombie. Apalagi aku yang kemampuan larinya saja mungkin di bawah kura-kura. Seketika aku bersyukur, kalau saja malam itu Leah tak menarik tanganku dan memaksaku untuk berlari, mungkin aku sudah termasuk jajaran para zombie yang kini berkeliaran di dalam hutan.
"Tinggal tembak kepalanya aja, apa susahnya sih"
Aku dan Leah langsung memandang Selena yang membalas tatapan kami dengan ekspresi santai.
"Kita bertiga tinggal tembak kepala Jason, selesai"
Lanjutnya lagi.
Bersamaan dengan ucapan Selena, Jason memasuki ruangan sepertinya telah selesai berpatroli. Suasana mendadak canggung, lagi-lagi aku dan Leah hanya bisa bertatapan yang seakan berkata 'duh Jason, malangnya nasibmu nak'.
***
"Kita bakalan ambil rute ini"
Saat ini kami sedang duduk di dekat perapian, membicarakan rencana untuk kembali ke tempat camping.
"Masing-masing pegang 2 senjata. Untuk tas suplai makanan dan lain-lain biar gue dan Leah yang bawa. Jangan lupa selain alat komunikasi, ambil hal lain yang menurut kalian bisa bermanfaat untuk kita bertahan. Tapi kalau seandainya rencana kita berhasil, kita kembali dulu ke tempat ini sebentar. Mencoba memberi informasi dan mencari bantuan, sebelum akhirnya menyusuri jalan keluar hutan"
Jason mulai menjelaskan rencananya panjang lebar. Dia juga sudah mengatur bundelan yang harus kami bawa.
Lagi-lagi perasaan tak nyaman muncul di hatiku. Mendengar penjelasan Jason dan apa yang dia gambarkan di kertas membuatku bertanya-tanya. Bukankah Jason terlalu paham dengan kondisi yang kami hadapi? Dan, bukankah dia terlalu hapal dengan rute-rute di hutan ini?.
"Masing-masing dari kita harus saling melindungi, tapi tetap harus fokus pada 1 orang sebagai prioritas utama. Leah dan Nelsie, gue dan Selena. Kalau salah satu dari kita ada yang tergigit langsung pergi dan tinggalkan"
Jason mengakhiri ucapannya, lalu mulai mendistribusikan senjata dan bundelan yang sudah dia sesuaikan dengan kemampuan kami.
Aku menelan ludah, bukankah kami sangat kejam sekarang?. Bisa saja nanti kami terpaksa harus menembak tepat di tengah kepala zombie. Dan Jason bilang, begitu bagian kepala tertembak, maka nuclei yang berada di kepala Zombie akan meledak dan mereka akan benar-benar mati. Rasa sakit menjalari hatiku saat mengingat orang-orang yang tak lain dan tak bukan adalah teman satu sekolahku, bahkan satu kelasku.
"Kejam memang, tapi kita harus bertahan"
Ucap Jason seakan bisa membaca pikiranku.
Aku hanya mengangguk sembari menarik nafas dalam-dalam lalu memandang Selena.
"Jangan lupa tembak gue di kepala Sel kalau gue kegigit"
Selena membalas pandanganku dengan dengusan
"Yakin deh si zombie ogah gigit elu Nels, yang ada rugi zombienya. Lu malah bisa nyantai sambil gigitin zombie lain"
Jawabnya.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Selena. Aku yakin di balik ucapannya yang terlihat tegar, ada ketakutan yang luar biasa. Sama sepertiku, jujur saja aku juga merasa sangat takut. Takut kalau-kalau tak bisa bertemu lagi dengan keluargaku, takut jika merasakan sakit (yang ini bahkan jauh lebih besar daripada ketakutanku untuk mengeluarkan energi berlebih). Setelah memastikan semua persiapan selesai, kami saling menepuk bahu sejenak, mencoba saling mendukung sebelum akhirnya melangkah keluar, menuju medan pertempuran yang siap mengambil nyawa
***
Pusat Penelitian Christoff
Alfonso membanting bundelan kertas di tangannya. Wajahnya mengeras, urat-urat di lehernya menyembul, menandakan bahwa dia benar-benar sangat marah sekarang.
"Sialan"
__ADS_1
Dia memaki lagi sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya di kursi. Matanya memandang kembali bundelan kertas yang berisi informasi mengenai jumlah warga yang telah terinfeksi virus ini. Seperti yang pusat penelitian ini harapkan, virus yang mereka ciptakan sukses menyebabkan huru-hara hanya dalam 3 hari. Sementara vaksinnya baru sedikit yang selesai.
Kondisi ini memaksa para peneliti bekerja ekstra untuk memproduksi vaksin secara massal. Tentu saja para petinggi pusat penelitian Christoff sudah sangat bahagia membayangkan bahwa mereka akan bisa menikmati jumlah uang yang luar biasa dan tentu saja kekuasaan dunia yang bisa mereka genggam.
Tapi hanya sedikit vaksin yang bisa di produksi dan untuk membuat lebih banyak tentu saja dibutuhkan waktu yang lebih lama. Alfonso mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit ruangannya. Tiba-tiba senyum getir terlukis di bibirnya saat mengingat sebuah hal yang sudah dia lupakan sejak lama.
Objek penelitian nomor 18. Berbeda dengan objek penelitian lain, objek ini mereka dapatkan dari sejak bayi karena kebetulan ibu si objek adalah salah satu petugas keamanan disini. Sebenarnya bukan kebetulan mereka mendapatkan objek 18. Mereka sengaja menyuntikkan cairan perangsang antibodi untuk menciptakan kekebalan tubuh absolut bagi bayinya.
Si ibu meninggal begitu melahirkan karena pendarahan hebat dan tubuhnya yang memang sudah lemah karena terlalu banyak disuntikkan cairan antigen. Sementara si anak terlahir sehat dan di rawat di pusat penelitian sebelum secara misterius menghilang dan tak bisa mereka temukan.
Alfonso juga menjadi salah seorang yang berusaha mati-matian menemukan si objek no 18, mencocokkan antibodi yang dia punya dan mengubahnya menjadi obat untuk mengatasi virus LivDeath. Tapi tentu saja obat itu tak akan dijual murah, dan tentu saja resikonya bisa menimbulkan kematian bagi si objek no 18.
Alfonso meringis, menepuk pipinya kuat-kuat, mencoba menghilangkan pikirannya tentang si objek nomor 18. Bukankah sebagai seorang ayah tak layak dia mengorbankan anak orang lain hanya untuk memenuhi pundi-pundi keuangan pusat penelitian ini. Tapi ringisan Alfonso perlahan berubah menjadi senyuman getir. Ah, mana layak seseorang yang sudah berkecimpung lama dalam dunia gelap ini membicarakan rasa cinta kepada anak. Senyum Alfonso semakin getir, bukankah dulu dia juga mengorbankan anak kesayangannya?.
***
"Tetap waspada dan perhatikan langkah kalian"
Jason mengulangi kalimatnya yang entah sudah keberapakali kami dengar. Kami hanya menjawab dengan anggukan, tetap fokus memantau keadaan sekitar.
Sudah hampir 20 menit kami berjalan, tapi belum satupun kami menemui tanda-tanda kehadiran zombie.
"20 menit lagi menuju lokasi camping"
Ucapan Jason hampir membuatku terhenyak. Wah, bukan hanya punya kekuatan fisik dan skill yang bagus, sepertinya Jason cocok juga menjadi spedometer atau kompas sekalian.
"perhatikan langkah lu, Sel"
Ucapan Jason keluar bersamaan dengan kaki Selena yang tersandung ranting pohon. Dengan sigap Jason menangkap Selena dan menyeimbangkan posisinya. Sementara Selena hanya menggerutu, mengucapkan terima kasih tapi seperti bukan terima kasih.
"Lu juga hati-hati Nels"
"Oke"
"Jalannya agak cepetan, jangan kayak siput. Porsi sarapan Lu udah paling banyak tadi"
Aku langsung melontarkan tatapan galak ke arah Jason yang memasang wajah datar tanpa dosa dengan tatapan fokus ke arah depan. Wah, sekarang aku paham alasan Selena selalu kesal saat bersama Jason. Tentu saja alasannya karena pria satu ini tidak bisa membaca situasi.
Selebihnya kami hanya diam, terus fokus dengan keadaan sekitar hingga akhirnya kami melihat siluet tenda yang sudah tumbang.
Jason menghentikan langkahnya yang otomatis membuat kami ikut berhenti.
"Mulai dari sini kita semua harus fokus. Tim Leah meriksa area kiri dan tim gue meriksa ke area kanan"
perintah Jason.
Kami serempak mengangguk dan mulai semakin mendekat. Seketika detak jantungku meningkat 6 kali lebih cepat. Bahkan detak jantung orang yang sedang jatuh cinta atau berjumpa dengan idola yang mereka suka akan kalah cepat dengan detak jantungku.
Tak pernah sedikitpun terlintas di pikiranku akan mengalami hal menegangkan seperti adegan film yang sering ku tonton. Kalau sudah begini, aku seakan menjadi pemeran utama film Resident Evil dengan senjata di tangan.
Aku dan Leah mulai menyusuri satu persatu hal yang ada di tanah. Lagi-lagi perasaan mual menjalari diriku. Masih ada sisa potongan tubuh di sekitar tempat kami memeriksa. Jelas sekali menggambarkan betapa mengerikannya malam yang harusnya diisi dengan kesenangan berubah menjadi petaka.
Kami lalu memasuki tenda yang di huni para guru. Tenda berwarna orange ini terlihat robek di segala sisi, bahkan isi dalamnya sudah di obrak-abrik. Aku bertugas menjadi pencari barang sementara Leah bertugas mengamati kondisi sekitar.
"Ketemu!"
Ucapku riang begitu membuka isi tas besar yang baru saja kutemukan.
"Isinya Handphone siswa"
Leah mengacungkan jempolnya lalu kembali fokus berjaga. Aku hanya mengambil HP milikku, Leah, Jason dan Selena. Sisanya ku keluarkan hingga hanya tasnya saja yang tersisa. Aku lalu mencoba menemukan sesuatu yang bermanfaat untuk kami gunakan.
"Sial!"
Aku langsung memandang Leah yang kini menatap tepat ke arah depanku dan selanjutnya suara erangan saling bersahutan terdengar, bercampur dengan suara tembakan.
__ADS_1