Mr. Zombie

Mr. Zombie
Gotcha! Aku Temukanmu (1)


__ADS_3

"ti..tiga menit?"


Aku membelalakkan mata tak percaya.


Ya tuhan, yang benar saja.


Jason mengangguk, membenarkan pertanyaanku


"Bahkan semakin tinggi level deathster, kemungkinan tembakan di kaki tak akan mengganggu pergerakannya lagi"


Ucao Jason, menambah tingkat horor yang kami rasakan.


What? Tak bisa menghentikan pergerakan lagi? Bukankah dengan kata lain para deathster yang sudah berada di level tertinggi tak ubahnya seperti iblis yang sulit di kalahkan?.


"Gila! nggak mungkin. Kalau begitu mereka tak terkalahkan dong"


Bahu Selena terkulai lemas. Tangannya lalu terangkat, menangkup wajahnya yang pucat pasi.


Tubuh Selena yang bergetar membuatku berasumsi bahwa dia sedang menangis.


Baru saja aku ingin memeluk tubuh Selena, menenangkannya, tiba-tiba Jason memotong pergerakanku. Dia beringsut maju, memeluk tubuh Selena dan mengelus kepala Selena pelan, seakan mengatakan kepada Selena bahwa semua akan baik-baik saja.


Sedangkan aku dan Leah yang tiba-tiba berubah menjadi obat nyamuk hanya bisa saling memandang, saling menepuk bahu dan berpelukan untuk menguatkan. Hiks, sedihnya jadi jomblo seumur hidup. Bahkan hingga serangan zombie pun aku belum punya pengalaman kencan sekalipun, nasib-nasib.


"Tapi setidaknya sekarang kita bisa bersantai sedikit. Harus bergerak cepat mencapai kota terdekat. Asumsiku, deathster yang tadi kita temui masih seorang deathster level bawah. Jadi selagi dia belum bisa menaikkan level dengan memakan nuclei otak deathster lain, kita harus segera keluar dari hutan ini"


Ucap Jason dengan tangan masih membelai rambut Selena. Wajahnya tiba-tiba mendadak berubah dingin dengan mata menerawang jauh


"Segera keluar menghindari deathster atau segera di makan oleh deathster"


Lanjutnya dingin, membuat bulu kudukku sontak meremang.


***


Pusat Penelitian Christoff


Seorang pria paruh baya terlihat sedang menyeruput teh hangat di depannya. Kakinya sesekali bergerak, dengan ritme lambat lalu bertambah cepat, seakan tak sabar menunggu sesuatu.

__ADS_1


Siapapun yang melihat pria itu pasti akan mengakui kharisma yang dia miliki. Wajah yang mirip seperi orang yang tersenyum bahkan saat sedang diam sekalipun. Sudut mata jatuh dengan bola mata lebar, memberikan kesan polos di wajahnya.


Semua orang di kota ini mengaguminya. Bahkan para mahasiswa sains yang sering mengundangnya ke acara seminar kampus selalu menyampaikan ketertarikan dan kekaguman mereka kepada dirinya. Belum lagi jiwa sosialnya yang tinggi, hampir seluruh panti asuhan di kota ini memiliki dia sebagai donaturnya.


Pria itu menyeruput teh hangatnya lagi. Gerakan kakinya semakin tak sabar sebelum akhirnya terhenti bersamaan dengan bunyi benda pecah berkeping-keping.


Pria itu membanting gelas yang ada di tangannya, memandang datar ke arah gelas yang sudah hancur berkeping-keping. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah seorang anak kecil yang semakin beringsut ke sudut, penuh ketakutan. Seakan pria paruh baya itu adalah monster di matanya.


Pria itu menghela nafas berat, lalu menyunggingkan senyum yang biasa dia pasang di wajahnya. Senyum ramah menenangkan, salah satu ciri khasnya.


"Berhentilah Theo, kau menakuti A2"


Ucap seorang pria yang baru masuk ke ruangan. Memandangi pria paruh baya yang kini sudah berjongkok di depan anak kecil itu.


Thedore, nama pria itu adalah Theodore Moore. Dan yang memanggilnya barusan adalah Deodorus Axelsen, sahabat dekat yang sudah menemani Theo bahkan sebelum pusat penelitian ini didirikan.


Theo tak menggubris ucapan Deodorus, tak sedikitpun berniat untuk bangkit dan menjauhi sang anak yang diberi nama A2. Dia kembali memandang A2 lekat-lekat, mengangkat dagunya sebentar sebelum akhirnya menghempas paksa tubuh A2, membuat kepalanya membentur lantai.


"Sudah sejauh mana pencarian objek nomor 13?"


Deo tak langsung menjawab. Dia justru menuang teh di gelas bersih yang tersedia di meja, lalu duduk dan ikut menyeruput teh. Earl Grey, seperti biasa, teh inilah yang menjadi kesukaan mereka.


"Sudah sejauh mana pencarian objek nomor 13?"


Theo mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan penuh penekanan.


Wajahnya memang masih menyunggingkan senyum, tapi siapapun akan bergidik ngeri saat melihat senyum itu. Deo memainkan gelas di depannya sejenak, memutar jemarinya di mulut gelas, tak langsung menjawab pertanyaan Theo.


Sikap Deo yang terlihat acuh tak acuh membuat Theo kembali murka.


"*******! Lekas laporkan kepadaku!"


Perintahnya sambil memaki, membuat Deo semakin keras tertawa.


Tak ada yang lebih menyenangkan bagi Deo selain melihat topeng senyum di wajah Theo tanggal. Pria yang terlihat ramah dan penuh kasih ini, siapa sangka ternyata seseorang yang kejam. Seseorang yang rela mengorbankan berapapun nyawa untuk mendapatkan uang.


"Sialan!"

__ADS_1


Saat Theo hendak bangkit dari posisinya dan menghajar Deo, Deo langsung mengangkat tangan, pertanda menyerah


"Ayolah Theo, terlalu gegabah bisa membunuh kucing. Kau tahu ada pepatah yang mirip begitu?"


Tanyanya dengan ekspresi 'baiklah, aku menyerah'.


Theo hanya mendengus, dia kembali membenarkan posisi duduknya, dan lagi-lagi senyuman terkembang di wajahnya.


"Jadi, sudah sejauh mana pencarian objek nomor 13?"


Tanyanya lagi, kali ini dengan nada lembut yang biasa dia gunakan sehari-hari.


Deo berusaha menahan tawanya, baiklah manusia bertopeng kembali muncul. Deo menyeruput teh sebelum akhirnya menjawab


"Nihil, tak ada info apapun"


Jawabnya tenang.


Berbeda dengan ekspresi tenang milik Deo, wajah Theo justru kembali mengeras. Hampir saja senyum palsunya memudar dan menampilkan wajah penuh amarah yang mengerikan miliknya.


"Apa saja yang sudah kalian lakukan sampai tak bisa menemukan dia?"


Deo mengangkat bahu


"Ayolah Theo. Sudah 18 tahun kita mencarinya dan hasilnya tetap nihil"


Deo menjeda kalimatnya. Matanya memandang ke arah langit-langit ruangan yang bercat abu-abu, khas warna kesukaan Theo.


"Bukankah sudah saatnya kita mengakui kehebatan milik Caylon yang bisa menyembunyikan anaknya tanpa bisa kita temukan?"


Deo mengingat lagi sosok pria muda enerjik yang begitu semangat saat bergabung bersama pusat penelitian Christoff. Wajah tampannya, kecerdasan otaknya, menjadi angin segar tersendiri untuk pusat penelitian ini.


Tak perlu waktu lama, mereka menjadikan pria bernama Caylon Ford menjadi ikon pusat penelitian Christoff. Menjadikan Caylon sebagai penarik pekerja ataupun masyarakat untuk membeli produk hasil rekayasa genetik milik mereka.


Caylon yang idealis justru sangat senang. Impiannya saat mahasiswa akhirnya bisa tercapai. Dia bisa menjadi peneliti yang bermanfaat dan dikenal orang banyak.


Hingga akhirnya sebuah kejadian mengubah Caylon. Pria sempurna itu jatuh cinta dengan salah seorang penjaga keamanan pusat penelitian ini. Gadis bernama Thea. Awalnya pusat penelitian tak setuju dengan rencana Caylon menikahi Thea. Gadis itu sudah lama di targetkan oleh pusat penelitian untuk dijadikan objek penelitian yang berhubungan dengan janin.

__ADS_1


__ADS_2