Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia

Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia
Bab 2. Apakah Ini ... Energi?


__ADS_3

Mata pelayan wanita itu membelalak. Dia sangat terkejut dan berkata, "Ternyata ada orang yang tinggal di sini?"


“Bangunan yang sangat unik, seperti rumah bangsawan.” Gadis berbaju putih itu memandangi bangunan di depannya dengan penasaran.


Gaya bangunan ini benar-benar berbeda dari yang pernah dia lihat sebelumnya. Bangunan ini tidak bisa dikatakan megah, tetapi memberikan kesan yang sangat luar biasa. Entah itu ilusi atau bukan, tetapi dia merasa bangunan itu tidak kalah bagus dengan istana.


Mungkinkah ada pertapa yang hidup bertapa di sini?


Mata gadis bergaun putih itu berbinar. Dia berlari kecil dengan penuh harapan dan berkata, "Ayo! Kita ke sana untuk melihat-lihat. Ingat, ketika bertemu dengan orang, jangan memanggilku Tuan Putri. Panggil saja aku Nona."


Pelayan wanita itu sedikit khawatir dan berteriak dari belakang, "Tuan Putri, hati-hati, takut ada bahaya."


"Halo, apakah ada orang di rumah?" teriak gadis bergaun putih itu ke arah pintu gerbang.


Kreeek!


Pintu terbuka.


Arthur menjulurkan kepalanya keluar dari pintu.


Sudah lima tahun dan ini pertama kalinya ada tamu yang datang ke sini.


Arthur menatap gadis bergaun putih itu dan seketika matanya pun tampak berbinar.


Gadis yang sangat cantik.


Gadis ini jelas seorang kultivator. Dari gerak-geriknya saja sudah kelihatan bahwa dia terlahir dari keluarga bangsawan.


Gadis bergaun putih itu juga menatap Arthur. Lalu, ekspresi kekecewaan melintas di matanya ketika gadis itu melihat bahwa Arthur hanyalah orang biasa.


Awalnya gadis itu masih mengkhayal bahwa dia akan bertemu dengan pertapa, kemudian beliau akan membantunya untuk keluar dari kesulitannya saat ini.


Hanya saja, gadis itu tetap ingin masuk untuk melihat-lihat karena penasaran. Apalagi, dia juga sudah datang ke sini. Oleh karena itu, gadis itu langsung berkata dengan terus terang, "Halo, namaku Thania Rusli. Apakah aku boleh masuk untuk bertamu?"


"Tentu saja boleh." Arthur membuka pintu dan memiringkan tubuhnya.


Gadis yang ada di hadapannya ini bukan hanya seorang kultivator, tetapi juga seorang wanita cantik. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi Arthur untuk menolak. Mencari banyak teman juga merupakan sesuatu hal yang baik.


"Terima kasih." Thania masuk dengan membawa pelayannya.


Entah itu ilusi atau bukan, Thania merasa hatinya langsung tenang saat memasuki halaman. Dia merasa seolah ada kekuatan sihir di halaman ini yang bisa membuat orang tenang.

__ADS_1


Kemudian, sebuah robot berjalan keluar dari kamar dan menyapa kedua gadis itu dengan ramah, "Selamat datang di rumah kami."


"Aaah! Tuan .... Nona hati-hati!"


Pelayan wanita itu terkejut dan berteriak dengan histeris. Setelah itu, dia dengan cepat berdiri di depan Thania.


Arthur akhirnya membuka suara dan menjelaskan, "Nona, kamu tidak perlu takut. Ini adalah Pengurus Rumahku, namanya White, sebuah robot."


"White, cepat minta maaf pada kedua nona ini."


"Maaf sudah membuat kalian terkejut." White meminta maaf dengan sangat lancar dan membungkuk dengan sopan.


Thania menatap White dengan penasaran. Setelah itu, dia bertanya dengan terkejut, "Robot? Ternyata robot juga memiliki pengetahuan? Mungkin robot ini menghasilkan benda spiritual?!"


Benda spiritual. Ini adalah benda yang dibicarakan orang-orang. Hanya benda-benda kelas atas yang bisa menghasilkan spiritual.


Hanya saja, bukankah kecerdasaran benda spiritual ini terlalu tinggi? Jangan-jangan, ia adalah benda ajaib?


Semakin memikirkannya, Thania semakin terkejut. Tanpa sadar, matanya pun menunjukkan kekaguman.


Arthur menggelengkan kepala dan tersenyum berkata, "Nona salah paham. Ini adalah teknologi tinggi, hanya kecerdasan buatan saja. Ini bukan benda spiritual."


"Teknologi tinggi? Kecerdasan buatan?" Thania mengerutkan kening. Satu kata pun dia sama sekali tidak mengerti.


White berkata, "Baik, Tuanku yang terhormat."


'Baginya, robot dengan kecerdasan itu hanyalah keahlian kecil?' batin Thania.


Thania tersentak dan menatap Arthur dengan mata indahnya.


Thania pernah mendengar bahwa banyak master senior yang kultivasinya sangat tinggi suka berpura-pura menjadi orang biasa. 'Mungkinkah aku bertemu dengan orang itu hari ini?' batin Thania.


Ketika memikirkan hal itu, Thania sampai tidak berani bernapas. Dia merasa sangat gugup, senang, sekaligus khawatir.


Arthur membawa mereka berjalan ke dalam gazebo dan berkata dengan tersenyum, "Para Nona, silakan duduk."


"Hah? Oke." Thania sedikit kurang berkonsentrasi.


Thania diam-diam melihat sekilas pemandangan di sekitarnya. Kemudian, Thania melihat ada sebuah kecapi di halaman, jadi dia pun tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Tuan, kamu suka alat musik?"


"Hanya hiburan untuk mengisi waktu luang," ujar Arthur sembarangan.

__ADS_1


Thania mencoba untuk menjalin hubungan baik dengan orang yang diduga master ini, jadi dia pun buru-buru berkata, "Aku mempunyai seorang teman yang sudah bertahun-tahun berada di dunia musik. Bagaimana kalau lain kali aku ajak dia ke sini untuk komunikasi musik bersama dengan Tuan?"


Arthur melambaikan tangan dan berkata dengan tersenyum pahit, "Lupakan saja, aku juga hanya mengerti sedikit."


Thania adalah seorang kultivator, pasti sebagian besar temannya juga kultivator. Meskipun Arthur memiliki gelar ahli musik, tetap saja dia tidak berani berkomunikasi musik bersama dengan kultivator.


Siapa yang tahu komunikasi musik yang dimaksud kultivator akan melepaskan gelombang suara atau tidak, kemudian langsung mengguncang dirinya sampai mati. Bukankah dia akan mati dengan mengenaskan?


Pada saat ini, White berjalan keluar dengan membawa semangka. Tak hanya itu, ia juga menggunakan pisau sayur untuk memotong semangka dan memberikannya kepada semua orang, lalu berkata, "Silakan dimakan."


Lagi-lagi Thania merasa kagum terhadap kehebatan benda spiritual ini. Selain penampilannya yang aneh, ia benar-benar terlihat mirip seperti manusia.


"Nona, makanlah."


Setelah Arthur mengatakan itu, dia mengambil sepotong semangka dan memakannya.


Matahari di siang hari sedikit menyengat. Terlebih lagi, Arthur baru saja selesai makan siang, sehingga tenggorokannya juga merasa kering. Jadi, makan semangka benar-benar menyegarkan tenggorokannya.


Melihat Arthur yang makan dengan sangat senang, Thania pun mengambil sepotong semangka.


Bagi Thania, semangka adalah makanan yang sangat biasa. Sebagai seorang Tuan Putri, dia memang tidak sudi untuk memakannya. Akan tetapi, pada saat itu, Thania tentu tidak boleh membuat master itu kehilangan harga diri.


'Eh? Daging semangka ini sangat indah, seperti kristal merah yang bersinar dengan cemerlang. Semangka ini benar-benar sangat berbeda dengan semangka yang pernah aku lihat sebelumnya,' batin Thania dengan terkejut. Setelah itu, dia pun mengigitnya.


Kriuk.


Renyah sekali!


Manis sekali!


Air semangka mengalir masuk ke tenggorokan, seperti anak kecil nakal yang sedang berlompat di ujung lidah.


Seketika, aroma yang kuat bergejolak di lidah dan hampir membuat Thania mengerang.


Enak sekali, terlalu enak!


Thania sama sekali tidak menyangka bahwa sebuah semangka ternyata bisa begitu enak. Ini pasti bukan semangka biasa.


Glek!


Air semangka pun mengalir masuk ke tenggorokan ketika Thania menelannya, sekaligus membersihkan kerongkongannya. Akan tetapi, pada detik berikutnya, Thania merasa air semangka ini berubah menjadi gas dan menyebar ke seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Apakah ini ... energi?


__ADS_2