
Begitu Phoenix Api merah muncul, suhu di lokasi tiba-tiba meningkat dan langit dipenuhi dengan api.
Ruang di sekitarnya seolah dikepung dan semua orang tidak bisa bergerak.
"Aaah! Matilah kau!"
Raja Iblis berteriak dan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan energi. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan Phoenix, Raja Iblis tidak ada apa-apanya.
Phoenix Api membentangkan sayapnya. Ia bahkan tidak melirik Raja Iblis sedikit pun. Ia hanya mengibaskan ekornya dengan santai dan api mengerikan yang seperti naga langsung menutupi Raja Iblis. Kemudian, Raja Iblis pun lenyap di udara dalam sekejap.
"Prang!"
Pedang Iblis jatuh dari langit, sedangkan Raja Iblis sudah berubah menjadi uap.
Sementara itu, Phoenix Api kembali ke batu giok dan semuanya menjadi damai, seolah itu hanya mimpi.
"Ssh!"
Darel dan dua orang lainnya tercengang. Keringat tak henti menetes di wajah mereka seperti air. Mereka benar-benar sangat terkejut dan ketakutan.
"Raja Iblis ... sudah mati?"
Wanita berbaju merah itu menjilat bibirnya yang kering dan bergumam pada dirinya sendiri.
Siapa yang akan menyangka Raja Iblis perkasa yang membantai ribuan orang akan mati begitu saja di hutan pegunungan yang kurang dikenal ini? Bahkan, ia mati tanpa suara dan tidak meninggalkan apa pun.
"Master, seorang master yang tak tertandingi!"
Darel gemetaran dan suaranya sedikit bergetar.
"Bintang, kamu benar. Ini memang keberuntungan bagi kita karena bisa bertemu dengan master yang begitu hebat. Sayangnya gulungan lukisan yang master berikan padamu sudah hancur. Ayah khawatir hal itu akan membuat master menjadi tidak senang," ujar Darel dengan cemas.
Begitu master hebat seperti itu marah, seluruh Vanakan mungkin akan langsung musnah hanya dengan hembusan napas beliau saja.
Bintang juga baru tersadar dari keterkejutannya. Dia masih tidak percaya bahwa di dunia ini ternyata ada orang yang begitu hebat. Bagaimanapun, orang itu adalah seorang Raja Iblis. Dia bahkan belum bertemu dengan master, tetapi sudah mati dibunuh oleh sebuah batu giok.
"Ayah, kurasa tidak. Master bilang bahwa gulungan lukisan itu hanya draft saja. Beliau bahkan memberikannya dengan cuma-cuma kepada kami," ujar Bintang.
"Draft?" Darel sedikit terkejut dan kemudian tersenyum kecut, "Benar juga, gulungan itu mungkin benda berharga yang tiada taranya bagi kita. Tapi, bagi seorang master seperti itu mungkin hanyalah sebuah coretan."
__ADS_1
Tidak peduli baik itu wanita berbaju merah itu atau Darel, kekaguman mereka pada master itu sudah sangat tinggi.
Pokoknya, mereka tidak boleh menyinggung master itu dan wajib menjalin hubungan yang baik dengannya.
Ketika Bintang mendarat di tanah, dia menatap Pedang Iblis itu dengan penasaran.
"Bintang, jangan sentuh pedang itu!" Darel langsung menegur dan berkata, "Meskipun Pedang Iblis bisa dengan cepat meningkatkan kekuatan pengguna pedang, tetapi akan membuat pengguna pedang menjadi gila dan menjadi seorang monster yang hanya tahu membunuh!"
Ketika Bintang memikirkan kegilaan Raja Iblis, dia pun buru-buru menarik kembali tangannya.
Wanita berbaju merah itu juga berkata, "Bintang, Raja Iblis dibunuh oleh master di sini, itu berarti pedang ini adalah barang rampasan milik master itu. Jadi, kita tidak boleh sembarangan menyentuhnya."
Darel juga berkata dengan sangat yakin, "Ya, betul sekali."
"Apakah Tuan Arthur akan terpengaruh oleh pedang ini?" Bintang bertanya dengan cemas.
"Hahaha, kamu lupa siapa master ini? Sebuah Pedang Iblis bagaimana mungkin bisa mempengaruhi beliau." Darel tertawa dan berkata, "Begitu Senior datang, kita harus berterima kasih padanya."
Wanita berbaju merah itu merenung sejenak, lalu berkata dengan suara rendah, "Aku khawatir kedatangan kita yang tak diundang ini akan menyinggung Senior. Sepertinya kurang baik kalau kita tetap berada di sini. Bagaimana kalau kita pulang dulu dan baru datang lagi dengan membawa barang sebagai ucapan terima kasih?"
"Apa yang kamu katakan ada benarnya juga," ujar Darel sambil mengangguk.
Mereka bertiga pun tidak berani tinggal lama dan langsung terbang dengan pedang mereka.
Setelah beberapa saat, Arthur dan Blacky keluar dari hutan. Arthur memegang kelinci di tangannya dan kayu bakar di punggungnya, sedangkan Blacky membawa seekor rusa di mulutnya. Mereka kembali dengan bawaan yang penuh.
"Eh?"
Arthur terkejut saat melihat pedang hitam tergeletak di depan rumahnya.
Kenapa ada pedang hitam yang tertinggal di sini?
Apakah ada orang yang datang ke sini?
Seluruh tubuh pedang hitam itu gelap, bentuknya cenderung modis dan sedikit kuno.
"Pedang yang bagus!" Arthur mengangguk puas, "Pedang ini juga cukup tajam, kelak aku bisa menggunakan pedang ini untuk memotong kayu bakar."
Kapak sebelumnya sudah tua dan Arthur sempat berpikir untuk turun gunung dan membeli kapak baru. Akan tetapi, sekarang sepertinya sudah tidak perlu.
__ADS_1
Setelah itu, Arthur berjalan masuk ke rumah dengan membawa pedang di tangannya.
Namun, Arthur tidak menyadari bahwa pedang panjang di tangannya tiba-tiba memancarkan cahaya hitam. Gelombang energi iblis itu mengalir ke telapak tangannya dengan liar.
"Um?"
Arthur melihat pedang panjang itu dengan heran dan merasakan kehangatan di telapak tangannya.
Senjata yang bisa menghasilkan panas. Apakah pedang panjang ini yang dimaksud sebagai benda berharga di dunia kultivasi?
Arthur merasa sangat gembira karena menemukan benda berharga itu.
Arthur tidak melihat energi hitam yang perlahan mengembun di Pedang Iblis dan secara bertahap berubah menjadi bentuk kerangka.
Hanya saja, saat ini ekspresi Kerangka itu tampak kebingungan.
Apa yang terjadi? Jelas-jelas ada orang yang memegang dirinya, tetapi kenapa tidak terpengaruh oleh energi sihir sama sekali?
"Anak muda, apakah kamu ingin menjadi seseorang tak terkalahkan dan berdiri di puncak dunia?"
"Anak muda, apakah kamu menginginkan kekayaan yang tak ada habisnya dan mendapatkan semua wanita di dunia?"
"Anak muda, apakah kamu ingin membalas rasa malumu dan menginjak-injak semua orang yang pernah memandang rendah dirimu?"
Bisa-bisanya ada orang yang tidak terpengaruh pada ketiga mantra tersebut?
Tidak masuk akal!
Kerangka itu merasa bahwa dirinya menghadapi tantangan yang paling besar di dunia pedang.
Pada detik berikutnya, Kerangka merasa ada orang yang mengangkatnya ke atas dan meletakkannya di pojokan.
'Hehe, dasar manusia biasa, beraninya kamu menempatkanku di tempat seperti ini. Benar-benar kurang ajar,' batin Kerangka.
Kerangka itu tersenyum dingin dan berangsur-angsur berubah menjadi bentuk.
Baru saja Kerangka hendak menggerakkan Pedang Iblis untuk memberi pelajaran pada orang biasa itu, tiba-tiba sebuah cahaya putih menyerang ke arahnya sebelum ia melakukan aksinya.
"Bam!"
__ADS_1
Kerangka langsung hancur.