Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia

Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia
Bab 14. Kemarahan Kaisar


__ADS_3

Butuh waktu lama bagi Kerangka untuk tersusun kembali. Akan tetapi, ia terlihat jauh lebih  buram saat ini.


"Apa yang terjadi barusan?"


Kerangka melihat ke sekeliling dengan terkejut. Lalu, pada akhirnya memusatkan penglihatannya pada kuas yang ada di atas meja.


"Apa, Apakah itu ...."


Getaran dari dalam jiwa tiba-tiba melonjak ke seluruh tubuh dan tubuhnya bergetar tak terkendali.


'Level kuas itu bahkan jauh lebih tinggi dari diriku!' batin Kerangka.


Bagaimana mungkin?


Apakah itu benda ajaib?


Di tempat busuk seperti ini bagaimana mungkin ada benda ajaib?


Dan berada di tangan orang biasa?


Kepala Kerangka itu merasa berdengung dan muncul banyak pertanyaan yang tak terhitung jumlahnya.


Namun, Kerangka dengan cepat menenangkan hatinya dan hendak melanjutkan rencananya sendiri.


"Semua akan aman selama aku bisa diam-diam melewati kuas itu."


Niat jahat Kerangka mulai melonjak. Ia mulai mengontrol Pedang Iblis dan merangkak maju.


"Aku adalah sebuah Pedang Iblis dan tidak memiliki emosi. Aku tidak percaya bahwa aku tidak bisa mengendalikan orang biasa."


Pada saat ini, sebuah cahaya putih kembali menyerang.


"Bam!"


Kerangka kembali hancur berantakan.


Kali ini, kerangka itu tersusun kembali dan hanya menyisakan lapisan tipis yang sepertinya bisa menghilang kapan pun.


"Apa yang terjadi lagi?"


Kerangka mulai merasa sedikit depresi dan melihat ke sekeliling dengan bingung.


"Apa ... apakah itu papan catur?"


"Bukan, ini bukan papan catur biasa! Jangan-jangan ini benda ajaib juga?"

__ADS_1


"Sial!"


Kerangka mulai memaki dengan kesal di dalam hati. Apakah ini benar-benar orang biasa yang sangat biasa?


'Tidak peduli. Selama aku bisa mengendalikan orang biasa ini, semua benda ajaib ini akan menjadi milikku,' pikir Kerangka.


Meskipun sudah diserang dua kali, Kerangka masih sangat percaya diri bisa melawan orang biasa.


Kerangka dengan hati-hati melewati papan catur dan melihat pintu gerbang yang berada tidak jauh.


Selangkah demi selangkah dan Kerangka sudah hampir tiba di pintu gerbang.


Namun, sebuah cahaya keemasan tiba-tiba muncul, seperti sebuah jurus yang langsung memaksanya mundur kembali.


"Apa yang terjadi lagi?"


Kerangka sejak awal sudah menduga bahwa hal ini tidak akan semudah itu. Ketika melihat lebih dekat lagi, ia melihat ada sebuah rak buku yang berdiri di sampingnya. Di rak buku itu ada buku yang sudah menguning dengan tiga huruf yang dicetak tebal.


"Naskah Landas Tawara!"


Lapisan cahaya keemasan terpancar dari buku itu dengan kecemerlangan suci dan menjebaknya di sini.


"Ini?"


Kerangka itu melihat naskah itu dengan takjub. Ia sama sekali tidak bisa melihat ada keanehan sedikit pun.


Ketika pertapa melihat kerangka itu, ekspresinya langsung membeku. Dia mengatupkan kedua tangannya dan berkata dengan penuh kasih, "Ya Tuhan, aura jahat Anda berat sekali. Kenapa engkau tidak melepaskan kejahatan dan berbuat baik?"


"Apa-apaan ini? Matilah kau!" Kerangka mengangkat tangannya dan energi pedang menebas ke arah kepala botak.


Raut wajah pertapa itu terlihat serius. Namun, dalam sekejap, ekspresinya berubah dan berkata dengan dingin, "Kemampuanmu tidak seberapa, tapi beraninya kamu bersikap belagu."


Seketika, cahaya keemasan bersinar terang, seolah ada banyak pertapa yang sedang membacakan mantra dan mantra-mantra yang tak terhitung jumlahnya itu langsung menenggelamkan Raja Iblis.


Cahaya emas itu perlahan mengalir masuk ke dalam Pedang Iblis.


Tak lama kemudian, semua sudah kembali menjadi tenang.


Ngik!


Arthur mendorong pintu dan masuk ke dalam.


"Sepertinya barusan aku mendengar ada sesuatu."


Arthur melihat ke sekeliling dan terkejut melihat Pedang Iblis yang berada di depan pintu. Lalu, dia bergumam, "Seingatku, aku meletakkannya di pojokan, kenapa malah muncul di sini? Pantas dikatakan benda berharga, ternyata benda ini bisa bergerak sendiri."

__ADS_1


Arthur sedikit kegirangan dan menaruh kembali Pedang Iblis itu ke posisi semula.


Ketika berbalik dan keluar, Arthur merasa halaman rumahnya seperti kurang kehidupan. Oleh karena itu, Arthur berencana menanam beberapa bonsai.


Sayangnya, pada saat Arthur berkeliling di hutan pagi tadi, dia tidak melihat ada tanaman yang cocok.


Lain kali jika ada kesempatan, Arthur akan bertanya pada Thania. Bagaimanapun, Thania adalah seorang kultivator, lebih baik meminta bantuan Thania untuk mencari beberapa tanaman bonsai ke sini.


'Aku sudah mentraktirnya makan dan membantunya untuk mencari solusi. Meminta beberapa tanaman bonsai, sepertinya tidak terlalu berlebihan, 'kan? Lagi pula, Thania juga orang yang mudah diajak berkompromi, jadi seharusnya dia tidak akan menolak," pikir Arthur.


Arthur tidak tahu bahwa pada saat ini di istana kekaisaran, Kaisar tampak mengerutkan kening dan wajahnya penuh amarah di ruang kerjanya.


"Brak!"


Arthur menggebrak meja dengan keras dan berkata dengan marah, "Tidak masuk akal! Benar-benar tidak masuk akal! Sebenarnya aku yang Kaisar atau dia yang Kaisar?"


Semua pelayan di sekitarnya menundukkan tubuh mereka dan tidak ada yang berani bernapas. Mereka semua diam seperti jangkrik.


Tok, tok, tok.


Seorang pelayan datang dengan terburu-buru dari luar ruang kerja.


"Lapor Yang Mulia Kaisar, Tuan Putri Kedua dan Ratu ingin bertemu dengan Kaisar."


"Untuk apa mereka datang?" Kaisar sedikit terkejut dan berkata, "Masuklah."


Thania dan Aisyah berjalan masuk dan dengan serampak berkata, "Kami datang menemui Kaisar."


"Kenapa kalian datang?" Kaisar menatap mereka berdua dan bertanya.


Kerutan alis Kaisar perlahan menjadi sedikit lebih merengang. Dia melihat Thania dengan rasa sayang dan sedikit rasa bersalah.


Thania adalah putri pertamanya dan juga putri yang paling dia sayangi. Selama ini, dirinya selalu berusaha dengan sepenuh hati agar Thania menjalani kehidupan tanpa beban. Akan tetapi, sebagai seorang Kaisar, dia tidak dapat melakukan apa-apa.


"Kaisar, barusan kami mendengar Kaisar sedang marah-marah. Apakah terjadi sesuatu?" tanya Aisyah.


"Beraninya Satrio mengungkit masalah pernikahan putranya dengan Thania di depanku hari ini. Apakah dia sedang mendesak masalah pernikahan denganku? Benar-benar tidak masuk akal!" ujar Kaisar dengan suara rendah.


Aisyah dan Thania saling bertatapan sebentar dan menghela napas lega bersamaan.


Mereka tidak menyangka bahwa Satrio akan terus mendesak seperti itu dan semena-mena.


Untungnya sekarang mereka sudah mendapatkan solusi dari master itu. Jika tidak, mereka juga tidak tahu harus berbuat apa.


Pada saat ini, Aisyah tersenyum dan berkata, "Kaisar tidak perlu khawatir. Lagipula, bukan sesuatu hal yang buruk kalau Satrio mulai tidak sabaran."

__ADS_1


"Apa maksud Ratu?" Kaisar sedikit terkejut.


__ADS_2