
Sial! mereka sudah terkepung.
Jason terus-terusan mengumpat dalam hati. Dia lalu berdiri dan mengacungkan senjata.
"Ja..Jas?"
Panggil Leah gugup.
Hanya dengan mendengar suara dentuman yang perlahan mendekati mereka saja sudah cukup membunyikan alarm bahaya di kepala Leah.
Ya, mereka akan menghadapi situasi hidup dan mati. Ah lebih tepatnya situasi hidup atau menjadi zombie.
"Semuanya tembak sebaik-baiknya"
Teriak Jason yang langsung ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Selena dan Leah. Dengan tangan gemetar mereka mengangkat senjata, membidik arah yang berbeda satu sama lain.
1.. 2.. 3.. 4.. 5.. 6.. 7.. 8.. 9.. 10.. 11.. 12.. 13.. 14.. 15.. 16.. 17.. 18.. 19.. 20.
Jason menghitung jumlah zombie yang Louis bawa dari suara langkah kaki mereka. Berarti mereka harus membunuh 6 atau 7 zombie perorang, mengingat Nelsie sepertinya belum bisa mengangkat senjata.
"Ada 20 zombie yang mendekati kita, bunuh sebanyak-banyaknya. Ingat, jangan terlalu banyak menggunakan peluru"
Jason menginformasikan apa yang dia ketahui kepada Leah dan Selena, membuat kedua gadis itu sontak menelan ludah. Ada 15 zombie dan 1 deathster? Bagaimana mungkin mereka akan bertahan?.
"Jangan gemetar, fokuslah menembak"
Ucap Jason, memberi semangat kepada Leah dan Selena yang kini gemetaran.
Selena menarik nafas dalam-dalam. Benar kata Jason, saat begini mereka tak boleh gemetar, bisa-bisa peluru yang akan dia tembakkan malah meleset dan tak tepat sasaran.
__ADS_1
Ayolah Sel, lo pasti bisa!
Selena menepuk-nepuk pipinya kuat-kuat. Mencoba mengembalikan semangat yang sempat hilang karena rasa takut.
Dia harus berani, karena memang tak ada jalan lagi selain bersikap berani dan menghadapi apa yang akan menghampiri mereka. Bahkan semenjak petaka ini pertama kali terjadi, Selena sudah mengikrarkan pada dirinya untuk berjuang hingga akhir, melindungi Nelsie dan juga dirinya sendiri.
Mereka harus selamat, mereka harus kembali ke kota. Walaupun Selena sangsi dengan pemikiran bahwa serangan zombie ini belum sampai ke kota.
Leah tiba-tiba berteriak, membuat Selena dan Jason sontak memandangnya dengan ekspresi bingung.
"Sorry, ini cara gue untuk menghilangkan rasa takut"
ucapnya sambil nyengir, lalu kembali fokus menghadap ke depan.
Suara dentuman langkah kaki terdengar semakin mendekat. Mereka semakin memfokuskan pandangan dan siap menembak.
Sedangkan Jason tak membutuhkan bantuan siapapun, kecepatan dan ketepatannya dalam menembak sudah cukup menumbangkan para zombie yang mendatanginya.
Louis yang berdiri tak jauh dari lokasi pertempuran terlihat terhibur dengan apa yang dia saksikan. Sejujurnya dia tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya malam itu. Yang dia ingat hanya seseorang yang menggigitnya dengan cepat tanpa bisa dia hindari.
Saat pertama kali membuka mata setelah dia digigit, yang Louis rasakan pertama kali adalah perasaan terbakar, seakan seluruh sel di tubuhnya meleleh. Dia juga begitu kelaparan dan sangat bersemangat saat melihat apapun makhluk hidup yang berada di depannya.
Louis sebenarnya jijik saat tangannya dengan santai merobek tangan salah seorang zombie, memakannya seakan itu adalah makanan yang wajar baginya.
Tapi di luar dugaan, dia justru menyukai rasa yang muncul di lidahnya. Membuatnya mulai memakani makanan mentah apapun yang bisa dia temukan, bahkan burung sekalipun.
Louis benar-benar tak punya kendali terhadap tubuhnya. Dia hanya berjalan tanpa arah, mengikuti insting kemana dia harus melangkah untuk menemukan daging mentah yang dia suka, baik segar maupun dari zombie lain. Dia bahkan mencoba memakan otak para zombie lain yang membuatnya langsung menyadari bahwa bagian otak adalah bagian yang paling dia suka.
Semenjak itu, organ tubuh lain tak memberi kepuasan bagi Louis. Dia hanya berfokus kepada otak dan hanya otak. Dan tentu saja, target utamanya adalah para zombie.
__ADS_1
Sekalipun dia mengenali wajah beberapa zombie dan melihat tatapan memelas di mata mereka, Louis tak ambil pusing. Bahkan dia dengan senang hati memakan otak sahabat dekat dan pacarnya.
Perubahan aneh pada dirinya baru dia rasakan 2 hari lalu. Tubuhnya tak lagi bergerak tanpa bisa dia kendalikan dan dia menemukan sebuah keunikan lain yang sangat dia suka. Dia mampu mengendalikan zombie lain! Bukankah itu kemampuan yang sangat menyenangkan?.
Awalnya dia menemukan aroma harum ini tak sengaja, saat dia kembali ke tenda, mencari zombie yang bisa dia mangsa otaknya.
Dari tenda, dia bisa mencium sebuah aroma yang sangat mengundang selera, berbeda dengan aroma para zombie yang selama ini dia makan.
Louis lalu mengikuti pemilik aroma itu, berhenti tepat 100 meter dari gubuk. Merasa senang bahwa sebentar lagi dia bisa merasakan hidangan yang sangat lezat.
Mungkin dia bisa pelan-pelan saja, memakan bagian tubuhnya satu persatu, sebelum berakhir di otak. Tapi Louis belum tahu diantara keempat orang itu, siapa yang memancarkan aroma harum ini.
Oleh sebab itulah dia memilih membuntuti mereka. Dan tentu saja dia membawa pasukan. Bahkan lebih dari 20. Dia sengaja menyuruh yang lainnya untuk diam dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang.
Louis memyeringai, merasa candu saat melihat rasa takut yang tergambar di wajah Leah dan Selena yang sedang menembak habis-habisan. Diantara mereka, hanya Jasonlah yang membuat Louis merasa waspada. Louis bisa merasakan bahwa Jason tahu banyak hal tentang zombie dan dirinya.
Tinggal 6 zombie yang tersisa. Sepertinya Louis terlalu menyepelekan kemampuan mereka. Louis menyeringai, lalu kembali mengaum, memanggil pasukan zombie lain yang memang sudah dia siapkan demi mendapatkan si pemilik aroma harum ini.
Mata Leah membelalak lebar saat melihat pasukan zombie yang terus berdatangan. Tak jauh berbeda dengan Leah, Selena sama paniknya, bahkan peluru yang dia punya sudah hampir habis.
Sedangkan Jason hanya bisa mengumpat dalam hati. Sial! Dia tak pernah menyangka bahwa deathster akan sepintar ini. Jason sebenarnya sudah memikirkan kemungkinan bahwa Louis membawa pasukan tambahan. Dan sialnya, Louis benar-benar membawa pasukan.
Disaat Leah dan Selena sudah merasa pasrah dengan apa yang akan menimpa mereka, suara tembakan terdengar dari arah datangnya zombie.
Tak lama seorang pria muncul dengan satu tangan memegang pistol, dan satu lagi meremas kepala para zombie hingga hancur.
Selena langsung memuntahkan isi perutnya saat melihat apa yang terjadi di depan matanya. Bagaimaba pria itu dengan santainya menghancurkan kepala zombie. Jason langsung bergerak melindungi Selena yang masih muntah. Mata Jason melirik sekilas dan langsung mengenali siapa yang datang.
Dengan begini Jason bisa bernafas sedikit lebih lega, A1 benar-benar bantuan yang paling berguna di saat-saat seperti ini.
__ADS_1