Mr. Zombie

Mr. Zombie
Deathster


__ADS_3

Seekor burung terlihat hinggap sebentar disalah satu ranting pohon, sepertinya sedang melepas lelah setelah seharian terbang. Tiba-tiba sebuah tangan meraih leher si burung kecil, membuatnya mengeluarkan cicitan terkejut, perlahan menjadi nyaring sebelum akhirnya hilang bersamaan dengan kepalanya yang terkulai.


Pemilik tangan itu menyeringai, memandang burung yang sudah tak bernyawa di tangannya sejenak. Lalu dalam 1 kali gerakan, burung itu sudah berakhir di dalam mulutnya. Dikunyah tanpa ampun hingga suara gemeretak terdengar.


Dia lalu mengangkat tangannya, memasukkan ke dalam mulut dan mengeluarkan serpihan tulang yang terselip di giginya. Tetapi tiba-tiba dia mengenduskan hidungnya berkali-kali, berjalan bahkan berlari tergesa, seakan mencium sebuah aroma yang menarik perhatiannya. Lagi-lagi seringaian lebar muncul di mulutnya, sepertinya dia menemukan makanan lezat hari ini.


***


"Hah hah hah"


"Hah hah hah"


Deru nafas kami saling bersahutan begitu kaki kami berhenti berlari. Tepat di tengah belantara yang benar-benar asing.


Aku menarik dan menghembuskan nafas secara teratur, memenuhi paru-paruku dengan oksigen, menetralkan detak jantungku yang berdetak layaknya marching band. Ternyata aku punya bakat terpendam yang baru kusadari, yaitu lari kencang secepat kilat. Mungkin setelah serangan zombie ini aku bisa mengajukan diri sebagai atlit lari.


Setelah nafasku kembali normal, aku menjatuhkan tubuhku ke tanah. Duduk berselonjor sambil menggoyangkan kaki. Kalau terus-terusan begini sepertinya aku tak perlu melakukan program diet untuk mendapatkan tubuh sintal bak gitar spanyol. Huft, orang-orang yang pengen kurus mungkin bisa menjadikan ini sebagai olahraganya, yaitu menghindari kejaran zombie.


"Kalian nggak apa kan?"


Tanya Jason, mengamati kami satu persatu. Memastikan tak ada satupun yang terluka.


Kami bertiga sontak menganggukkan kepala. Sepertinya teriakan Jason saat memerintahkan kami berlari ke pintu depanlah yang menyelamatkan kami. Kalau tidak aku tak sanggup membayangkan, mungkin saat ini tubuhku sudah jadi rebutan para zombie. Hiii.


Jason lalu ikut duduk bersamaku. Mulai mengeluarkan bekal makanan yang kami punya. Mendistribusikannya dengan porsi yang adil


"Makan ini sekarang. setelah ini kita harus mencari tempat yang dekat dengan sungai untuk mengisi air"


Setelah itu dia mulai sibuk mengisi peluru ke dalam senjata. Kami makan dalam suasana hening. Sepertinya serangan zombie tadi menimbulkan kesan horor bagi kami.


Seketika aku menyadari, bukan para zombie yang bergerak ke arah kamilah yang membuat kami ketakutan seperti ini. Tetapi sosok yang tadi menatap dari balik pepohonan. Suara raungannya seakan masih menggema di telingaku, membuat bulu kudukku berdiri.


"Jas.."


Saat aku ingin menanyakan perihal sosok itu kepada Jason, Leah tiba-tiba berbicara.


Dia terlihat memandangi makanan yang belum habis di tangannya. Berbanding balik denganku yang sudah tak bersisa, habis masuk ke dalam perut.

__ADS_1


Refleks aku melihat mereka satu persatu dan menyadari bahwa hanya makananku sajalah yang sudah habis. Sedangkan Jason, Leah bahkan Selena belum menghabiskan makanannya.


Diam-diam aku menyembunyikan tangan ke balik punggungku. Malu juga kalau mereka tahu aku tetap bisa makan dengan lahap sekalipun baru saja menghadapi para zombie yang bentuk dan baunya membuat perut mual. Hohoho, maaf saja teman-teman. Dalam prinsip hidupku, mau bagaimanapun situasinya, makan adalah hal yang terpenting selain rebahan.


" Itu apa?"


Leah melanjutkan pertanyaannya, melemparkan pandangan menyelidik ke arah Jason. Ah, sepertinya Leah juga melihat sosok itu. Tentu saja kami bertanya-tanya siapa sosok itu. Lagi-lagi aumannya menggema di telingaku.


Aku menggosok telingaku pelan. Sepertinya auman itu secara rutin terasa di telingaku. Apakah aku terlalu terkejut ya? Sampai aumannya seakan mengikutiku.


Saat melihat Jason tak bersuara, Leah kembali melanjutkan, kali ini dengan nada emosi


"Tolong ceritakan semuanya Jason. Jangan sembunyikan apapun!"


Teriaknya frustasi.


Jason masih diam, tak bergeming dari posisinya yang sedang memeriksa senjata. Tiba-tiba tanpa bisa kami cegah, Leah berjalan cepat, melayangkan tinjunya tepat di pipi Jason.


***


"Bagaimana perkembangan vaksinnya?"


Alfonso memandang Phillia yang sedang sibuk menyuntikkan sebuah cairan ke tangan A1.


Phillia hanya tersenyum simpul, menutup mata A1 yang terlihat meringis menahan sakit. Alfonso seharusnya menugaskan A1 untuk mencari dan melindungi putranya, bahkan dia menitipkan beberapa vial vaksin untuk berjaga-jaga.


Tapi Alfonso teringat sesuatu hal yang penting. Hal yang sempat dia lupakan karena terlalu panik memikirkan putra semata wayangnya, yaitu suntikan stemcell yang harus A1 terima untuk terakhir kalinya.


Alfonso menghela nafas, kalau saja Phillia tak mencegat A1 mungkin saat ini dia sudah berangkat ke hutan lepas hanya untuk berakhir dengan kematian konyol.


Suntik stemcell yang dimiliki oleh pusat penelitian Christoff bukanlah stemcell biasa. Stemcell ini bereaksi lebih cepat dan menimbulkan rasa sakit luar biasa. Alfonso meringis saat mengingat darimana asal sel punca ini, yaitu berasal dari embrio yang masih hidup di dalam kandungan dan berasal dari orang tua dengan kriteria tertentu.


A1 membutuhkan suntik ini mengingat segala prosedur penelitian yang sudah dia terima saat kecil benar-benar merusak habis organnya. Alfonso dan Phillia baru menyadari hal ini beberapa bulan lalu saat A1 tiba-tiba ambruk tanpa sebab.


"Menurutmu, bagaimana?"


Tanya Phillia, ada nada jenaka di dalam suaranya.

__ADS_1


Kening Alfonso langsung berkerut, terlihat tak suka dengan tingkah Phillia yang tak menanggapinya serius


"Ayolah, Phil"


Desaknya tak sabaran.


Senyum Phillia berganti menjadi kekehan. Dia lalu mengangkat bahunya santai


"Apalagi, kan kau tahu vaksinnya sedang diperbanyak"


"Ayolah Phil, kau tahu bukan itu maksudku"


Phillia tertawa sambil menggelengkan kepalanya, satu lagi sifat Alfonso yang tak berubah, yaitu ketaksukaannya dengan jawaban yang ambigu.


"Mereka sudah menjual vaksin sebenarnya dengan para milyarder yang siap menggelontorkan dana besar"


"Sial! Theodore sialan!"


Alfonso tak repot-repot memelankan suaranya saat mengumpat, bahkan terang-terangan memaki pimpinan tertinggi pusat penelitian ini.


Theodore Moore, pimpinan tertinggi pusat penelitian Christoff sekaligus pendiri pusat penelitian ini. Sosok pria tua sukses dermawan dan baik hati, senang membantu yang membutuhkan.


Alfonso meringis, bahkan kemampuan akting aktor peraih oscar saja masih kalah jauh dibandingkan kemampuan akting Theodore. Mempertontonkan kebaikan seluas-luasnya, melakukan kejahatan setertutup-tutupnya.


Theodorelah yang pertama kali membujuk Alfonso untuk bergabung di pusat penelitian ini hingga harus berakhir menjadi peneliti 'kotor' tanpa ada jalan keluar.


Dalam hati Alfonso bersyukur sempat menyisakan beberapa vial vaksin 'sebenarnya' di tempat rahasia. Tak sia-sia dia ikut andil dalam pembuatan vaksin sehingga dia bisa menyembunyikan tanpa terendus siapapun.


***


Dada Leah terlihat naik turun, wajahnya mengeras. Tak cukup satu pukulan, dia kembali melayangkan pukulan lagi setelah melihat Jason tak berniat untuk membuka mulutnya.


Aku dan Selena bahkan terpaksa harus memeluk Leah, mencegahnya untuk bertindak lebih brutal. Melihat ekspresi tenang Jason membuatku menyadari bahwa mereka adalah defenisi sahabat sejak rahim yang sebenarnya. Pukulan Leah seakan menjadi kebiasaan untuknya dan tidak membuatnya terkejut sedikitpun, malah kami yang lebih terkejut.


Jason menghela nafas sejenak. Dia memandangi Leah yang masih terlihat emosi, lalu berkata


"Dia.. adalah Deathster"

__ADS_1


__ADS_2