Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia

Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia
Bab 11. Bencana yang Menimpa Vanakan


__ADS_3

Rumah Arthur sudah kembali menjadi sepi.


Arthur membawa Blacky ke halaman belakang rumah. Awalnya raut wajah Arthur terlihat sedikit ragu. Akan tetapi, begitu melihat kura-kura yang berbaring di pinggir kolam, Arthur pun menghela napas lega dan melepaskan kekhawatiran di hatinya.


Kura-kura itu berbaring dengan santai di pinggir kolam sambil berjemur di bawah sinar matahari dan tidak menghilang.


Sepertinya di dalam kolam tidak ada monster. Dengan begitu, Arthur tidak perlu pindah rumah.


Arthur memerintah White untuk mencuci piring, lalu dia berbaring dengan malas di kursi halaman depan.


Meskipun mataharinya terik, rindang pepohonan menutupi sehingga membuat udara menjadi lebih sejuk.


Pada saat beristirahat, Arthur tak sengaja menyentuh batu giok yang ada di dalam sakunya.


"Daripada tidak ada kerjaan, lebih baik au memperbaiki batu giok ini saja," batin Arthur.


Arthur menjadi lebih bersemangat. Dia langsung mengeluarkan peralatan dan mulai menyempurnakan ukiran phoenix pada batu giok.


...


Pada saat ini, di sebuah Kastil besar dengan jarak ribuan mil dari rumah Arthur yang merupakan kediaman Vanakan.


Bintang dan dua orang lainnya berjalan dengan tergesa-gesa. Akan tetapi, mereka malah tidak bertemu dengan seorang murid pun.


Pada saat ini, di tengah alun-alun kastil, sebuah pedang iblis hitam tertancap lurus di atas tanah dan memancarkan energi sihir yang aneh.


Seorang lelaki tua berdiri di depan pedang panjang dan terdiam cukup lama.


Setelah sekian lama, lelaki tua itu baru menghela napas panjang.


"Ketua, sebagian besar murid sudah diasingkan, tapi ada sebagian murid yang tidak bersedia untuk pergi. Mereka bilang ingin hidup dan mati bersama dengan Ketua," ujar seorang wanita berbaju merah yang berjalan mendekat.


Lelaki tua itu berkata dengan suara berat, "Kalau mereka tidak mau pergi, usirlah mereka. Kelak, Vanakan akan lenyap, jadi lebih baik usir saja mereka."


Tubuh wanita berbaju merah itu bergetar dan matanya berkaca-kaca sambil berkata, "Ketua, apakah kita benar-benar tidak ada kesempatan untuk menang?"


"Tidak ada." Lelaki tua menggelengkan kepala dan berkata dengan pahit, "Aku tidak bisa memprediksi tingkatan alam iblis itu. Aku bahkan tidak bisa mencabut pedang yang dia tancapkan di sini. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menjadi lawan orang itu?"

__ADS_1


Lelaki tua itu tiba-tiba berkata, "Dek, kamu juga harus pergi."


Raut wajah wanita berbaju merah itu terlihat tenang, seolah sudah tahu sejak awal bahwa lelaki tua itu akan mengatakan hal tersebut. Akan tetapi, wanita itu menggelengkan kepalanya dengan kuat.


Lelaki tua itu menghela napas dan berkata dengan sedih, "Hah, kenapa kamu juga seperti itu?"


"Ketua, ketua, gawat! Nona dan yang lainnya sudah kembali."


Seorang murid tiba-tiba berlari mendekat dan berkata dengan panik.


"Apa?!"


"Badung!"


Raut wajah lelaki tua dan wanita berbaju merah itu berubah drastis.


"Ayah, Ibu, aku pulang." Bintang sudah berlari mendekat. Wajahnya terlihat merah dan tampak sedikit bersemangat.


"Untuk apa kamu pulang? Apakah kamu sudah gila?!" Lelaki tua itu hampir saja berteriak.


Wajar saja lelaki tua itu panik. Begitu fajar tiba, iblis itu akan datang. Akan tetapi, mereka malah kembali pada saat yang seperti ini, bukankah itu sama saja seperti mencari mati?


Bintang dengan keras kepala berkata, "Bu, aku tidak mau pergi. Aku buru-buru kembali untuk membantu Ayah!"


"Kamu bisa membantu apa? Cepat pergi!" ujar lelaki tua itu dengan tegas dan wajah yang serius.


Akan tetapi, Bintang tidak merasa kesal sedikit pun. Dia malah berkata dengan semangat, "Ayah, kali ini kami bertemu dengan seorang pertapa di luar. Beliau pasti bisa membantu Ayah. Percayalah padaku."


Wanita berbaju merah itu menghela napas dan berkata dengan lembut, "Untuk bertemu dengan seorang pertapa bukanlah hal yang mudah. Sekalipun memang ada, atas dasar apa beliau mau bantu kamu?"


Wanita itu yakin bahwa Bintang pasti ditipu oleh orang. Sebab, pengalaman Bintang di lingkungan sosial tidak terlalu banyak. Terlebih lagi, saat ini Vanakan dalam bahaya, jadi dia pasti akan memikirkan segala cara.


Bintang buru-buru berkata, "Bu, aku tidak berbicara sembarangan. Tempat master itu tinggal saja bisa menciptakan energi yang tiada batas. Bahkan, air minum saja penuh dengan energi yang sebanding dengan obat ajaib."


Wanita berbaju merah itu melihat Bintang dengan malas. Sekarang dia mulai khawatir bahwa otak putrinya yang rusak, bukan tertipu.


"Bu, Ibu harus percaya padaku. Kak Alfan, cepat keluarkan barangnya!" desak Bintang yang ingin membuktikan bahwa dirinya benar.

__ADS_1


Lelaki tua itu dengan kesal berkata, "Alfan, aku hanya bisa pasrah karena juniormu membuat onar. Tapi, kenapa kamu malah ikut-ikutan?"


"Guru, kami benar-benar bertemu dengan seorang master!" Alfan mengeluarkan gulungan lukisan dengan hati-hati dan membukanya dengan pelan-pelan.


Alfan membukanya dengan sangat hati-hati karena Arthur menggunakan kertas lukisan yang biasa. Alfan khawatir akan membuat kertas lukisan itu menjadi sobek.


"Selembar lukisan? Kalian ingin mengandalkan ini untuk menyelamatkan Vanakan?" Lelaki tua itu tertawa sangking kesalnya dan menggelengkan kepala dengan kecewa.


Jika menggunakan otak sedikit untuk berpikir, setidaknya tidak akan tertipu oleh selembar kertas lukisan biasa.


Sungguh menggelikan ketika melihat ekspresi mereka bertiga yang menganggap lukisan kertas itu seperti harta karun.


Bastian menjelaskan, "Ketua, lukisan kertas ini berbeda."


Pada saat ini, gulungan lukisan akhirnya terbuka lebar. Bintang meletakkan lukisan tersebut di depan lelaki tua itu dan berkata, "Ayah, coba lihat."


Awalnya lelaki tua itu tidak terlalu menganggap serius dan hanya melihatnya sekilas. Akan tetapi, pada detik itu juga, dia menyipitkan matanya dan sekujur tubuhnya gemetar.


"Ini, ini ...."


Tenggorokannya terasa kering dan ingin rasanya dia menempelkan bola matanya di atas gulungan tersebut. Raut wajahnya seketika juga menjadi bersemangat dan kagum.


Baginya, kertas yang ada di hadapannya ini bukan hanya sekedar gulungan lukisan, melainkan Dewa Perang yang memegang pedang panjang dan sedang menantang ratusan juta pasukan.


Aura membunuh pun seolah melambung ke arahnya.


Bangga, arogan, dingin!


Lelaki tua itu merasakan hal yang sama seperti orang yang ada di dalam gambar itu.


Bum!


Sebuah aura melambung tinggi ke atas dari tubuh lelaki tua itu.


Jika melihat dari kejauhan, sebuah tornado muncul di atas Kastil dan bentuk anginnya seperti pedang panjang.


Seluruh murid di Vanakan pun merasakan energi aura tersebut. Kemudian, pedang panjang mereka malah mengeluarkan suara pekikan yang tidak jelas.

__ADS_1


Bahkan, pedang iblis yang tertancap di tanah juga mulai bergetar.


Ekspresi wanita berbaju merah itu berubah dan dengan senang berkata, "Cepat suruh semua orang keluar. Ayahmu sudah berhasil melakukan penembusan!"


__ADS_2