
"Sudah hidup! Bayi itu benar-benar hidup!"
"Begini saja sudah bisa hidup? Tuan Arthur benar-benar dewa."
Semua orang yang berada di sekitar pun tercengang.
"Terima kasih, Tuan Arthur. Terima kasih, Tuan Arthur." Baron merasa sangat berterima kasih pada Arthur. Dia bahkan sampai menangis.
Dari suka menjadi duka, dari kehilangan menjadi hidup kembali. Pengalaman satu hari yang singkat ini menjadi hal tak terlupakan sepanjang hidup Baron.
Namun, tiba-tiba ada orang yang mulai menutup peti mati lagi.
Arthur terkejut dan berkata, "Apa yang kalian lakukan? Wanita ini juga belum mati."
"Tuan Arthur, istriku juga bisa selamat?" Baron terkejut dan merasa sangat bahagia.
Orang-orang di sekitar juga tercengang. Padahal isi perutnya sudah dikeluarkan, tetapi masih bisa diselamatkan?
"Bisa."
Arthur mengangguk dan mendesah pelan di dalam hati.
Keterampilan medis di sini benar-benar ketinggalan zaman. Kejadian seperti ini sangatlah banyak, entah berapa banyak orang yang sudah mati sia-sia.
Arthur mengeluarkan jarum dan benang, lalu menjahit luka wanita itu sedikit demi sedikit. Untungnya, wanita itu dalam keadaan pingsan, sehingga tidak bisa merasakan sakitnya.
Setelah menangani semuanya, dahi Arthur sudah dipenuhi dengan butiran keringat. Kemudian, Arthur berkata, "Sudah selesai. Kelak kamu harus memperlakukan istrimu dengan baik. Jangan lupa memintanya untuk beristirahat."
"Um, baik. Terima kasih, Tuan Arthur." Baron malah berlutut di depan Arthur.
"Kamu seharusnya berterima kasih pada istrimu, bukan padaku." Arthur buru-buru menopang Baron untuk berdiri.
__ADS_1
Partisipasi Arthur sudah membuat duka menjadi suka. Orang-orang di Kota Matahari pun menyadari keistimewaan Arthur yang lainnya, sehingga nama baiknya pun menjadi tersebar kemana-mana.
Tatapan mata Thania yang terus memperhatikan hal ini juga penuh dengan keterkejutan dan kekaguman. Sebuah gejolak yang besar juga muncul di dalam hatinya.
Thania adalah seorang kultivator dan dia dapat dengan jelas merasakan bahwa stamina dalam tubuh wanita itu pulih dengan cepat. Kejadian seperti ini tidak akan mungkin terjadi sebelumnya.
Jikalau tidak ada putra dari Perdana Menteri dan Guru Negara di sini, Thania pasti sudah pergi mencari Arthur.
Claudia melihat tatapan mata Thania yang berubah. Posisi Arthur pun seketika meningkat pesat di dalam hatinya dan pada saat yang bersamaan muncul sedikit rasa penasaran.
Setelah bersusah payah bertahan sampai acara makan berakhir, Thania langsung mencari alasan untuk berpamitan terlebih dahulu.
Akan tetapi, tidak lama setelah Thania pergi, Claudia langsung mendekatinya.
"Kamu tidak berencana memperkenalkanku kepada pemuda di lantai bawah tadi?" ujar Claudia langsung berterus terang.
Thania menyipitkan matanya, lalu tersenyum dengan tenang dan berkata, "Aku tidak mengerti apa maksud kamu. Aku juga merasa terkejut ketika melihat pemuda itu mampu menyelamatkan ibu dan bayi tersebut. Tapi, aku sama sekali tidak mengenalnya."
Tampak cahaya kilatan di mata Claudia. Kemudian, dia tersenyum dan tiba-tiba bertanya, "Kalau begitu, apakah kamu bisa memberitahuku siapa yang mengajarimu trik untuk membuat putra dari Perdana Menteri dan Guru Negara saling bersaing?"
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan? Ini ide yang aku pikirkan sendiri."
Raut wajah Thania terlihat tenang dan sengaja berkata dengan ambigu.
Thania merasa sangat menyesal karena sudah mengajak Claudia untuk makan bersama hari ini. Wanita ini sangat pandai dalam hal mengamati dan terkenal sulit untuk dibodohi.
Lebih tepatnya, Thania juga tidak menyangka akan bertemu dengan Arthur dan Claudia akan memperhatikannya.
Hanya saja, Thania memang sudah memutuskan untuk tidak membeberkan tentang Arthur.
"Bagaimanapun, kita adalah sahabat baik. Kamu jangan berbohong padaku."
__ADS_1
Mata Claudia tampak berkilat dan tersenyum berkata, "Kalau kamu yang memikirkan strategi ini sendiri, kamu tidak akan meminta bantuan padaku. Lagi pula, begitu tahu kamu butuh bantuan, aku langsung datang tanpa basa-basi. Sekarang sudah ada solusi, kamu mau langsung mencampakkanku begitu saja?"
Hanya sekilas, Claudia juga tahu apa yang direncanakan Thania. Mungkin tidak lama lagi, Guru Negara dan Perdana Menteri akan saling membunuh dan keduanya akan menderita.
Strategi semacam ini membuatnya takjub, karena orang itu pasti memiliki bakat yang luar biasa.
"Kamu hanya perlu memberitahuku apakah orang yang mengusulkan strategi itu padamu adalah pemuda tadi? Masa kamu tega membiarkanku datang ke sini dengan sia-sia?" ujar Claudia dengan pilu dan tatapan matanya terus memperhatikan raut wajah Thania.
"Bukan!" Thania menggelengkan kepala dan menatap Claudia dengan penuh kejujuran.
"Baiklah, aku sudah mengerti."
Claudia mengangguk dan berpamitan pada Thania.
Lalu, Claudia tersenyum dan melihat ke arah gunung di luar kota, itu adalah arah dimana Arthur pergi.
"Thania, kamu merasa bahwa kamu menyembunyikannya dengan baik, tapi semakin kamu terlihat tenang, semakin terlihat jelas ada sesuatu. Orang biasa itu sangat menarik, aku harus pergi untuk melihatnya."
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali, Claudia sudah mengemasi semuanya dan berjalan menuju gunung tempat Arthur pergi.
Meskipun Arthur terlihat seperti orang biasa, Claudia tidak berani mengabaikan penampilannya begitu saja ketika melihat kehati-hatian Thania. Oleh karena itu, Claudia pun tetap berdandan dengan cantik.
Orang itu mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati dengan identitas sebagai orang biasa. Orang itu juga bisa membuat istana kekaisaran bangkit dari keterpurukan hanya dengan satu strategi sederhana. Lantas, seorang master seperti apa beliau? Apakah beliau benar-benar hanya orang biasa saja?
Claudia tidak bodoh. Justru sebaliknya, dia sangat pandai.
Claudia memiliki firasat bahwa penemuan kali ini mungkin merupakan penemuan terbesar dalam hidupnya.
Claudia tiba di kaki gunung, lalu menatap awan dan kabut yang berada di atas gunung. Anehnya, Claudia tiba-tiba merasa gugup, seolah orang yang akan dia kunjungi kali ini bukanlah orang biasa, melainkan seorang bos tersembunyi.
__ADS_1