
Begitu melihat Arthur, Maya pun seperti melihat secercah harapan dan buru-buru berkata, "Tuan Arthur, kemampuanmu hebat, aku mohon selamatkan Keisha. Dia dibawa pergi oleh monster."
Arthur terkejut dan penuh dengan keraguan.
Sosok gadis kecil yang lincah dan cantik itu terus muncul di benak Arthur.
Kesan Arthur pada Keisha sangat dalam. Rambut Keisha selalu di kuncir dua, dia juga selalu memanggilnya kakak setiap kali bertemu dengannya. Keisha pada dasarnya memang anak yang baik, sehingga semua orang menyukainya.
"Bibi Maya, kamu terlalu panik. Tuan Arthur memang memiliki banyak jurus, tapi dia hanya orang biasa saja. Kalau kamu menyuruhnya untuk mengejar Monster itu, bukankah malah akan membahayakan Tuan Arthur?"
"Menurutku, kamu jangan terlalu panik. Lagi pula, bukankah sudah ada tiga kultivator yang mengejarnya ke gunung? Mereka pasti bisa menyelamatkan Keisha."
"Mereka bertiga terlihat sangat hebat. Melihatnya saja juga tahu bahwa mereka bukan orang biasa. Keisha pasti akan kembali dengan aman."
"Hah, sebenarnya dunia apa ini? Monster saja sudah berani datang membuat masalah."
Semua orang mulai berdiskusi. Mereka sangat ingin membantu, tetapi mereka juga tidak berdaya.
Arthur merenung sejenak, lalu berkata, "Bibi Maya, Bibi jangan panik. Aku akan ke sana untuk mengeceknya. Aku pasti akan membawa Keisha kembali."
"Terima kasih, Tuan Arthur. Terima kasih, Tuan Arthur." Maya terus berterima kasih pada Arthur. Dia jauh lebih percaya Arthur daripada ketiga kultivator itu.
"Tuan Arthur, semua monster sangat mengerikan. Kalau kamu ke sana, itu sangat berbahaya."
"Kita hanya orang biasa. Lebih baik kita laporan kepada Kaisar dan meminta kultivator untuk mengurusnya saja."
Banyak orang yang mulai membujuk Arthur.
Menghadapi kekhawatiran semua orang, Arthur pun berkata, "Bukankah sudah ada tiga kultivator yang pergi ke sana? Aku pergi hanya untuk melihat apakah mereka membutuhkan bantuan atau tidak. Terima kasih atas perhatian kalian semua."
Arthur kekeh terhadap keputusannya ini. Setelah mengetahui lokasinya, dia pun langsung berangkat.
Monster itu melarikan diri ke gunung yang berada tidak jauh dari kota. Arthur mendaki gunung sambil memikirkan rencana dibenaknya.
Alangkah baiknya jika monster itu sudah ditaklukkan oleh ketiga kultivator itu, sehingga kedatangannya hanya untuk memastikan.
__ADS_1
Namun, jika ketiga kultivator tersebut bukan lawan monster itu, Arthur akan memegang erat batu giok yang diberikan oleh Thania. Arthur hanya bisa berharap pada barang ini saja. Thania adalah seorang kultivator dan sepertinya identitas dia juga tidak biasa. Semoga batu giok ini bisa memberikan efek mencengangkan.
Arthur pun tidak berani menunda waktu dan beristirahat.
Monster memakan manusia bukanlah sebuah mitos. Seandainya Arthur datang terlambat, Keisha pasti akan mati.
"Keisha, semoga kamu baik-baik saja," gumam Arthur.
Pada saat ini, Blacky yang sedari tadi mengikutinya tiba-tiba menambah kecepatan hingga menjadi sebuah bayangan. Kemudian, dia berlari ke atas gunung dengan sangat cepat.
"Blacky, apa yang kamu lakukan? Ini bukan saatnya untuk bermain. Berhenti!"
Arthur berteriak dengan keras. Akan tetapi, dia hanya bisa melihat Blacky menghilang dari pandangannya dan berkata dengan kesal, "Anjing bodoh! Apakah dia sudah bosan hidup?"
...
Pada saat ini, terjadi pertempuran besar di atas gunung.
"Aku sedang berpikir monster mana yang begitu berani merajalela. Ternyata seekor macan tutul!"
Tampak dua pemuda yang terlihat gagah dan seorang gadis membentuk segitiga untuk mengepung Macan Tutul itu.
"Hahaha, dasar tiga orang bocah! Beraninya meniruku untuk membunuh. Hari ini aku akan memakan kalian!" Macan Tutul itu tertawa terbahak-bahak. Tubuh mereka sudah berubah seperti postur tubuh manusia. Hanya saja, keempat anggota tubuh dan otaknya masih sama seperti semula.
"Tidak perlu berbicara omong kosong! Matilah kau!"
Ketiga kultivator itu menjulurkan pedang panjang di depan mereka. Lalu, meletakkan jari mereka di pedang dan dengan serempak berkata, "Pedang terbang!"
Ketiga pedang itu pun terbang ke atas dan mengepung Macan Tutul itu. Kemudian, energi pedang pun melonjak ke atas.
"Roar!"
Macan Tutul berteriak dengan marah. Lalu, ia membuka lebar mulutnya dan sebuah Alkimia Batin Monster Emas yang bersinar dengan cahaya merah aneh keluar dari mulutnya.
Alkimia Batin Monster itu membentuk perisai cahaya dan menutupi Macan Tutul.
__ADS_1
Ciang, ciang, ciang!
Pedang panjang tidak dapat menembus pertahanan perisai cahaya itu.
Ketiga kultivator itu tampak terkejut dan berkata dengan tidak percaya, "Bagaimana mungkin?"
Mereka bertiga masih kultivator pemula. Awalnya mereka ingin menjadi pahlawan kesiangan, siapa tahu setelah itu mereka menjadi terkenal karena kehebatan mereka. Akan tetapi, mereka tidak menyangka akan langsung bertemu dengan monster yang begitu kuat.
"Baru berkultivasi beberapa tahun saja sudah ingin menjadi pahlawan kesiangan? Aku yang sudah berkultivasi selama dua ratus lebih ini bisa langsung membunuh kalian hanya dengan satu tangan."
Macan Tutul itu terlihat sangat bangga. Seketika matanya tampak berbinar, Alkimia Batin Monster juga memancarkan tiga cahaya merah ke arah ketiga orang tersebut.
Ketiga orang itu tidak bisa mengelak sama sekali. Seketika, mereka pun terkapar ke tanah. Cahaya pedang panjang mereka pun redup dan jatuh ke tanah.
Macan Tutul menyimpan kembali Alkimia Batin Monsternya, lalu menatap mereka bertiga. Namun, tatapan matanya justru beralih ke arah gadis itu.
Macan Tutul itu menjilat bibirnya dan berkata, "Seorang wanita manusia ternyata memiliki kulit yang halus dan daging yang lembut. Penampilanmu yang seperti ini, pasti memiliki rasa yang sangat enak."
Pada saat ini, dua pemuda lainnya pun mulai ketakutan. Lalu, mereka berteriak dengan mata merah, "Monster gila! Kalau sampai kamu berani menyentuh junior kami, kamu pasti akan mati!"
"Kami adalah murid dari Vanakan. Vanakan pasti tidak akan mengampuni kamu begitu saja."
"Gunung ini adalah gunung tandus dan liar, untuk apa aku takut? Sekarang aku bisa saja memakan juniormu yang cantik ini di depan kalian langsung," ujar Macan Tutul itu dengan tidak berperasaan dan sangat kejam.
Ketiga kultivator itu pun ketakutan. Raut wajah mereka bahkan menunjukkan ekspresi ngeri.
Dua pemuda itu buru-buru berkata, "Lepaskan junior kami. Kalau mau makan, kamu bisa makan kami terlebih dahulu!"
Macan Tutul sama sekali tidak peduli dan perlahan-lahan berjalan ke arah gadis itu.
Tep, tep, tep.
Terdengar suara langkah kaki.
Dalam situasi keputusasaan ini, ketiga kultivator tersebut merasa gembira dan buru-buru mendongakkan kepala untuk melihat.
__ADS_1