Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia

Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia
Bab 9. Lezat


__ADS_3

Arthur sedang duduk di halaman, sedangkan Blacky berbaring di samping kakinya.


Sementara itu, White sedang membuat api unggun di depannya.


Bangkai macan tutul sudah dibersihkan. Saat ini daging sudah ditusuk di atas panggangan dan terdapat api arang yang menyala di bawah panggangan.


White memutar panggangan dan seketika berperan sebagai seorang koki profesional.


Meskipun Arthur bisa melakukan segalanya, dia tidak akan melakukan pekerjaan kasar. Apalagi, White sudah mencapai kecerdasan buatan yang paling tinggi. Bahkan, di dalam sistemnya juga sudah dimasukkan resep yang tak terhitung jumlahnya dengan cara masak juga sangat mudah. Tak hanya itu, masakannya juga jauh lebih enak daripada hotel bintang lima.


"Permisi, apakah Tuan Arthur ada di rumah?" Terdengar suara tidak asing dari depan pintu.


Ada orang yang datang pada saat jam makan.


Arthur membuka pintu, lalu melihat dua wanita yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum dan berkata, "Ternyata kamu, selamat datang."


Thania memperkenalkan seseorang dan berkata, "Tuan Arthur, ini adalah Ibuku."


"Halo, namaku Aisyah Faziz. Maaf sudah mengganggu dan datang ke sini tanpa diundang." Aisyah menatap Arthur dan menyadari bahwa Arthur persis seperti yang dikatakan oleh Thania. Jika dilihat dari penampilannya, Arthur benar-benar terlihat seperti orang biasa.


Arthur juga menatap Aisyah dan merasa sangat takjub. Pantas saja dia bisa melahirkan wanita cantik seperti Thania.


Arthur membuka pintu dan tersenyum berkata, "Pas sekali kalian datang. Kebetulan aku sedang menyiapkan makan siang."


Aisyah mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Aisyah melihat sekilas White yang sedang sibuk di dalam rumah dan raut wajahnya tampak terkejut.


"Bu, itu yang aku maksud, White. Ia sangat pintar!" Thania memperkenalkan pada ibunya. Lalu, dia melambaikan tangan kepada White dan berkata, "Halo, White."


"Halo, wanita cantik, izinkan aku untuk menyiapkan makanan lezat untuk kalian. Kalian pasti akan menyukainya." Entah perasaan saja atau bukan, Arthur merasa suara White berubah menjadi lebih sedikit menggoda.


Apakah ia sedang menggombal?


Benar saja, Thania langsung terkikik.


Sedangkan Aisyah benar-benar merasa tercengang.

__ADS_1


Pengalaman Aisyah lebih banyak daripada Thania, makanya dia merasa lebih terkejut.


Sebenarnya benda spiritual apa ini? Ia tak hanya bisa memasak, tetapi juga bisa berkomunikasi dengan manusia. Jika dibandingkan dengan benda spiritual itu, Tungku Alkimia yang ada di istana kekaisaran layaknya sebuah besi karatan saja.


"Duduklah, daging akan matang sebentar lagi. Kalian benar-benar sangat beruntung," ujar Athur sambil tersenyum.


Arthur menatap daging macan itu dengan penuh harap. Pada kehidupan sebelumnya, jangankan makan, dia hanya pernah melihat macan di kebun binatang. Terlebih lagi, ini adalah daging macan tutul, sebuah kesempatan yang sulit didapatkan.


"Apakah benar-benar akan enak?"


Thania mengusap hidungnya dan matanya yang indah menatap panggangan dengan curiga.


Sebagai seorang tuan putri, Thania sudah sering makan makanan yang enak. Oleh karena itu, dia tidak tahu apa yang berbeda dari panggangan ini.


Arthur hanya tersenyum dan tidak berbicara apa-apa.


Kultivasi memang sangat berkelas, tetapi di dunia ini masih ada banyak hal yang levelnya setara dengan zaman kuno di kehidupan sebelumnya. Bahkan, metode memasak pun masih ketinggalan zaman.


"Cz, cz, cz!"


Tak lama kemudian, tetesan minyak panas merembes keluar, lalu perlahan menetes ke arah daging macan tutul yang montok dan menetes ke dalam api arang.


"Harum sekali!" Thania terkejut dan menatap daging macan itu dengan berbinar.


Glek!


Thania dan Aisyah pun tidak bisa menahan diri dan menelan air liur.


Mereka sudah mencoba yang terbaik untuk menahan diri, tetapi aroma makanannya terlalu harum. Jadi begitu mereka menghirup dengan pelan, aromanya seolah masuk ke dalam jiwa mereka.


Harum, sangat harum.


Mereka tidak pernah menyangka bahwa makanan dapat mengeluarkan aroma yang begitu memikat. Mereka bahkan tidak pernah memiliki keinginan yang begitu kuat terhadap obat ajaib.


Melihat ekspresi mereka yang seperti itu, Arthur merasa sangat puas.


Baik Thania ataupun Aisyah, mereka adalah wanita yang sangat cantik. Yang satu masih muda dan elegan, yang satu lagi dewasa dan anggun. Yang paling penting adalah identitas mereka seorang kultivator. Ini jauh lebih berkelas daripada pakaian yang menggoda. Melihat mereka yang merasa malu karena terlihat norak, menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagi Arthur.

__ADS_1


Arthur tersenyum dan berkata, "Sudah siap. White cepat sajikan pada mereka."


"Baik."


White pun memberikan respons pada Arthur. Kemudian, pisau mengkilap yang ada ditangannya dengan lincah memotong daging macan itu dan meletakkannya di piring.


Tak lupa juga White menjelaskan, "Semua kekuatan macan biasa berkumpul di bagian kaki. Oleh karena itu, otot di bagian kaki pastinya lebih besar dan dagingnya juga lebih berasa. Jadi, rasanya juga lebih enak."


"Terima kasih."


Thania dan Aisyah mengucapkan terima kasih, lalu melihat daging macan itu dengan semangat.


Warna luarnya terlihat sedikit gosong dan mengkilap karena mentega, lalu terdapat saus di bagian dalam daging berwarna merah. Kepulan udara panas pada daging juga keluar bersamaan dengan aromanya. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan ngiler.


Thania tanpa sadar sudah menjilat bibirnya dan membuka mulut kecilnya untuk mengigit.


Hap!


Kulit bagian luarnya terlihat sedikit bergetar dan mengeluarkan suara garing. Rasa yang lezat hampir membuat Thania berteriak.


Daging yang dibakar dengan arang saja sudah sangat harum. Apalagi, ditambah dengan bumbu tambahan yang membuat aroma daging menjadi lebih harum, empuk, garing, segar, asin, pedas, dan semuanya menyatu dengan sangat sempurna. Seketika, semua aroma meledak di dalam mulut dan kelezatan ini hampir membuat Thania hanyut.


Sangat enak, benar-benar sangat enak.


Thania tanpa sadar mempercepat kecepatan mengunyahnya, hingga air liur yang ada di dalam mulutnya juga hampir menetes.


Kebahagian muncul dengan begitu saja.


Meskipun Aisyah terlihat makan dengan anggun, tanpa sadar dia sudah makan potongan daging yang ketiga.


Thania buru-buru berkata, "Bu, kamu makannya cepat sekali!"


Mulut Aisyah sedikit bergetar dan wajahnya sedikit menegang. Lalu, dia dengan kesal berkata, "Kamu ya, jaga bicara kamu."


Namun, Aisyah kembali memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya sambil berbicara dengan Thania. Jelas sekali bahwa dia melakukannya di bawah alam sadarnya.


Suara Thania tiba-tiba kembali terdengar, "Bu, tunggu, aku yang sudah melihat potongan daging itu sedari tadi."

__ADS_1


...


__ADS_2