
Mataku mendadak terbuka saat mendengar bunyi gemerisik. Pelan-pelan aku meraih senjata yang tergeletak tepat di sampingku lalu membalikkan tubuh, mencoba mengkonfirmasi sumber suara.
Hhh, syukurlah, ternyata itu hanyalah suara Jason yang sedang memantau jendela.
Malam ini kami sepakat untuk bergantian berjaga. Memastikan bahwa para zombie tak menyentuh tempat ini. Sebelumnya, aku dan Leah sudah lebih dulu bergantian dan sekarang Selenalah yang bertugas mengawasi.
Awalnya aku menawari diri untuk menemani Selena berjaga. Tapi Selena dengan keras menentang keinginanku. Katanya, mengingat bahwa kami tak tahu apa yang mungkin akan kami hadapi besok, lebih baik menjaga tubuh dan tidur yang cukup.
Aku hanya bisa menghela nafas dan menyetujui ucapan Selena. Bahkan Leah juga ikut memberikan penjelasan tentang betapa pentingnya menjaga kewarasan dan kesehatan kami.
Aku memandang Jason lagi, apakah ini memang sudah saatnya Jason berjaga?. Mataku lalu beralih ke arah Selena yang seharusnya tidur tak jauh dari posisiku, dia justru tengah duduk. Matanya berkali-kali bergantian, memandang punggung Jason dan pintu. Ah, sepertinya ini masih waktunya Selana untuk berjaga. Jason mungkin dengan cueknya ikut menemani Selena tanpa mempedulikan opininya.
Aku bisa melihat ekspresi kesal setiap kali Selena memandang punggung Jason. Sebagai seseorang yang sudah mengenal Selena cukup lama, aku sudah paham betul sifat Selena. Sekalipun dia punya tampilan imut dan selalu membangkitkan insting melindungi seseorang, Selena justru adalah mortir sejati. Dia tak suka dikasihani, tak suka dianggap lemah.
"Enak ya Nels jadi elu"
Suatu kali Selena pernah berkata dengan raut wajah masam saat kami sama-sama menjadi panitian acara festival sekolah. Awalnya aku mati-matian menolak dikarenakan jiwa magerku meronta-ronta, tak sanggup membayangkan bila harus bergerak kesana kemari. Tapi berkat sogokan Selena yang menjanjikan akan mentraktirku makan apapun yang kumau selama 2 bulan penuh, akhirnya aku setuju. Maklumlah, selain mager, aku punya karakteristik lain di diriku, yaitu tukang makan.
Saat festival hampir seluruhnya mengulurkan tangan, memberikan bantuan kepada Selena sekalipun dia sudah menolak mati-matian. Sampai akhirnya tak ada satupun pekerjaan yang harusnya milik Selena dikerjakan oleh dirinya sendiri. Aku ingat bagaimana Selena marah besar saat itu. Seisi sekolah benar-benar terkejut karena itu adalah kali pertama Selena 'meledak', ya walaupun aku sudah sering melihatnya.
Selain Sean, Selena adalah satu orang lagi yang sering membuatku memandang langit sambil protes betapa tak adilnya dunia ini. Sudah cantik, baik, bermental tangguh, Selena kurang apa?. Duh tuhan, tolong bagi sifat baik Selena sedikit saja kepada aku yang super mager ini. Seketika aku teringat pada Sean. Bagaimana keadaan si Mr. Populer? Seketika aku bergidik, membayangkan kembali kejadian yang kualami tadi. Ya tuhan, semoga semuanya baik-baik saja.
"Tidur aja, biar gue yang jaga"
Suara Jason terdengar, bersamaan dengan langkah kakinya menuju posisi Selena duduk. Seketika aku menajamkan telingaku, bagaimana ya cara mengatakannya, nada suara Jason terdengar... lembut?. Hening sejenak, lalu suara Selena ikut terdengar
"Nggak, jadwal gue belum habis. Tanggung jawab gue belum selesai"
Jelas sekali ada nada ketus di suaranya.
"Tidur, tolong"
Sepertinya Jason enggan berdebat. Aku mencoba mengingat-ingat perkataan Jason tadi, saat dia bilang bahwa dia datang kesini untuk mengawasi seseorang. Jangan-jangan, yang dimaksud Jason bukanlah Leah, melainkan Selena?. Apa Jason termasuk salah satu dari sekian banyak pengagum rahasia Selena?.
Kali ini terdengar suara 'thud', membuat jiwa kepoku meluap-luap. Pelan-pelan aku berbalik, mencoba senatural mungkin seperti aku baru saja terbangun.
Senyum penuh makna langsung tersungging di bibirku saat menyaksikan apa yang terjadi. Jason beberapa kali mendorong tubuh Selena untuk segera berbaring, dan memaksa menyelimuti tubuhnya. Sedangkan Selena mencoba berkali-kali bangkit dengan bibir yang dimanyunkan, persis seperti anak kecil. Ya tuhan, Selenaku, apa dia tak sadar ekspresinya bisa membuat K.O hati pria manapun yang melihatnya?.
"Please deh, gue mau jaga. Lu cuekin gue aja kayak lu dengan cueknya melanggar keputusan gue"
Oke sampailah kita kepada kondisi saat emosi Selena meledak. Dia memandang Jason sengit, benar-benar tak terima dengan apa yang Jason lakukan.
Jason terlihat menghela nafas, dia lalu mendudukkan tubuhnya yang sedari tadi berjongkok, memandang Selena tepat di matanya.
"Gue lebih tahu makhluk ini daripada lu, dan gue.. lebih kuat"
Ucapnya dengan nada membujuk, mencoba meyakinkan Selena.
Selena masih memandang Jason sengit sebelum akhirnya menghela nafas berat. Dengan kesal Selena membaringkan tubuhnya dan mengangkat selimut tinggi-tinggi, hingga menutupi kepalanya. Sementara Jason hanya memandang tingkah kekanak-kanakan milik Selena sebelum akhirnya senyum tipis muncul di bibirnya.
Aku langsung membalikkan tubuhku begitu Jason bangkit dan mulai melakukan pengawasan lagi. Ya tuhan, jiwa jombloku benar-benar meronta-ronta melihat apa yang baru saja kusaksikan. Tapi seketika kesadaran menghantam diriku, sebagai seseorang yang sudah bersama Selena sejak kecil, harusnya aku paham betapa tidak pekanya Selena. Oh Jason yang malang, sepertinya jalanmu untuk mendapatkan Selena masih sangat panjang.
Aku hanya bisa membatin, merasa ikut prihatin dengan nasib Jason. Ini adalah kali pertama aku dan Selena melihat Jason, walaupun kami berada di sekolah yang sama. Tapi ada kemungkinan sih kenapa kami baru kali ini melihat Jason, mengingat sekolahku punya kelas 'khusus' yang diperuntukkan untuk siswa-siswa yang punya kepintaran di atas rata-rata. Melihat pembawaan Jason, sepertinya dia termasuk ke dalam kelas khusus. Para siswa di kelas khusus sedikit tertutup dan jarang bergaul. Bahkan kami sempat bercanda bahwa menemui selebritis lebih gampang daripada menemui siswa kelas khusus.
Bukan tanpa alasan aku merasa heran dengan kenyataan bahwa ini kali pertama kami bertemu Jason mengingat penampilan Jason yang di atas rata-rata. Sekalipun tidak setampan Sean, tapi Jason tetap masuk ke dalam kategori tampan. Tubuh tinggi walaupun tidak atletis, dan yang paling menarik adalah matanya yang berwarna seperti madu, warna yang cukup jarang ditemui.
Sekalipun Jason sedikit aneh, tentu saja dengan wajah seperti itu, seharusnya Jason masuk ke dalam radar teman-teman cewek sekelasku yang kekuatan radar cogannya melebihi keakuratan alat pendeteksi kekuatan gempa. Sudah pasti Jason akan menjadi topik pembicaraan. Tapi jujur saja, ini kali pertama aku dan Selena mendengar nama Jason. Saat aku melemparkan tatapan penuh tanya ke arah Selena, mengisyaratkan apakah dia mengenal Jason atau tidak, Selena hanya menggendikkan bahu, tanda tak mengetahui apapun.
Lagi-lagi rasa curigaku kembali muncul, belum lagi dengan perkataan Jason yang menegaskan bahwa dia paham dengan makhluk yang kami hadapi. Bukankah dengan kata lain, ini bukan kali pertama Jason menghadapi mereka?
***
"Pagi"
__ADS_1
Wajah Leah langsung muncul di pandanganku begitu membuka mata. Dengan malas aku langsung mendudukkan tubuh, mengucek mataku lalu mengedarkan pandangan ke sekitar. Huftt, ternyata semuanya bukan mimpi. Apa yang kualami kemarin adalah hal yang sangat nyata.
"Rapatnya mau mulai nih"
Leah menepuk bahuku, menyadarkanku dari lamunan yang bercampur dengan perasaan separuh mengantuk.
"Selena sama Jason mana?"
Tanyaku begitu menyadari tak ada Selana disini.
Leah langsung menunjuk ke arah pintu.
"Biasa, lagi berdebat soal siapa yang harus meriksa sekitar"
Leah tertawa kecil "Ya ujung-ujungnya malah meriksa bareng-bareng"
Aku hanya mengangguk mendengar perkataan Leah. Sepertinya Jason tipe cowok yang langsung bertindak.
"Malangnya Jason"
Aku dan Leah kompak menghela nafas. Kami langsung berpandangan, benar-benar kaget saat kami menyadari kami memiliki opini yang sama.
"Lu mikir gitu juga?"
Tanyaku bersemangat ke arah Leah.
Leah langsung menganggukkan kepalanya
"Gue udah pernah bilangkan, kalau gue dan Jason udah sahabatan dari rahim, jadi gue paham tindak-tanduk Jason. Nggak biasanya Jason secerewet dan seperhatian ini di kepada orang lain"
Leah berhenti sejenak, lalu meletakkan jari telunjuk di dahinya
"Perasaan gue gak pernah denger deh Jason punya cewek yang dia suka, jadi sejak kapan ya dia mulai perhatian ke Selena? Apa cinta pada pandangan pertama?"
Aku hanya mengangkat bahu sebagai jawaban pertanyaan Leah yang kini memandangku, mengajakku untuk bersama-sama memecahkan misteri 'Jason dan perasaannya'. Sebenarnya mungkin saja sih, Jason jatuh cinta pada pandangan pertama, mengingat betapa mempesonanya Selena.
Ucapku sambil menggelengkan kepala, menghembuskan nafas berat
"Selena nggak peka sampe ke ubun-ubun, eh sampe ke tingkat sel deh. Dia nggak bakal paham sama maksud kecerewetan Jason ke dia"
Ucapanku langsung disambut dengan anggukan kepala Leah, sepertinya dia paham apa yang kumaksud. Disaat kami tengah mengasihani nasib Jason, tiba-tiba pintu terbuka, diiringi dengan sosok Jason dan Selena yang masuk ke dalam. Wajah Jason terlihat datar seperti biasa, sementara wajah Selena tertetuk, terlihat menahan kesal. Wah wah wah Selena ini, apa dia tak tahu merengut pagi-pagi bisa membuat wajah cepat keriput?.
"Udah bangun, Nels?"
wajah ditekuk Selena langsung berubah begitu melihatku. Dengan setengah berlari, dia menuju ke arahku dan sedikit menghantamkan bahunya ke bahu Jason saat dia melewati Jason. Aku dan Leah saling berpandangan, melanjutkan kembali kegiatan mengasihani Jason walau hanya melalui tatapan mata.
"Kita ngebahas tindakan selanjutnya"
Perintah Jason tenang.
Dengan sigap kami mulai mengambil persediaan makanan kaleng, memasaknya sebentar lalu duduk secara melingkar.
"Sebelumnya, gue mau ngelanjutin penjelasan gue dulu perihal zombie yang kita hadapi"
Seluruh perhatian sontak tertuju ke arah Jason. Kecuali aku, yang kini terbagi antara memerhatikan Jason dan makanan yang ada di depanku.
"Para zombie yang baru terkena virus ini biasanya lebih aktif di malam hari daripada saat siang. Pergerakan mereka lebih lambat. Tapi, untuk mereka yang sudah jadi zombie seutuhnya lebih berbahaya bahkan 1000 kali lipat daripada saat baru menjadi zombie. Oleh sebab itu kita harus keluar dari hutan ini, atau mendapatkan bantuan sebelum mereka jadi zombie seutuhnya"
Aku terhenyak "Berarti kita butuh waktu 1 minggu untuk kabur dari hutan ini?"
Jason menganggukkan kepalanya. Ya tuhan, 1 minggu? Keluar hutan sambil menghindari para zombie? Seketika otakku tak sanggup membayangkan betapa melelahkannya hari-hari yang harus kulewati.
"Apa kota belum terinfeksi virus ini?"
__ADS_1
Tanya Selena, matanya tertuju lurus ke arah Jason
"Apa keluarga kita baik-baik saja?"
Jason terdiam sejenak, kelihatan berpikir keras, mencoba memilih-milih apa jawaban yang harus dia berikan.
"Aku.. Tidak tahu"
Dia lalu menelan ludah, memandang ke arah cahaya matahari yang menembus dari jendela.
Aku termenung sejenak, apa yang dikatakan Selena benar juga. Apakah virus ini belum menjangkiti kota?. Sekalipun Jason bilang bahwa penyebab munculnya virus ini di dalam hutan adalah karena mobil pengangkut milik pusat penelitian Christoff yang mengangkut objek penelitian terbalik di dekat sini, tidak menutup kemungkinan bahwa virus ini sudah mencapai kota.
Seketika kepalaku berdenyut, apakah hidupku bakalan mirip seperti drama-drama atau film zombie yang sering ku tonton?. Ah, apa kabarnya ayah dan ibu? Adikku. Ya tuhan, aku benar-benar menyesal sempat bertengkar dengan adikku sebelum berangkat hanya karena dia tak sengaja merusak album milik boyband korea kesukaanku, BTS.
Sial! andai saja handphone kami tak ditahan, mungkin aku bisa menghubungi keluargaku sekarang. Sekalipun sinyal disini buruk, setidaknya kami bisa lebih mudah berkomunikasi dan menemukan pertolongan, hanya perlu mencari tempat yang ada sinyalnya.
Sebuah ide berkelebat di otakku
"Apa tak sebaiknya kita kembali ke lokasi kemah saja? Mengambil HP agar bisa lebih mudah mendapat pertolongan?"
Leah langsung memandangku dan mengangguk cepat
"Betul apa yang dibilang Nelsie, setidaknya kita bisa mencari pertolongan"
Jason menghela nafas sejenak, memandang kami secara bergantian sebelum akhirnya berhenti tepat pada Selena
"berarti harus siap menghadapi semua konsekuensinya?"
Aku langsung menelan ludah. Usulan itu hanya keluar secara spontan dari mulutku. Tapi apa yang dikatakan Jason benar, jika kami memutuskan kembali ke tempat berkemah, otomatis kami harus berhadapan dengan para zombie yang mungkin masih berkeliaran.
"Kita bisa ngebunuh para zombie, tenang gue kuat. Zombie bisa dibunuhkan, Jas?"
Tanya Leah dengan menggebu-gebu.
Jason menganggukkan kepala
"Bisa, tembah tepat di tengah dahinya"
Aku dan Selena saling berpandangan. Ya ampun, megang senjata aja nggak pernah, apalagi nembak tepat sasaran di tengah-tengah kepala?.
"Sebenarnya menurut gue ini ide yang bagus juga, mengingat para zombie belum naik level dan bergerak lambat. Tapi tetap saja, kita harus punya keterampilan dengan senjata yang cukup"
Ucap Jason.
Leah langsung menepuk dada, terlihat bangga akan sesuatu
"Tenang aja, gue udah sering ikut berburu dengan ayah gue, jadi kemampuan gue nggak perlu diragukan lagi"
Aku hanya mengerlingkan mata mendengar ucapan Leah. Ya memang sih dia sudah ahli menembak. Tapi bagaimana dengan kami? Memangnya bisa menghadapi zombie sebanyak itu sendirian?. Apalagi kami belum tahu berapa orang yang sudah menjadi zombie dan berapa orang yang mungkin selamat.
"Kalau lu, gue nggak ragu. Tapi Selena dan Nelsie gimana?"
Jason mengalihkan tatapannya ke arah aku dan Selena.
"gue bisa belajar"
Jawab Selena mantap dengan tangan mengepal.
Leah langsung bertepuk tangan senang dan melangkah menuju kotak yang berisi senjata. Aku hanya mengerlingkan mata jengah. Jangan-jangan yang punya gubuk ini adalah sindikat kriminal? Kalau tidak bagaimana mungkin ada begitu banyak senjata di rumah ini? Ya walaupun aku sangat bersyukur sih.
"Ayo bunuh para zombie"
Teriak Leah sambil mengangkat senjata, yang langsung disahuti dengan teriakan Selena.
__ADS_1
Aku hanya bisa menghela nafas berat, jika sudah bersemangat seperti ini, Selena bakalan sangat sulit dihentikan, dan tentu saja aku mencium aroma-aroma tindakan melelahkan yang bakal menyeret diriku.
Dan benar saja, mulai detik itu juga kami mulai berlatih menembak.