Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia

Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia
Bab 20. Acar Dipadukan Dengan Bubur Putih Lebih Cocok


__ADS_3

Ngik!


Pintu terbuka.


Raut wajah Arthur tampak terkejut.


Arthur tidak menyangka sekali datang ternyata empat orang sekaligus dan menunggu dengan hormat di luar. Mereka bahkan tersenyum dengan sangat ramah ketika melihat Arthur.


Ternyata para kultivator ini datang beramai-ramai untuk bersilahturami padanya yang hanya orang biasa. Mereka bahkan bersikap dengan sangat sopan.


Arthur menatap Bintang dan berkata, "Ternyata kamu, selamat datang."


"Tuan Arthur, ini orang tuaku. Kedatangan kami kali ini untuk berterima kasih atas lukisan yang Anda berikan padaku sebelumnya," ujar Bintang dengan sopan.


Pada saat yang bersamaan, Darel dan istrinya juga mengangguk ramah kepada Arthur.


Melihat sikap mereka, tak heran mereka bisa mengajari Bintang menjadi sosok anak yang sopan.


"Lukisan yang aku berikan sebelumnya memang sudah tidak digunakan. Jadi, kamu tidak perlu berterima kasih akan hal itu. Ayo, silakan masuk," ujar Arthur sambil tersenyum.


'Ternyata mereka menyukai lukisanku. Sepertinya orang tua Bintang juga menyukai lukisan, makanya mereka datang berkunjung langsung,' pikir Arthur.


Arthur merasa hal ini sangat wajar. Sekalipun seorang kultivator, mereka pasti juga memiliki hobi. Apalagi, level lukisannya juga sudah mendapat pengakuan dari sistem. Jadi, gelar pelukis Arthur bukan didapatkan dengan sia-sia. Tidak mengherankan jika kultivator akan menyukainya.


"Maaf, sudah mengganggu," ujar Darel dengan sopan.


"Tuan Arthur, namaku Claudia Bramasta. Aku temannya Bintang, aku datang mengikuti mereka untuk bersilahturami." Claudia sangat gugup hingga tidak tahu harus berbicara apa.


Arthur tersenyum dan berkata, "Silakan masuk."


Arthur diam-diam berpikir dalam hati, 'Wah, ada wanita cantik lainnya nih. Selama perjalanan lima tahun ini, aku belum pernah bertemu dengan wanita cantik satu pun. Belakangan ini wanita cantik yang datang justru semakin banyak."


"Selamat datang!" Sebagai Pengurus Rumah, White pun keluar untuk menyambut.


Darel dan istrinya sudah pernah mendengar tentang White dari Bintang, makanya mereka tidak terlalu terkejut. Akan tetapi, berbeda dengan Claudia, tubuhnya sedikit gemetar. Lalu, matanya yang indah menatap White dan berteriak, "Benda spiritual!"

__ADS_1


Arthur merasa sangat lelah dan malas menjelaskan. Terserah merekalah!


Arthur tidak mungkin harus selalu menjelaskan bahwa ini adalah produk berteknologi tinggi kepada setiap orang yang datang, 'kan? Bukankah itu sangat melelahkan?


Bintang diam-diam menarik tangan Claudia dan berbisik, "Kak Claudia, tenanglah, kamu akan merasa aneh melihat barang-barang di sini, tapi kamu harus memperlakukan tempat ini sebagai dunia fana. Jangan menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan kultivasi."


Baru pada saat itulah Claudia menyadari ada yang aneh dengan ekspresi Arthur. Oleh karena itu, Claudia pun sedikit menyalahkan diri, seharusnya dia tidak perlu begitu berlebihan.


Arthur kembali duduk di meja makan. Buburnya untuk sarapan masih tersisa setengah mangkuk. Akan tetapi, melihat empat orang yang berdiri di samping, Arthur juga merasa canggung.


Oleh karena itu, Arthur pun menawarkan, "Apakah ... kalian mau makan juga?"


"Tidak perlu." Darel dan yang lainnya buru-buru menggelengkan kepala.


Meskipun aromanya sangat harum, mereka tidak berani bersikap tidak tahu diri. Sebab, mereka tidak tahu apakah itu akan menyinggung master atau tidak.


"Hm, aku ingin makan sedikit."


Tiba-tiba, Bintang berkata dengan pelan.


Dispenser dan Humidifier sebelumnya meninggalkan kesan mendalam padanya. Oleh karena itu, Bintang merasa bahwa makanan yang dimakan oleh master pasti tidak biasa, jadi dia harus mencobanya.


"Bintang, bukankah kamu baru sarapan di rumah?" Darel buru-buru menarik putrinya sendiri.


Kenapa anak ini malah berbuat hal konyol? Bukankah itu hanya semangkuk bubur? Dia bisa memakannya di rumah. Hanya perlu menahannya sebentar juga akan berlalu. Basa-basi seorang master kenapa malah dianggap serius?


"Bintang, jangan membuat masalah."


Bintang cemberut sedih, orang tuanya pasti lupa bahwa air putih yang ada di tempat Arthur saja penuh dengan energi. Jadi, tentu saja makanannya juga tidak akan buruk. Mereka sama sekali tidak bisa memahami suasana hatinya saat ini.


"Hahaha, hanya semangkuk bubur saja, tidak perlu terlalu sungkan."


Arthur merasa bahwa Bintang sangat menggemaskan dan tertawa berkata, "White, ambilkan semangkuk bubur untuk Nona Bintang."


Bintang menjulurkan lidahnya dan duduk di seberang Arthur.

__ADS_1


Setelah itu, Bintang mengambil bubur putih dari tangan White dan menatapinya dengan saksama.


Kemudian, Bintang menyadari bahwa butiran beras montok yang direndam di dalam kuah putih susu itu memantulkan kecemerlangan kristal, seperti langit berbintang.


Meskipun hanya semangkuk bubur putih, Bintang percaya bahwa kelezatan bubur ini tidak akan mengecewakannya.


Bintang mengangkat mangkuk itu dan menyeruputnya.


Bubur kental masuk melalui bibirnya dan meluncur mulus ke dalam tenggorokannya. Kemudian, perasaan hangat membanjiri seluruh tubuhnya.


Enak!


Rasa yang enak dipadukan dengan aroma unik bubur putih ini membuat pipi Bintang bersemu merah.


Pada saat yang bersamaan, Bintang juga menyadari bahwa air yang digunakan untuk memasak bubur itu adalah air penuh energi yang dia minum sebelumnya.


Enak sekali! Bintang mencoba membujuk orang tuanya, "Ayah, Ibu, kalian juga harus mencobanya sedikit. Bubur ini sangat enak, benar-benar enak sekali."


"Makanlah buburmu dan jangan banyak berbicara." Darel sangat marah hingga wajahnya memerah.


Bukankah ini sangat memalukan di depan seorang master? Bagaimana jika dirinya meninggalkan kesan buruk pada master?


Bintang tidak berdaya dan hanya bisa lanjut makan bubur.


"Biasanya sarapanku memang agak polos. Acar kalau dipadukan dengan bubur putih akan lebih cocok lho," ujar Arthur sambil tersenyum.


Arthur menanam berbagai jenis sayuran di halaman belakang. Jadi, dia bisa membuat acar sendiri. Tentu, acar seperti tidak mungkin ada di dunia kultivasi.


"Acar? Apa itu?" Bintang melihat dengan penasaran ke piring kecil acar yang ada di atas meja. Kemudian, dia mengikuti Arthur dengan mengambilnya sedikit dan dimakan bersama dengan bubur putih.


Bubur putih dipadukan dengan rasa asin dari acar sangatlah cocok. Ada semacam kelezatan yang belum pernah dirasakan oleh Bintang sebelumnya.


"Enak! Enak sekali!"


Mata Bintang tampak berbinar-binar dan seketika seperti membuka pandangan baru terhadap dunia.

__ADS_1


__ADS_2