
Hanya saja, mereka melihat seekor anjing kampung berwarna hitam perlahan muncul dan berjalan dengan santai ke arah mereka.
Kesenangan mereka seolah dipatahkan begitu saja. Mereka benar-benar merasa sangat kecewa.
Macan Tutul dengan dingin berkata, "Anjing kampung dari mana ini? Hari ini suasana hatiku sedang baik, jadi aku tidak akan memakanmu. Sana pergi!"
Anjing hitam itu masih berdiri di tempat dan tiba-tiba membuka mulutnya. Lalu, ia berkata, "Macan Tutul, lebih baik kamu bunuh diri saja. Jangan memaksaku untuk turun tangan."
"Eh? Ternyata seekor Monster Anjing."
Macan Tutul itu terdiam sesaat. Namun, setelah itu, dia berkata dengan mengejek, "Anjing hitam, apakah kamu berkultivasi hingga menjadi bodoh? Apakah kamu tahu dengan siapa kamu berbicara?"
Tiga orang lainnya juga bengong. Mereka hampir saja mengira bahwa pendengaran mereka salah.
Monster Anjing itu keren sekali. Begitu membuka mulut langsung menyuruh orang untuk bunuh diri. Ia benar-benar sangat keren.
"Lupakan saja. Majikanku akan segera datang. Aku malas berbicara omong kosong denganmu." Blacky menggelengkan kepala dengan sangat arogan. Jika bukan karena penampilannya yang hanya seekor anjing biasa, orang lain mungkin akan mengira orang besar mana yang akan datang.
"Hehe, cari mati!"
Macan Tutul tertawa saking kesalnya. Begitu mulutnya terbuka lebar, aroma amis pun tercium dan mengarah ke Blacky. Ia ingin menelan Blacky dalam satu hisapan.
Akan tetapi, tubuh Blacky sama sekali tidak bergerak, yang terangkat hanya salah satu kakinya saja.
Tiba-tiba, angin menjadi kencang dan langit menjadi gelap.
Di tengah awan hitam, sebuah kaki anjing raksasa menyembul keluar dari awan dan hendak menekan Macan Tutul.
Kaki anjing itu sama persis seperti milik Blacky. Hanya saja, jauh lebih besar berkali-kali lipat, seperti sebuah gunung.
__ADS_1
Macan Tutul berteriak ketakutan. Kemudian, ia langsung berubah menjadi bentuk aslinya. Bulu di sekujur tubuhnya juga sampai berdiri, seperti landak, dan berusaha melarikan diri.
Hanya saja, Macan Tutul baru menyadari bahwa sekelilingnya sudah dikepung dan tidak bisa bergerak sama sekali. Ia hanya bisa melihat kaki anjing raksasa itu menerkamnya.
"Aku hanya seekor Monster Macan kecil. Aku mohon ampun padamu." Macan Tutul meminta ampun dengan pasrah.
Bum!
Pada detik berikutnya, kepala Macan Tutul itu meledak.
Belum sempat kaki anjing itu mendarat, Macan Tutul sudah tidak sanggup menahan tekanan dari kaki anjing itu.
Setelah itu, kaki anjing pun menghilang tanpa jejak. Langit gelap kembali menjadi terang, seolah apa yang terjadi barusan hanyalah halusinasi.
Ketiga kultivator itu menatap Blacky tanpa berani bernapas sedikit pun, seolah mereka sudah menjadi patung.
Ketiga kultivator itu mengangguk dengan bengong.
Mereka merasa ketakutan, tetapi juga penuh harapan.
Melihat Monster Anjing yang begitu hebat, pasti majikannya juga merupakan sosok orang yang menakjubkan dan kuat.
Banyak orang yang mengatakan bahwa tokoh-tokoh besar biasanya suka berperan menjadi orang biasa dan bermain di dunia manusia biasa. Ternyata hal itu benar terjadi. Akhirnya mereka bisa bertemu langsung.
"Blacky!"
Arthur berteriak dengan cemas dan langsung mengejarnya dengan langkah kaki yang besar. Setelah itu, dia menempeleng kepala Blacky dan berkata, "Apakah kamu tidak mendengar aku sedang memanggilmu? Untuk apa kamu lari?! Membuatku kesal saja!"
Semakin memikirkannya, Arthur semakin kesal. Lalu, dia mengusap kepala Blacky dengan sangat kuat.
__ADS_1
Melihat pemandangan ini, sekujur tubuh tiga kultivator itu menegang dan merinding. Jantung mereka bahkan hampir melompat keluar.
Bagaimanapun, itu adalah Monster Anjing yang dapat menutupi langit dengan satu kaki. Menurut mereka, sekalipun guru mereka, salah, sekalipun seluruh Vanakan bersatu, juga tidak akan bisa menahan hantaman kaki itu.
Akan tetapi, saat ini, Monster Anjing itu malah dipukul dengan sembarangan oleh orang. Dunia ini benar-benar sudah gila.
Mereka bahkan tidak berani melihat terlalu lama karena takut Monster Anjing itu akan marah.
Setelah memberi pelajaran pada Blacky, Arthur baru melihat ke arah medan perang.
Dua pemuda, seorang gadis dan juga seekor bangkai Macan Tutul yang kepalanya meledak. Sementara itu, Keisha dalam keadaan pingsan, berbaring di bawah salah satu pohon yang tidak jauh dari sana.
'Sepertinya, Macan Tutul itu sudah berhasil ditaklukkan oleh ketiga kultivator. Ternyata diriku cukup beruntung juga bisa bertemu dengan kondisi terbaik seperti ini,' batin Arthur.
Arthur buru-buru berlari ke sana untuk mengecek kondisi Keisha. Dia langsung menghela napas lega begitu tahu bahwa Keisha hanya pingsan saja.
"Namaku Arthur, terima kasih karena sudah membunuh monster ini. Kalian tidak hanya menyelamatkan Keisha, tapi juga memberikan ketenangan untuk Kota Matahari." Arthur berterima kasih kepada tiga kultivator itu.
Ketiga kultivator itu menunjukkan ekspresi canggung dan menjawab dengan lemah, "Tuan Arthur terlalu sungkan. Sebenarnya kami tidak melakukan banyak hal."
Mereka menyadari di tubuh Arthur tidak ada kekuatan spiritual sedikit pun. Bagaimanapun melihatnya, dia terlihat seperti orang biasa. Oleh karena itu, mereka pun bergumam dalam hati, "Tindakan seorang master benar-benar tidak dapat diprediksi. Setidaknya dia bisa melakukan apa pun yang diinginkan."
Seorang gadis dari ketiga kultivator yang mengenakan gaun biru itu berkata dengan suara lembut, "Namaku Bintang Rasha, aku pernah bertemu dengan Tuan Arthur sebelumnya. Dua orang ini adalah seniorku, namanya Alfan Cole dan Bastian Osmond."
"Ternyata Nona Bintang, Tuan Muda Alfan, dan Tuan Muda Bastian." Arthur menyapa mereka satu per satu. Setelah itu, dia memalingkan pandangannya ke arah bangkai Macan Tutul itu dan terkagum-kagum.
Sebenarnya bentuk asli Macan Tutul hanyalah Macan Tutul biasa, hanya saja ukurannya jauh lebih besar berkali lipat.
Ini juga pertama kalinya Arthur melihat Monster di dunia kultivasi dan dalam jarak yang begitu dekat. Sayangnya, Arthur tidak bisa melihat proses bagaimana monster itu dibunuh. Arthur sedikit menyayangkan hal itu.
__ADS_1