
Beberapa hari terakhir ini, tidak ada tamu yang datang. Kehidupan Arthur pun menjadi tenang kembali.
Hari ini, Arthur makan enak sampai kekenyangan dan membawa pancingan ke halaman belakang.
Kura-kura itu berbaring di atas batu besar di tepi kolam dan berjemur di bawah sinar matahari dengan mata menyipit. Ia terlihat sangat nyaman.
'Melihat kura-kura seperti itu, di dalam kolam jelas tidak ada monster. Lalu, kemana semua ikan yang aku pelihara?' pikir Arthur.
Arthur masih tidak percaya dengan monster dan duduk di samping kura-kura sambil lanjut memancing.
Kura-kura ini masih remaja, sepertinya usianya setengah dari Arthur. Kura-kura itu hanya membuka mata sebentar untuk melihat Arthur sekilas dan kembali menutup matanya lagi dengan malas.
Arthur tersenyum dan menghempaskan tangan.
Byur.
Pancingan itu terlempar ke udara dengan sempurna seperti busur dan mendarat tepat di tengah kolam.
Di atas permukaan kolam muncul ombak kecil dan pancingan ikan pun perlahan-lahan tenggelam.
Air di kolam sangat jernih seperti kaca. Akan tetapi, tidak ada satu pun ikan yang berenang di dalam air. Bahkan, anak ikan yang baru saja dimasukkan Arthur ke dalam kolam pun sudah menghilang tanpa jejak.
Sebuah bayangan raksasa perlahan membuka matanya. Ia melihat sekilas pancingan yang ada di depan matanya. Kemudian, ia mengayunkan ekornya dan berenang menuju kedalaman kolam. Ia bahkan meninggalkan jejak keemasan di sepanjang jalan.
Setengah jam kemudian.
Arthur sedikit mengayun-ayun dan pancingan pun muncul dari dalam air.
Arthur menatap pancing kosong dengan tanpa ekspresi. Sejak awal dia sudah tahu bahwa pancingan itu akan kembali dengan kosong.
"Aneh, aneh sekali."
__ADS_1
Arthur menggelengkan kepalanya sambil menatap kura-kura itu dan bergumam, "Kura-kura, seandainya kamu bisa bicara, kamu pasti bisa memberitahuku sebenarnya apa yang terjadi dengan kolam ini."
Kura-kura sudah tertidur dan tidak bergerak.
Arthur berdiri dengan tak berdaya dan menepuk debu yang ada di bokongnya. Setelah itu, dia pergi.
Arthur memutuskan untuk tidak memelihara ikan di kolam lagi. Seandainya ingin makan ikan, dia akan membeli langsung di Kota Matahari.
Arthur meletakkan pancingan di tempat semula dan menutup pintu, lalu berkata, "Blacky, ayo, kita pergi Kota Matahari."
Kota Matahari masih sama ramai seperti sebelumnya.
Maya membawa Keisha berjalan-jalan di kota. Begitu melihat Arthur, dia buru-buru berteriak, "Keisha, Tuan Arthur datang. Cepat berterima kasih pada penyelamatmu."
Gadis kecil yang rambutnya dikepang itu menoleh dengan bengong. Dia menatap Arthur dengan tatapan kosong dan tidak berbicara, seolah jiwanya sudah melayang.
Arthur terkejut dan berkata, "Bibi Maya, Keisha ...."
Arthur mengerutkan kening. Hatinya merasa sakit begitu mengingat Keisha yang sebelumnya sangat ceria.
"Bi Maya, apakah ada cara untuk memulihkannya?" tanya Arthur.
"Aku sudah bertanya kepada beberapa orang. Mereka semua bilang harus sering-sering mengajak Keisha berbicara. Dengan begitu, masih ada kesempatan untuk menyadarkannya." Setelah Maya ragu-ragu sejenak, dia pun berkata dengan serius, “Tuan Arthur, kamu kan orang yang berpendidikan. Boleh Bibi meminta tolong padamu untuk meluangkan waktu mengobrol dengan Keisha? Siapa tahu omonganmu bisa membantu Keisha."
"Aku pasti akan menemaninya." Arthur mengangguk dengan sungguh-sungguh dan menganggap masalah ini sebagai hal penting.
Maya memegang sekeranjang telur di tangannya dan berkata, "Tuan Arthur, hari itu kamu pergi dengan terburu-buru, jadi aku tidak sempat berterima kasih padamu. Kamu harus menerima ini."
Arthur menggelengkan kepalanya dan tersenyum pahit, lalu berkata, "Bi Maya, aku tidak bisa menerima ini. Aku tidak membantu apa-apa sebelumnya."
"Tuan Arthur, kamu tidak perlu begitu sungkan. Ketiga Guru itu saja bahkan memujimu. Aku sedang berpikir bahwa mereka sebagai seorang kultivator pasti tidak akan menyukai telor pemberianku ini. Tapi, aku harap kamu tidak mempermasalahnnya." Maya meletakkan telur itu di tangan Arthur.
__ADS_1
Arthur hanya bisa menerimanya dengan tersenyum pahit.
Setelah berpamitan dengan Maya dan Keisha, Arthur menghampiri kios penjual ikan itu.
"Pak, berikan aku dua ikan mas yang besar."
"Eh, Tuan Arthur sudah datang." Pemilik kios tersenyum dengan ramah dan berkata, "Tidak membeli anak ikan lagi?"
Arthur menggelengkan kepala dan berkata, "Aku tidak tahu apa yang salah dengan kolam itu. Anak ikan yang baru saja aku masukkan langsung menghilang begitu saja."
“Bagaimana dengan kura-kuranya?” tanya penjual itu dengan kening berkerut.
Arthur menjawab, "Kura-kura itu baik-baik saja dan berjemur di bawah sinar matahari seperti biasa."
“Ini benar-benar aneh.” Penjual itu juga bingung.
Jika tidak terjadi apa-apa pada kura-kura itu, berarti tidak ada monster di dalamnya. Akan tetapi, kenapa anak ikannya menghilang?
Arthur pun berkata dengan santai, "Lebih baik aku tidak memelihara, lain kali aku langsung membeli ikan saja."
"Pilihan Tuan Arthur untuk datang ke tempatku membeli ikan adalah sebuah pilihan yang tepat. Setiap hari aku selalu bangun pagi untuk pergi memancing di Danau Bulan. Jadi, aku bisa menjamin bahwa ikan-ikannya sangat segar dan lezat." Penjual itu tertawa dan berkata, "Bahkan, tuan putri dan pangeran istana kekaisaran saja sampai rebutan untuk beli."
Arthur bertanya dengan terkejut, "Benarkah?"
"Untuk apa aku berbohong padamu? Baru saja kemarin, putri kedua dari Dinasti Siam keluar untuk berjalan-jalan. Lalu, ketika dia melewati kiosku, dia bilang bahwa dirinya suka makan ikan. Oleh karena itu, putra dari Perdana Menteri dan putra dari Guru Negara langsung rebutan membeli ikan ini untuk diberikan kepada tuan putri. Mereka berdua bahkan hampir berkelahi di jalan."
Wajah penjual itu penuh dengan kebanggaan dan berkata, "Mereka semua adalah seorang kultivator, tapi bukankah pada akhirnya mereka tetap menyukai ikanku?"
Arthur sedikit terkejut karena dia tahu bahwa Thania sengaja melakukan hal itu. Pantas saja selama beberapa waktu ini dia tidak datang berkunjung, ternyata Thania sudah memulai aksinya.
Hanya saja Arthur tidak menyangka bahwa Thania bisa mengendalikan situasi dengan begitu cepat. Sepertinya putra dari Guru Negara dan putra dari Perdana Menteri cukup lemah.
__ADS_1