
Arthur menatap Alfan yang tiba-tiba tidak jadi berbicara dan bertanya dengan penasaran, "Tapi kenapa?"
Alfan buru-buru tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa. Pantas saja aku merasa sangat segar ketika masuk, ternyata karena udaranya berubah menjadi lebih segar."
Arthur tersenyum dan berkata, "Duduklah."
Ketiga kultivator itu pun duduk.
"Teh yang ditanam belum siap untuk dipetik. Jadi, sepertinya kalian hanya bisa minum air putih saja," ujar Arthur.
Bintang menjawab, "Tuan Arthur terlalu sungkan, kami tidak merasa keberatan kok."
Arthur tersenyum, lalu mengambil sebuah gelas dan mengisi air dari dispenser untuk mereka bertiga.
"Terima kasih, Tuan Arthur." Bintang mengambil gelas yang diberikan. Lalu, matanya sedikit menyipit dan berkata dengan terkejut, "Tuan Arthur, kalau boleh tahu, benda yang berisi air apa itu benda apa?"
"Itu adalah Dispenser, hanya barang biasa," ujar Arthur sembarangan.
Ternyata benar-benar benda ajaib.
Ketiga kultivator itu sampai mati kutu. Bahkan, air yang ada di gelas mereka bukanlah air biasa, melainkan cairan energi.
Energi yang terkandung dalam segelas air saja sudah sebanding dengan ramuan tingkat rendah.
Dispenser ini jelas merupakan benda ajaib tingkat atas. Air biasa bahkan bisa menjadi air spiritual begitu disaring. Hal ini benar-benar sulit untuk dipercaya.
Arthur juga tidak terlalu peduli terhadap ketiga kultivator yang tampak misterius itu. Dia hanya berkata dengan datar, "Aku ke halaman belakang sebentar. Kalau kalian ingin minum air, kalian bisa mengambilnya langsung dari Dispenser."
Setelah itu, Arthur berjalan ke halaman belakangan dengan menenteng anak ikan dan kura-kura sambil berkata, "White, kamu pergi membersihkan bangkai Macan Tutul untuk makan nanti."
Di dalam ruang tamu, ketiga kultivator itu saling menatap dan duduk dengan gelisah.
Meskipun mereka bertiga sangat tertarik pada Humidifier dan Dispenser itu, mereka tetap tidak berani mendambakannya.
Alfan menelan air liurnya dan berseru, "Bin ... Bintang, sepertinya kita bertemu dengan orang yang sangat luar biasa hebat."
Bintang mengangguk, lalu menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan serius, "Master ini pasti melampaui semua orang yang pernah kita ketemui sebelumnya. Dari pengamatan saat ini, sepertinya master ini adalah orang baik. Entah bagaimanapun itu, kita tidak boleh menyinggung beliau sama sekali. Bahkan kalau bisa, kita harus menjalin hubungan baik dengannya dan pastinya akan menjadi keberuntungan terbesar kita selama hidup ini."
Bastian berkata, "Bintang, jangan khawatir, kami mengerti."
Lalu, pada saat ini, Alfan menatap tong sampah di samping kakinya dan terkejut.
Di dalamnya ada sebuah gulungan, sepertinya gulungan lukisan.
"Alfan, apa yang kamu lakukan? Jangan sembarangan menyentuh barang master!" Bintang tiba-tiba menjadi panik dan buru-buru mengingatkan.
__ADS_1
"Sepertinya ini tong sampah."
Seusai berbicara, Alfan mengambil gulungan lukisan di dalamnya dengan hati-hati dan membuka perlahan dengan tangannya.
Alfan sedikit penasaran dengan apa yang dibuang oleh master.
Pada gulungan itu, muncul sesosok bayangan orang.
Sosok bayangan tersebut digambar dari tampak belakang dengan mengenakan baju besi dan helm perang. Orang itu berdiri di depan semua pasukan musuh, di tangannya tampak menggenggam sebuah pedang panjang dan terlihat berani.
Guratan-guratannya terlihat sederhana, seperti hanya digambar dengan seadanya saja.
Namun, saat melihat gambar itu, Alfan menjerit dan melompat ketakutan. Kemudian, dia berseru, "Pembunuhan! Ada pembunuhan dalam lukisan ini!
Bintang dan Bastian menatap gulungan itu secara bersamaan.
Hanya dengan melihat sekilas, mereka seolah sudah tenggelam ke dalam gambar. Mereka seperti sedang menghadapi tekanan serangan yang mengerikan dari puluhan ribu prajurit. Tak hanya itu, mereka juga seperti menghadapi gairah dan niat membunuh yang terpancar dari Dewa Perang yang seolah menuju ke arah mereka.
"Fiuh!"
Alfan buru-buru menutup gulungan itu. Setelah itu, mereka bertiga baru tersadar dari lamunan. Mereka sudah dipenuhi dengan keringat pada saat itu juga.
"Sebenarnya siapa orang yang ada di balik gambar itu? Hanya tampak belakang saja sudah menunjukkan aura membunuh yang begitu kuat dan bahkan melebihi Ketua Vanakan kita," ujar Bastian ngeri.
Bintang sudah tidak tahu harus bagaimana mendeskripsikan suasana hatinya sendiri dan berkata dengan gemetar, "Ini bukan yang paling penting. Yang terpenting justru orang yang mampu melukisnya dan ... membuangnya begitu saja ke dalam tong sampah!"
Pada saat ini, Arthur sudah kembali. Sementara itu, White menenteng bangkai Macan Tutul ke dapur sambil sibuk mempersiapkan makanan.
Melihat ekspresi mereka bertiga yang ragu-ragu, Arthur pun bertanya, "Kenapa?"
Bintang memegang gambar itu dan berkata dengan canggung, "Maaf, kami malah menyentuh barang Anda tanpa izin."
"Tidak apa-apa, ini hanya draft yang aku gambar dengan asal dan memang sudah tidak berguna." Arthur tersenyum acuh tak acuh.
Hanya karena Arthur berbicara seperti itu, posisinya di mata ketiga kultivator itu langsung meningkat tak terbatas.
Draft gambar yang asal saja bahkan bisa mengandung makna peperangan. Sebenarnya tingkatan alam apa ini?
Bastian menatap Arthur dengan penuh harap, lalu berkata dengan gugup, "Tuan Arthur, apakah gambar ini boleh untuk kami?"
Alfan dan Bintang seketika menahan napas dan mengepalkan tangan tanpa sadar, seperti murid yang sedang menunggu hasil tes mereka dengan cemas.
Melihat ekspresi ketiga orang itu, Arthur pun tidak bisa menahan tawanya. Dia tidak menyangka bahwa ternyata kultivator juga menyukai lukisan.
Arthur melambaikan tangan dan berkata, "Bukankah itu hanya draft gambar saja? Ambillah."
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Tuan Arthur."
Mendengar perkataan itu, mereka bertiga terlihat bahagia. Kemudian, mereka berdiri bersamaan dan tampak bersemangat.
Lukisan ini harus segera dikirim ke Vanakan.
Mereka tahu bahwa ini adalah masalah penting, jadi mereka tidak berani menunda waktu.
Bintang membungkuk kepada Arthur untuk memberi hormat dan berkata, "Tuan Arthur, terima kasih banyak atas lukisan yang Anda berikan. Tapi, sekarang kami perlu kembali ke Sekte. Harap dimakumkan."
"Kenapa buru-buru sekali? Tidak jadi makan?"
"Tuan Arthur, kami bertiga masih ada urusan penting. Lain kali, kami yang akan mentraktir Tuan Arthur sebagai gantinya," ujar Bintang.
Arthur mengangguk dan berkata, "Baiklah, sampai jumpa lain kali."
"Tuan Arthur, kami pamit dulu."
Mereka bertiga menyimpan gulungan itu dengan sangat hati-hati dan bergegas turun gunung.
Arthur menggelengkan kepala sambil menatap punggung ketiga orang itu. Padahal, Arthur sudah menyiapkan paket daging macan combo. Sayang sekali, mereka kurang beruntung.
Pada saat yang bersamaan, di bawah kaki gunung.
Dua sosok wanita cantik sedang berjalan menuju gunung.
Kedua wanita itu berjalan di pegunungan hutan, seperti peri di pegunungan.
Salah satu diantaranya adalah Thania. Sementara itu, seorang wanita yang datang bersamanya mengenakan gaun panjang berwarna ungu dengan alis yang terlihat kalem dan anggun, seperti dewi yang terhormat.
Wanita bergaun ungu itu terlihat lebih berisi daripada Thania.
Dibandingkan dengan Thania, wanita bergaun ungu itu lebih terlihat seperti buah persik matang yang hampir meneteskan sari buahnya.
Wanita bergaun ungu itu terus mendengar Thania berbicara, hingga akhirnya dia berkata, "Apakah kamu yakin tidak sedang bermimpi?"
Benda spiritual yang ajaib, semangka yang mengandung energi besar dan juga seorang master pertapa. Kedengarannya seperti karangan cerita.
Thania menarik wanita bergaun ungu itu dan berkata, "Bu, aku sangat yakin bahwa itu bukan mimpi. Lagi pula, kamu lihat sendiri kan kalau aku sudah naik dua tingkatan alam langsung. Ini tidak mungkin bohongan, 'kan?"
Wanita bergaun ungu itu masih merasa ragu dan berkata, "Kalau benar seperti yang kamu katakan, berarti orang itu memang seorang master yang bertapa dan tidak muncul di hadapan dunia."
"Bu, ayo cepat ikut aku naik ke atas gunung. Aku yakin setelah Ibu melihatnya, Ibu pasti akan terkejut," ujar Thania dengan sedikit tidak sabaran.
Wanita bergaun ungu itu menghela napas. Tentu saja dia tahu apa yang direncanakan oleh putrinya.
__ADS_1
Sejak awal Thania ingin membatalkan pernikahannya. Sekarang begitu ada kesempatan, tentu saja dia akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.
Sebagai ibunya Thania, bagaimana mungkin dirinya ingin mendorong putrinya ke dalam lubang api? Hanya saja, sebagai bagian dari istana kekaisaran, dia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Dirinya hanya bisa berharap bahwa master ini benar-benar memiliki solusi untuk membantu Thania.