Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia

Muridku Ada Di Segala Penjuru Dunia
Bab 4. Membeli Anak Ikan


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah Arthur, pemikiran Thania seperti melayang. Seandainya Thania tidak menembus dua tingkatan alam, dia akan mengira bahwa ini hanyalah sebuah mimpi.


Dirinya benar-benar sangat beruntung karena bisa bertemu dengan pertapa seperti ini.


Pelayan wanita yang berada di belakang Thania pun bertanya dengan bingung, "Tuan Putri, kenapa kamu begitu sungkan padanya? Dilihat dari sisi manapun, dia hanya orang biasa saja."


Thania berbalik badan dan raut wajahnya berubah menjadi serius, lalu berkata, "Nayana, kamu tidak boleh memberi tahu siapa pun apa yang terjadi hari ini, terutama tempat tinggal Tuan tadi. Apakah kamu mengerti?"


Pertapa senior ini bertapa di sini pasti karena tidak ingin diganggu oleh orang lain. Oleh karena itu, dirinya tidak boleh membahayakan pertapa.


Nayana tidak pernah melihat Thania yang begitu serius. Oleh karena itu, dia pun buru-buru berkata dengan ketakutan, "Tuan Putri, aku mengerti."


"Aduh, aku lupa meminta bantuan pada Master," teriak Thania tiba-tiba.


Thania ingin melepaskan diri dari pernikahan yang diatur oleh ayahnya. Seandainya dia bertanya pada Master, mungkin saja beliau bisa memberikan solusi.


Thania merasa kesal sendiri. Akan tetapi, rasanya kurang pantas jika dia balik lagi ke sana sekarang.


"Hah, sepertinya hanya bisa menunggu kedatanganku berikutnya."


Thania mendongakkan kepala sambil menatap ke arah rumah itu dan menyadari entah sejak kapan muncul kabut tebal di bawah batu bukit itu, sehingga membuat rumah itu tampak menjulang.


...


Thania pergi dengan penuh kekhawatiran, sementara Arthur kembali melanjutkan kehidupannya yang santai.


Bermain kecapi, menanam bunga, memancing ikan, dan melukis ketika sedang ada mood untuk meningkatkan kondisi mental.


Hari ini, Arthur duduk di tepi kolam yang ada di halaman belakang untuk memancing. Sementara itu, Blacky berbaring di samping kakinya dan menatap kolam dengan tenang.


"Aneh, setiap bulan aku selalu melepaskan anak ikan yang sangat banyak. Tapi, kenapa tetap tidak bisa mendapatkan ikan?"

__ADS_1


Arthur memegang pancingan sambil mengerutkan kening. Lalu, dia menatap Blacky dengan tatapan mata curiga dan berkata, "Kamu yang mencuri makan, ya? Aku ingat bahwa kala itu aku melepaskan seekor ikan emas, tapi sekarang aku tidak melihat bayangannya sama sekali."


Blacky berdiri karena ketakutan dan tatapan matanya penuh dengan kepolosan. Lalu, ia menggelengkan kepala layaknya manusia.


"Sepertinya aku harus turun gunung untuk membeli anak ikan lagi."


Arthur juga tidak menyelidiki lebih lanjut. Dia hanya menatap ikan yang tak kunjung terpancing dan menyimpan kembali pancingannya. Kemudian, Arthur berdiri dan bersiap untuk turun gunung.


Selama lima tahun terakhir, meskipun Arthur menjalani kehidupan seperti orang yang bertapa, dia tidak mengisolasi dirinya dari dunia luar. Terlebih lagi, puncak bukit tempat dia bertapa tidak jauh dari kota.


Nama kota itu adalah Kota Matahari. Di dalamnya ada banyak orang biasa, terkadang ada juga kultivator yang menetap.


"Eh, Tuan Arthur sudah datang."


"Tuan Arthur, sini, cicipi bakpao buatanku! Tidak perlu bayar."


"Tuan Arthur, kedatanganmu kali ini ke kota untuk membeli apa? Kamu seharusnya berada lebih lama di sini."


Baru saja masuk ke kota, ada banyak sekali orang yang dikenal menyapa Arthur.


Arthur pun merespons mereka dengan senyuman. Arthur datang ke pasar perdagangan di Kota Matahari dengan santai dan berjalan ke kios khusus ikan.


"Tuan Arthur, datang untuk membeli anak ikan lagi?" Pemilik kios sudah sangat akrab dengan Arthur dan menyapanya dengan senyuman.


Arthur mengangguk dan berkata, "Ya, kali ini aku ingin membeli agak banyak, dua kali lipat dari sebelumnya."


"Baik!" Pemilik kios tersenyum, lalu berkata sambil membungkus barang, "Tuan Arthur, kamu kan baru saja membelinya beberapa waktu lalu, kenapa kali ini malah membeli begitu banyak lagi?"


Arthur menghela napas pasrah dan berkata, "Asal kamu tahu saja, jelas-jelas aku sudah melepaskan anak ikan ini ke dalam kolam, tapi aku tetap tidak berhasil memancing satu ikan pun."


Gerakan pemilik kios pun terhenti dan berkata dengan nada suara yang rendah, "Tuan Arthur, sepertinya ada yang aneh."

__ADS_1


"Aku juga merasa begitu."


Pemilik kios pun mengingatkan, "Tuan Arthur, menurutku, kamu harus lebih berhati-hati. Jangan-jangan, di dalam kolam itu ada monster. Lebih baik kamu menjauh saja."


Hati Arthur sedikit tertegun.


Jangan-jangan, ada monster sungguhan?


Mungkin semua ikan yang Arthur pelihara dimakan oleh monster?


Arthur mulai sedikit berimajinasi. Akan tetapi, Arthur sudah tinggal di rumah itu selama lima tahun. Dia juga tidak rela untuk pindah tempat lagi. Lagi pula, seandainya harus pindah rumah, Arthur juga tidak bisa menemukan tempat tinggal lagi.


"Tuan Arthur, kebetulan di sini ada seekor kura-kura. Biasanya kura-kura seperti ini hanya berdiam di satu tempat dan setiap siang ia akan keluar dari air untuk berjemur matahari. Kamu bisa memasukkan kura-kura ini ke dalam kolam. Kalau tidak terjadi apa-apa pada kura-kura ini, berarti kolam itu aman." Pemilik kios memberikan ide kepada Arthur.


Ini sama saja seperti menggunakan kura-kura untuk menjadi bahan percobaan. Jika pada siang hari kura-kura itu tidak muncul dari kolam, berarti kemungkinan besar dimakan monster.


Mata Arthur berbinar dan langsung berkata, "Pak, aku akan membeli kura-kura ini."


"Tuan Arthur, kalau bukan karena kamu, kiosku ini sejak awal sudah bangkrut. Kura-kura ini masih kecil dan bukan sesuatu yang berharga, jadi bagaimana mungkin aku memintamu untuk membayarnya?"


Pada akhirnya, kura-kura ini pun dijadikan sebagai hadiah gratis karena Arthur sudah membeli ikan.


Setelah itu, Arthur menenteng anak ikan dan kura-kura itu, lalu bergegas pulang ke rumah untuk menguji apakah ada monster di dalam kolam atau tidak.


Begitu sampai di depan gerbang kota, Arthur melihat ada banyak orang yang sedang berkumpul di sana dan juga terdengar suara tangisan.


Di tengah kerumunan, ada seorang wanita paruh baya berbaring di jalan sambil menangis.


Arthur buru-buru menghampiri dan bertanya, "Bibi Maya, apa yang terjadi?"


Bibi Maya adalah seseorang yang sangat ramah. Ketika Arthur baru datang di dunia kultivasi ini, Bibi Maya-lah yang selalu membantunya.

__ADS_1


__ADS_2