
Semua murid Vanakan berseru kegirangan ketika melihat pemandangan aneh tersebut.
"Ketua sudah berhasil melakukan terobosan."
"Alam Ilahi! Sekalipun sekarang menghadapi Raja Iblis, kita juga belum tentu kalah."
"Tuhan memberkati! Ketua berhasil melakukan terobosan menjelang pertempuran."
Sepanjang malam, langit di atas Vanakan dipenuhi aura Ketua Vanakan yang menakutkan, hingga semua orang sulit bernapas.
Lelaki tua itu berdiri di sana dan tidak bergerak sama sekali. Tubuhnya terlihat tegap dan penuh dengan energi. Jika dilihat dari jauh, dia seperti sebuah pedang panjang.
Pada saat sinar matahari menyinari, sebuah bayangan hitam datang dari langit.
"Menarik, sebelum pertempuran dimulai malah berhasil melakukan terobosan. Vanakan, Darel, namamu memenuhi syarat untuk diingat olehku."
Raja Iblis ... datang!
Bam!
Pedang Iblis yang awalnya tertancap di tanah langsung melambung ke atas seperti mendengar semacam panggilan dan terbang ke kaki Raja Iblis.
Raut wajah Darel terlihat serius. Begitu tangannya menunjuk, pedang panjang yang ada dipunggungnya langsung keluar dan melambung ke atas.
Wajah Darel tidak terlihat senang sama sekali. Meskipun melakukan terobosan sebelum peperangan dimulai, peluang Darel untuk menang melawan Raja Iblis sangat kecil.
"Pedang Terbang Abadi, gaya mengejar bulan!"
Darel menginjak pedang panjang dan dirinya berubah menjadi pelangi panjang. Di sekitar tubuhnya dipenuhi dengan energi pedang. Langit pun seperti kain besar yang disobek oleh Darel dan mengarah ke Raja Iblis.
Kegembiraan melintas di mata Raja Iblis. Ketika Raja Iblis mengangkat tangannya, bayangan besar Pedang Iblis muncul dari belakangnya. Aura tajam itu begitu menusuk hingga para murid yang melihat dari Vanakan pun merasa pipi mereka seperti ditusuk-tusuk dan sangat sakit.
"Hancurkan tanah!"
Dua macam pedang yang berbeda saling bertabrakan dan mengusik energi yang berada di tengah langit, seperti petir yang meletus di udara.
Setelah itu, semua orang sudah tidak dapat melihat pergerakan keduanya dengan jelas. Mereka hanya melihat ada bayangan yang terus berkedip di langit. Lalu, energi yang tak terhitung jumlahnya melayang di udara dan membuat pepohonan alpine di sekitarnya rusak parah.
__ADS_1
Pertarungan sengit antara kedua belah pihak tidak berlangsung lama. Pedang Iblis yang berada di bawah kaki Raja Iblis menyerang disertai dengan tawa Raja Iblis yang keras. Tubuh pedang yang ditutupi dengan lapisan aura hitam, mendominasi dan ganas itu menyerang ke arah Darel.
Bum!
Pedang panjang yang ada di tangan Darel terbelah menjadi dua. Kemudian, bagian dadanya muncul bekas pedang dan lukanya berwarna hitam.
"Hoeeek!"
Darel muntah darah dan tubuhnya jatuh dari udara.
Gulungan lukisan itu juga jatuh dari bagian depan dadanya.
"Hahaha. Hancurkan Vanakan hari ini!" Raja Iblis tertawa terbahak-bahak dan sedikit gila.
Raut wajah Darel memucat dan tersenyum sedih sambil melihat gulungan lukisan yang jatuh di tanah, lalu berkata, "Sayang sekali, seandainya aku diberi waktu tiga hari untuk menelusuri lebih dalam, mungkin aku juga tidak akan kalah meskipun hanya mampu menguasai 10%-20% energi Dewa Perang yang ada dalam gulungan lukisan itu."
"Apa yang kamu katakan?" Raja Iblis mendengus dingin dan berkata dengan marah, "Di dunia ini tidak ada orang yang bisa melampauiku dalam hal pedang! Tidak ada!"
Kemudian, Raja Iblis mengikuti tatapan Darel dan seluruh tubuhnya seolah disambar petir.
"Lukisan macam apa itu? Di dunia ini kenapa bisa ada aura pembunuh yang begitu mengerikan? Palsu, pasti palsu!" Raut wajah Raja Iblis berubah menjadi ganas. Kemudian, dia mengangkat tangannya dan gulungan itu langsung berubah menjadi debu.
"Apa yang kamu lakukan?" Darel berteriak dengan mata membelalak. Melihat gulungan lukisan itu dihancurkan, hatinya jauh lebih sakit daripada dirinya dibunuh.
Mata Raja Iblis memerah. Lalu, dia fokus melihat semua orang di Vanakan dengan aura membunuh dan berkata dengan dingin, "Di mana pelukisnya?! Aku akan membunuhnya!"
Aura membunuh yang sedingin es itu membuat semua orang merasa seolah-olah mereka masuk ke dalam gudang es. Seluruh tubuh mereka pun membeku.
Wajah Bintang menjadi pucat dan di dalam benaknya muncul sosok bayangan yang tenang itu.
Sambil menggigit bibirnya, Bintang berjalan maju dan berkata dengan dingin, "Di mataku, kamu bahkan tidak pantas dibandingkan dengan jari pelukis itu. Beliau bahkan bisa membunuhmu kapan saja."
"Apa yang kamu katakan?" Raja Iblis mengangkat tangannya untuk menangkap Bintang. Kemudian, tubuh Bintang pun melayang di udara dan lehernya seperti dicekik oleh kekuatan yang tak terlihat. Raja Iblis itu berkata, "Kamu tahu dia dimana? Bawa aku ke sana, aku akan membunuhnya!"
"Baik, aku akan mengantarmu ke sana," ujar Bintang sambil menggertakkan giginya.
Bintang sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatan Arthur. Sebab, di matanya, Raja Iblis bahkan tidak bisa mengalahkan anjing hitam itu. Satu-satunya hal yang Bintang khawatirkan adalah master itu akan menyalahkannya.
__ADS_1
Akan tetapi, sekarang Bintang tidak punya pilihan lain. Seandainya Bintang benar-benar menyinggung master itu, paling-paling dia akan menggunakan nyawanya sebagai permintaan maaf.
Seandainya Arthur tahu bahwa Bintang membawa orang untuk membunuhnya, dia pasti akan memakinya dan memilih untuk melarikan diri.
...
Raja Iblis bergegas pergi ke tempat Arthur sambil membawa Bintang. Darel dan istrinya juga mengikuti dari belakang.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk tiba di rumah Arthur.
Raja Iblis itu berkata dengan mata merah bercahaya, "Raja Iblis sudah datang. Orang yang berada di dalam cepat keluar!"
Namun, tidak ada yang respons.
"Hahaha, ini master yang kamu maksud? Sepertinya dia bersembunyi karena takut begitu mendapat kabar aku mau datang." Raja Iblis tertawa dengan bangga.
"Karena kamu melarikan diri, maka aku akan menghancurkan tempat tinggalmu."
Raja Iblis tersenyum dingin dan memegang pedang iblis di tangannya. Setelah itu, energi spiritual di langit berkumpul menjadi cahaya pedang hitam sepanjang 100 meter.
Cahaya pedang sedikit miring dan menyerang ke halaman rumah.
"Berhenti!" Bintang berteriak dengan panik hingga air matanya pun hampir keluar.
Dengan membawa Raja Iblis ke sini saja, Bintang sudah merasa sangat bersalah. Jika tempat ini benar-benar dihancurkan oleh Raja Iblis, Bintang benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi Arthur nanti.
"Siuh!"
Saat cahaya pedang hendak mendarat, terdengar kicauan burung yang melengking.
Batu giok yang tergantung di depan rumah memancarkan cahaya merah dan menyinari Pedang Iblis.
Dalam sekejap, cahaya pedang hitam dengan cepat melebur di udara, seperti es dan salju yang bertemu api.
Cahaya merah pada batu giok itu masih belum hilang. Sebuah sayap besar muncul dari batu giok dan melebarkan sayapnya, lalu seekor burung raksasa dengan api merah menyala di sekujur tubuhnya terbang ke langit. Ia bahkan meninggalkan jejak api di udara.
"Itu, itu ... Phoenix Api?!"
__ADS_1