
"Tiara..!!"
Tiara sudah Rutin melakukan cuci darah dirumah, namun kondisi masih tetap sama saja itu dan bukan berarti Tiara akan sembuh, hal itu hanya bersifat sementara saja, secepatnya mereka harus mendapat Ginjal yang cocok.
Daya tahan tubuh Tiara semakin hari memburuk, tapi karena sifat keras kepala pasien yang bernamaTiara membuat Dokter terkadang kewalahan membujuk Tiara dengan berbagai cara.
Dokter semakin mengkhawatirkan kondisi tubuhnya kedepan bisa saja jika Tiara keluar dari rumah setiap hari malah akan memperpendek usia prediksi sebelumnya.
"Tuan Nyonya sebaiknya anda dapat mengontrol putri anda, Jika Dia keluar setiap hari bisa saja kondisi kesehatannya semakin memburuk.. "
Kata salah satu dokter Khawatir dengan Tiara.
Keduanya hanya mendesah tidak berdaya menghadapi Tiara.
"Kami sudah melarangnya tapi Tiara sama sekali tidak mendengarkan apapun yang kukatakan" Kata Andy.
"Tuan tolong berusahalah lebih keras atau kau tau kelemahannya agar bisa melakukan perawatan sampai Dirinya sembuh.. "
Peringatnya lagi.
"Aku juga tidak tau, Anak itu tidak akan mudah terpengaruh dengan bujukan apapun"
Ucap Kinan menimpalnya dan menggeleng.
"Tuan.. Nyonya, aku hanya bisa berharap kalian agar jangan membiarkan Tiara keluar setiap hari, itu sangat beresiko lebih parah bagi dirinya sendiri"
"kami akan usahakan"
Andy dan Kinan harus memikirkan berbagai cara untuk Tiara itu, Sudah kondisi tubuh lemah tetap saja masih keras kepala.
***
Farel yang merasa agak aneh, dirinya tidak bisa menghilangkan wajah cantik Tiara dalam pikirannya sendiri, sudah beberapa hari belakangan ini ia tidak pernah lagi bertemu dengan wanita itu.
Pada akhirnya Farel memutuskan untuk mendatangi rumah orang Tuanya.. Pasti Ayah dan ibunya tau tentang Tiara, Farel tidak bisa tahan lagi ia ingin tau siapa sebenarnya Tiara di dalam hidupnya.
Sampai di sana Farel hanya di sambut oleh susi mamanya saja..
"Mama.."
Ucap Farel setelah duduk di atas sofa.
"Umm. Ada apa sayang..?"
Tanya Susi menatap serius Putranya yang tampak gelisah sendiri.
Farel dengan wajah murungnya membalas tatapan ibunya.. Lalu bertanya .
"Apa mama tau tentang wanita yang papa bawa waktu pertunangan ku dengan Bella.., entah kenapa aku selalu saja memikirkannya dan tidak bisa menghilangkan wajahnya"
Ujar Farel terduduk tiba-tiba perasaan sedih dan merindukan Tiara yang belakang ini selalu mengganggu kehidupannya.
Susi terdiam, ternyata ikatan batin diantara suami istri itu begitu lekat.
"Dia istrimu sayang, Tiara satu-satunya wanita yang rela berkorban demi kesembuhanmu.. Andai kau tau pengorbanan wanita Itu,"
Susi hanya bisa bergumam dalam hatinya, rasanya ia sangat malu dengan dirinya sendiri karena telah mendukung Farel dengan Bella beberapa waktu lalu.
"Mama.. Kenapa diam.?"
Ucap Farel membuat Susi langsung berhenti menghayal.
"Oh.. Maksudmu Tiara, dia itu tetangga kita dulu, kau pasti tidak mengingatnya".
Kata Susi terpaksa menyembunyikan kebenaran tentang Tiara sebenarnya.
__ADS_1
"Pantas saja, wajahnya begitu familiar ternyata tengga kita"
"Tapi kenapa dia datang bersama papa waktu itu..? "
Lanjut Farel bertanya kembali.
"Sayang.. Mama yang mengundangnya, dan kebetulan sekali Papamu bertemu dengan di jalan jadi sekalian saja mereka datang bersama"
Ujar Susi dengan wajah mencoba tersenyum.
"Umm. Begitu"
Farel mengangguk paham.
"jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak tenang Mereka sayang"
Kata susi mengelus punggung Farel.
"Iya... Mama, kalau begitu Farel pamit dulu. Banyak pekerjaan yang menumpuk"
"Hati-hati di jalan sayang, jangan gembut bawa Mobilnya"
Peringat Susi kepada putranya, ia masih ingit betul kecelakaan dua tahun yang lalu.
Farel menganggukkan kepala , ia keluar dari rumah orang tuanya, setelah mendengar penuturan dari Ibunya Farel merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik mamanya saat menyampaikan tentang semua pertanyaannya seputar Tiara.
Susi memandang kepergian dari Farel putranya hanya meneteskan air matanya saja, Ia merasa tidak bisa berbuat banyak.. Tiara menantunya sangat mencintai Farel dengan Tulus. Jika saja suaminya tidak mengatakan perihal Kondisi Tiara dua tahun belakangan sudah pasti Ia akan tetap berpikir negatif tentang menantunya itu.
"Farel. Kuharap kau bisa mendapatkan kembali ingatan mu yang hilang sebelum terlambat dan kamu menyesal"
Lirih Susi saat mobil Farel sudah keluar dari pekarangan rumahnya.
___
Farel keluar dari mobil di sambut oleh Bella yang tersenyum hangat ke arahnya.. Tiba-tiba ia merasa pernah merasakan sebuah adegan seperti ini sebelumnya, ada seorang wanita yang menyambutnya pulang dengan senang.
Pandangannya lurus kedepan, kenapa di saat seperti ini Farel justru memikirkan Tiara lagi dan lagi.
"Farel.."
Panggil Bella bergelayut manja di lengannya.
"iya.. Bell, ada apa.?"
Tanya Farel memaksakan senyum.
"Papaku ingin pernikahan kita di percepatan Farel"
Ujar Bella merengek.
"Ayo kita masuk dulu di sini tidak baik untuk membicarakan tentang pernikahan kita"
Ajak Farel menarik tangan Bella untuk masuk ke dalam rumahnya.
Di ruang tamu..
Bella duduk begitupun Farel mereka saling berhadapan.
"Farel apa kau setuju dengan keinginan Papa ku.. Katanya jika menunggu lama tidak akan baik"
Ucap Bella berharap Farel mau mempercepat pernikahan mereka dari waktu sebelumnya.
Farel menghembuskan napas pelan lalu berkata.
"Bella, aku tanyakan dulu kepada Papaku, jika dia setuju pasti pernikahan kita akan segera di langsungkan"
__ADS_1
Ucap Farel.
"Baiklah... Aku berharap, papamu mau mempercepatnya"
"Aku juga berharap seperti itu"
Seru Farel tampak kurang yakin dengan dirinya sendiri saat mengatakan itu.
Bella bahagia dengan ucapan Farel. Namun ketika mengingat tatapan tidak suka dari calon Ayah mertuanya mendesah pelan sepertinya tidak akan semudah itu.
***
Tiara baru sadarkan diri dua jam yang lalu dirinya pingsan.
Toni melangkah masuk memeriksa keadaan Adiknya, dengan rasa khawatir Toni duduk di samping Tiara lalu bertanya.
"Bagaimana perasaanmu saat ini.. Bagian mana yang terasa sakit.?"
Tanya Toni berusaha menahan kekesalannya.
"Kak.. Aku merasa terkadang lemah dan napasku sering tiba-tiba sesak"
Ucap Tiara mengelus dadanya sendiri.
Toni mengerutkan kening, jelas dia sangat kesal Tiara tidak pernah mau mendengarkan siapapun dan mengabaikan segala pengobatannya..
"Itu semua karena kau tidak mau mendengarkan kami Tiara.. Ingatlah ini Farel akan menikah sebentar lagi jika kau tidak sembuh, Tidak ada yang akan bisa menghentikan suamimu itu"
Ucap Toni tanpa sadar telah membentak Tiara yang baru saja siuman.
Air mata Tiara langsung menetes mendengar perkataan dari Kakaknya itu..
"Kenapa kakak berkata seolah kau peduli dengan ku, bukannya dari dulu kalian selalu mengabaikan ku saat aku membutuhkan kalian.. Tapi kenapa sekarang kalian bertindak berlebihan.."
Teriak Tiara membalas ucapan Kakaknya Toni.
"Tiara... Maaf"
Lirih Toni baru sadar.
"Keluar, aku tidak membutuhkan dukungan dari Kalian"
Usir Tiara menatap dengan berapi-api.
"Baiklah"
Toni keluar dari sana. Ia baru saja hampir memicu pertengkaran dengan adiknya sendiri yang masih lemah.
Setelah Toni keluar, Tiara menangis sejadi-jadinya, ia harus bisa kembali Sehat dan memeluk suaminya lagi.
.
.
.
.
.
Tbc....!!!
Tiara Braxton Luis
__ADS_1