
Thania pun tidak tahan untuk mengigitnya lagi. Namun, kali ini dia mengigitnya dengan gigitan besar.
Rasanya sangat segar dan lezat. Pada saat yang bersamaan, sebuah energi besar masuk melalui mulutnya dan bergejolak di dalam perut.
Kriuk!
Thania bahkan sampai lupa diri. Rasa yang lezat dan energi yang padat membuat Thania kehilangan kemampuannya untuk berpikir. Saat ini, Thania hanya memiliki satu pemikiran, yaitu memakan semangka itu!
Tak lama kemudian, sepotong semangka sudah masuk ke dalam perut. Kemudian, potongan kedua, potongan ketiga.
Setelah makan dua potong, Arthur menatap Thania dengan diam.
Arthur menaikkan alisnya sedikit, sorot matanya menunjukkan tatapan aneh.
Apakah wanita ini benar-benar seorang kultivator? Apa perlu sampai seperti itu, padahal hanya memakan semangka saja?
Thania baru berhenti makan setelah memakan enam potong semangka. Lalu, wajahnya menjadi memerah begitu melihat kekacauan yang ada di depannya. Thania menundukkan kepala karena malu, lalu mengalihkan pandangannya karena tidak berani melihat Arthur.
Akan tetapi, pada detik berikutnya, sekujur tubuhnya menjadi sangat panas. Bagian dalam tubuhnya muncul gejolak energi yang tiada habisnya.
Sekujur tubuh Thania merinding, seperti orang yang mendapatkan pencerahan. Beberapa kesadaran yang awalnya sulit dimengerti pun, dalam sekejam langsung membuat Thania mengerti.
Alam bumi, tingkat ketujuh!
Thania tiba-tiba menembus dua tingkatan alam dalam sekejap. Dari alam bumi tingkat kelima naik menjadi tingkat ketujuh.
Sorot mata Thania terlihat kebingungan. Dia melihat kulit semangka yang ada di depannya dan menunjukkan tatapan tidak percaya.
Semangka ini ... ternyata bisa membuat dirinya menembus tingkat alam dengan sangat cepat.
Sangat menakjubkan!
Tatapan mata Thania benar-benar berubah, tampaknya dia sudah menjadi penggemar Arthur.
Thania buru-buru berdiri dan memberi hormat terhadap Arthur, lalu berkata, "Terima kasih, Senior, karena sudah memberikan semangka untuk membantu aku menembus tingkatan alam."
Panggilannya bahkan sudah berubah dari Tuan menjadi Senior.
Namun, raut wajah Arthur justru berubah menjadi masam.
__ADS_1
Apakah gadis ini bodoh? Gadis itu sama sekali tidak berbicara ketika sedang makan semangka. Akan tetapi, sekarang dia justru mulai mengejeknya?
'Aku hanya orang biasa. Lalu, apa hubungannya dengan kamu yang menembus tingkatan alam, sampai berterima kasih karena aku sudah memberikan semangka? Apakah karena kamu memakan semangka pemberianku, makanya kamu berhasil menembus tingkatan alam?' batin Arthur.
'Ini sama seperti seorang miliader yang mengucapkan terima kasih padamu karena sudah memberiku uang seribu, benar-benar sangat tidak enak didengar,' batin Arthur.
"Aku sudah bilang bahwa aku hanyalah orang biasa. Semangka ini juga hanya semangka biasa, jadi untuk apa kamu berterima kasih padaku? Lalu, apakah aku setua itu sampai kamu memanggilku senior?" ujar Arthur dengan sedikit tidak senang dan nada bicara yang tidak ramah.
Kenapa memangnya dengan kultivator? Apakah seorang kultivator boleh menginjak-injak harga diri orang lain?
Thania merasa tertegun dan sorot matanya tampak kebingungan. Apakah dirinya sudah membuat master ini tersinggung?
Thania pun buru-buru mengintropeksi diri.
'Betul juga. Bukankah master ini bertapa di sini dengan identitas sebagai orang biasa agar bisa merasakan kehidupan normal dan sederhana? Tapi, barusan aku hampir saja keceplosan identitasnya, jadi wajar saja kalau dia marah.'
'Aku tidak seharusnya seperti itu!' batin Thania.
Thania buru-buru memperbaiki diri dan meminta maaf, "Se ... Tuan, maaf, barusan aku terlalu bersemangat. Maaf sudah gegabah."
Sikap gadis ini cukup baik juga. Cantik dan tidak sombong, sedikit pun tidak seperti seorang kultivator.
Thania merasa lega. Lalu, dia mengertakkan giginya dan mengeluarkan batu giok dari pinggangnya.
"Tuan, batu giok ini adalah pemberian dari ayah untukku ketika aku menginjak usia 17 tahun. Anggap saja ini sebagai bayaran semangka yang kamu berikan hari ini."
Pelayan wanita yang berada di samping Thania terkejut sampai menutup mulutnya. Kemudian, dia menarik Thania dan buru-buru berkata, "Nona, jangan."
Arthur juga terkejut dengan kedermawanan Thania. Namun, Arthur menggelengkan kepala dan berkata, "Nona Thania, kamu terlalu sungkan. Hanya sebuah semangka saja, itu bukanlah apa-apa. Kamu simpan kembali saja batu giok ini."
'Gadis itu menggunakan batu giok untuk membayar semangka. Lantas, sekaya apa dia? Apakah keluarganya memiliki pabrik tambang?' batin Arthur.
"Blacky! Ayo keluar makan semangka!" teriak Arthur ke arah halaman belakang rumah.
Tak lama kemudian, Blacky berlari keluar dan menatap semangka sambil ngiler.
Biasanya Blacky selalu berada di halaman belakang rumah untuk menjaga ladang, bagaimanapun tempat ini adalah hutan pegunungan. Meskipun Arthur belum pernah diserang oleh binatang buas, dia tetap harus berjaga-jaga.
Arthur dengan santai melempar semangka sisaan ke lantai, lalu tersenyum dan berkata, "Dasar rakus, makanlah."
__ADS_1
Kriuk, kriuk!
Blacky terlihat sangat serius. Seluruh wajahnya sampai memenuhi semangka, ia bahkan juga memakan kulit semangkanya.
Thania membelalakkan matanya, dia tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Tuan, ini terlalu menghambur-hamburkan!"
Bagaimanapun, ini adalah semangka yang bisa menembus tingkatan alam. Kenapa malah diberikan kepada seekor anjing untuk dimakan?
Thania menatap Blacky lagi untuk memastikan. Namun, anjing itu benar-benar hanya seekor anjing kampung saja.
Seandainya kultivator lainnya tahu, mungkin mereka akan sangat terkejut hingga muntah darah. Kultivator bahkan tidak ada apa-apanya daripada seekor anjing!
'Yuhuu! Aku tidak menyangka bahwa gadis kaya ini ternyata begitu hemat,' batin Arthur.
Arthur semakin tertarik pada Thania, lalu berkata sambil tersenyum, "Hanya semangka saja, lagi pula di sini ada sangat banyak. Memberi makan anjing tidak termasuk menghambur-hamburkan."
Thania tersenyum canggung dan menghela napas berkata, "Apa yang dikatakan Tuan semuanya benar."
Dirinya yang terlalu bodoh. Semangka seperti ini tentu saja tidak berarti apa pun bagi seorang pertapa.
Pada saat yang bersamaan, Thania semakin yakin untuk menjalin komunikasi baik dengan Arthur. Tidak peduli apa pun itu, dirinya pasti akan sangat beruntung jika bisa berteman dengan pertapa sehebat ini.
Thania memberikan batu gioknya kepada Arthur dan membujuk, "Tuan, meskipun tinggal di hutan, tetap saja ada kemungkinan bertemu dengan orang jahat. Keluargaku memiliki sedikit kekuasaan di sekitar sini. Seandainya ada orang yang mencari masalah, Tuan bisa mengeluarkan batu giok ini. Batu giok ini setidaknya bisa membantu Tuan meringankan banyak masalah."
"Ini .... Baiklah."
Setelah berpikir sejenak, Arthur akhirnya menerima batu giok itu. Lalu, pada saat yang bersamaan, Arthur berkata, "Lain kali, kalau Nona ingin makan semangka, Nona boleh datang kapan saja."
Arthur melihat batu giok yang ada di tangannya dan menyadari desain yang ada di batu giok tersebut sangat berantakan. Meskipun berbentuk Phoenix, tetapi tidak terlihat ada pesona sedikit pun. Cara pengukirannya juga sangat kasar, benar-benar sangat merusak bahan yang begitu bagus. Lalu, Arthur pun merasa bahwa dirinya bisa memperbaikinya lagi.
Sepasang mata Thania berbinar dan berkata dengan semangat, "Terima kasih, Tuan."
Pelayan wanita pun melihat situasi ini dengan tercengang. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa Thania bisa begitu tertarik pada orang biasa itu. Padahal, anak-anak orang kaya itu saja, sudah termasuk sangat beruntung karena bisa minum teh bersama Thania.
"Terima kasih atas perjamuan Tuan hari ini. Kalau begitu, aku pamit dulu."
Thania adalah orang yang masih tahu batasan. Begitu pamit, Thania pun beranjak pergi.
Arthur berdiri dan berkata, "Aku akan mengantarmu keluar."
__ADS_1