
Seketika bulu kudukku meremang setelah mendengar apa yang Selena katakan. Sean hanya memandangku? Tapi kenapa? Apa jangan-jangan.. Dia sebenarnya diam-diam naksir aku? Kan pas tuh kayak di film-film. Seorang zombie yang ternyata masih bisa jatuh cinta dan berjuang bersama kekasih hatinya untuk kembali menjadi manusia. Sihiyyy.
Tapi pemikiran lain menghantam diriku, bagaimana kalau ternyata skenario yang lain terjadi. Sean yang berubah menjadi zombie tak bisa menahan rasa kanibalnya kepada orang yang dia suka, lalu dia menangkap sang gadis. Mengurung si gadis lalu perlahan, satu demi satu... memakannya?.
Hiii
Aku memeluk tubuhku, mengusapkan telapak tanganku berkali-kali, mencoba menghilangkan khayalan gila yang muncul di otakku.
"Lu baik-baik aja kan Nels?"
Pertanyaan Selena sontak menghentikan segala fantasi gilaku. Aku hanya tersenyum, menggeleng sambil menggaruk kepalaku. Sepertinya otakku sudah mulai korslet menghadapi berbagai kejadian mengejutkan yang terjadi hanya dalam waktu 1 malam.
Ya kali Sean suka sama aku, kalau tadi aku secakep Selena atau setangguh Leah masih mungkinlah. Lah, ini? Manusia keong sepertiku tentu saja mustahil untuk jadi cinta terpendam sang Mr. Populer.
***
Pusat Penelitian Christoff
"Sial"
Alfonso melempar berkas yang ada di tangannya.
Kekesalan memuncak di ubun-ubun begitu membaca isi berita hari ini.
Apalagi kalau bukan perihal virus LivDeath yang sudah menjangkiti hampir seluruh kota, bahkan hampir seluruh negara.
"Senjata makan tuan?"
Phillia, asisten pribadinya memasuki ruangan Alfonso tanpa permisi, meletakkan sebuah kotak kecil bewarna ungu. Kotak yang berisi beberapa seri vaksin yang sengaja Alfonso buat khusus untuk keluarganya.
Alfonso hanya diam, tak bisa bereaksi dengan ucapan sarkas yang baru saja Phillia lontarkan. Jika ini terjadi dulu pada saat masa-masa jayanya sebagai peneliti, sudah pastilah dia akan membantah dengan percaya diri, tak akan terima. Mengatakan hasil suatu penelitian sebagai senjata makan tuan sama saja dengan menyindir ketidakkompetenan seorang peneliti, dan Alfonso benci itu.
"Jadi bos, kau mau bagaimana?"
Phillia kembali bertanya sambil menyeringai, ada nada mengejek di suaranya. Sebagai seseorang yang sudah menemani Alfonso sedari pertama kali Alfonso bekerja disini, Phillia sudah paham seluk-beluk watak milik bosnya satu ini : Tak mau kalah dan keras kepala.
__ADS_1
Termasuk kekeraskepalaannya menolak proyek penelitian ini, bahkan sengaja mengundurkan diri dari kepemimpinan inti penelitian ini. Phillia memandangi Alfonso lamat-lamat. Alasannya bergabung dalam pusat penelitian ini juga karena kekagumannya kepada Alfonso. Dulu Alfonso adalah dosen yang mengajar di universitas tempatnya belajar. Tak pernah Phillia sangka bahwa pusat penelitian Christoff adalah tempat berbahaya yang penuh dengan catatan hitam.
"Jadi, kenapa kau bergabung?"
Itulah yang pertama kali Phillia tanyakan kepada Alfonso saat Phillia pertama kali mengetahui sisi gelap pusat penelitian Christoff.
Wajah Alfonso mengeras saat itu, dia tak menjawab pertanyaan Phillia dan memilih bungkam. Belakangan Phillia mengetahui sebuah kenyataan bahwa pusat penelitian Christoff sudah memegang kartu as untuk menahan Alfonso agar tetap berada di pusat penelitian.
Sebenarnya gampang saja bagi pusat penelitian ini untuk melenyapkan siapapun yang menghalangi tujuan mereka. Phillia pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Caylon dan Thea, Romeo dan juliet versi pusat penelitian ini, menjadi legenda yang selalu dibicarakan. Keduanya berakhir tragis, bahkan sang anakpun dimanfaatkan habis-habisan oleh pusat penelitian ini. Anak yang memiliki daya imun absolut, objek nomor 18
Tapi, pusat penelitian ini tak bisa melakukan metode yang sama kepada Alfonso. Tentu saja karena kemampuan mumpuni yang Alfonso miliki. Lagian, bagi objek penelitian ini, selama mereka punya kartu as untuk mengancam, maka mereka akan memanfaatkan sebaik-baiknya. Tanpa ampun memerah perlahan, hingga tak ada yang tersisa.
***
"Persiapkan diri kalian, setelah ini kita bakal menghadapi medan perang yang sebenarnya"
Jason mengedarkan pandangannya, menatap kami satu persatu. Aku hanya bisa menelan ludah, membayangkan kejadian di tenda tadi saja sudah membuatku bergidik ngeri.
Jason tiba-tiba berdiri, memandang jauh ke luar jendela
"Gue punya firasat buruk"
Gila! Apa para zombie itu sudah berhasil mencapai tempat ini? Bukankah tempat ini cukup jauh dari tenda?.
"Sial"
Makian tiba-tiba terdengar dari mulut Jason. Wajahnya mengeras, seakan sesuatu telah berjalan di luar prediksinya.
Selena langsung berdiri dan menghampiri Jason, ikut memandang ke luar jendela.
"Apaan sih lo, bikin kaget aja. Nggak ada apa-apa juga"
Protes Selena keras. Tentu saja dia kesal dengan sikap Jason. Di kondisi seperti ini dia hampir saja menyebabkan jantung kami meledak karena berdetak berpuluh kali lebih cepat.
Jason memandang Selena sebentar lalu menghela nafas dalam-dalam.
__ADS_1
"Siapkan saja senjata kalian"
Ucapnya lalu bergumam pelan "Sial.. Para Deathster itu.."
lirihnya sambil menarik rambut sedikit frustasi.
"Udah di bilang nggak ada apa-apa juga"
Selena lagi-lagi protes. Dia kembali memandang keluar jendela, memastikan bahwa tak ada apapun di sana. Siapapun yang mendengar permintaan Jason, sudah pasti menduga bahwa alasan Jason mengatakan itu karena zombie yang mendekati gubuk.
Aku dan Leah akhirnya berdiri, ikut memastikan, memandang ke luar jendela.
Tak ada siapapun, betul kata Selena. Hanya pepohonan yang ada di luar. Aku menghernyitkan alis, melontarkan tatapan penuh tanya ke arah Jason.
Jason masih berdiri di posisinya. Matanya masih memandang ke luar jendela, bergerak ke kiri dan ke kanan, seakan dia sedang mengawasi sesuatu.
Tiba-tiba, ekspresi Jason mengeras, dia lalu mencengkram erat-erat bahu Selena
"Please, dengari kata gue sekali ini saja. Cepat siapkan senjata kalian"
Ulangnya lagi, kali ini dengan nada memohon dan sedikit putus asa.
Kami hanya terdiam, Leah lah yang pertama kali bereaksi. Leah lalu menuruti perintah Jason dan mulai memakai tas miliknya dengan tangan yang siaga memegang senjata.
"Percaya dengan Jason"
Lagi-lagi aku teringat ucapan Leah saat malam pertama serangan zombie terjadi. Aku menghela nafas berat, saat seperti ini memang satu-satunya yang bisa kami lakukan hanyalah percaya kepada Jason. Apalagi dia mengetahui seluk-beluk pusat penelitian Christoff, biang kerok semua tragedi ini.
Aku mulai melakukan hal yang sama seperti Leah, membereskan barang-barang dan menenteng senjata yang masih asing terasa di tanganku. Dalam hati aku mulai mengutuki takdir yang membuatku harus kembali berlari menembus hutan. Ya tuhan, apakah ini hukuman untuk makhluk mager sepertiku?.
"Maaf, Sel"
Suara sendu Jason terdengar, membuat aku dan Leah sontak menatap ke arah Selena yang tengah berberes. Jason terlihat berlutut, membantu Selena mengepak barangnya, sekalipun Selena terus-terusan menepis tangannya.
Sepertinya Jason merasa bersalah karena sudah mencengkram bahu Selena hingga Selena sempat meringis di buatnya. Aku hanya bisa menghela nafas melihat Jason, persis seperti anak anjing yang diabaikan oleh pemiliknya.
__ADS_1
Tiba-tiba pandangan Jason mengeras, dengan cepat dia melangkah menuju jendela sambil mengumpat
"Sial, mereka datang"