
"Khawatir"
Tiara kembali di bawa kerumah sakit, keadaannya semakin memburuk saja. Setiap jam Tiara pasti sadar lalu kembali pingsan lagi, semua anggota keluarganya bahkan lebih memilih untuk menemaninya di rumah sakit.
Nenek dan Kakek Tiara yang sebelum ada di Amsterdam dengan segaja datang terburu-buru karena syok mendengar berita cucu perempuannya.
Fendo dan juga Susi datang setelah Bimo mengabari mereka, Fendo khawatir Tiara menantunya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Dengan cepat Fendo menepis pikiran menyeramkan itu.
Toni juga datang kerumah sakit membatalkan semua pertemuan dengan kolega bisnisnya.. Tiara adiknya kini lebih penting dari apa Pun. Toni sampai di depan pintu ruangan itu melihat ibunya menangis terseduh-seduh langsung menghampiri lalu memeluknya dan ikut juga menangis. Ayahnya sendiri Andy sangat sibuk mencari pendonor yang cocok.
"Toni.. Apa kau sudah menemukan Pondonor untuk Tiara"
Tanya Kinan mendongkrak menatap Toni dengan penuh harapan.
Toni terlihat sedih baru menggeleng.
"Mama,.. Papa masih berusaha"
"Mama takut Toni, kondisi Tiara adikmu semakin memprihatinkan"
Ujar Kinan kembali terisak, Kehilangan Tiara merupakan mimpi buruk dan Ia tidak akan bisa jika putrinya kembali ke Tuhan sebelum dirinya.
"Toni.. Juga Takut mah.."
Lirih Toni memeluk erat ibunya.
Susi dan Fendo mendekat ke arah Toni dan Kinan mereka juga sangat sedih ketika Tiara kembali mendapat perawatan di rumah sakit.
"Toni.. Apa sebaiknya kita katakan saja kebenaran ini kepada Farel"
Ujat susi menyarankan.
Toni menggeleng tidak setuju, ia tidak ingin Farel kembali kepada adiknya.
"Jangan Tante takutnya jika Farel mengetahui ini ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sudah menikah, sebaiknya Farel tidak usah tau perihal kondisi Adikku"
"Iya.. Toni benar, Kita tunggu saja hingga ingatan Farel pulih, Tiara juga tidak mau Farel kembali kepadanya hanya karena rasa kasihan"
Timpal Fendo sedikit setuju dengan perkataan Toni.
"Tapi.. Bukankah.. Jika Farel tau. Akan lebih baik, saat ini kondisi Tiara tidak bisa di katakan baik-baik saja.."
Susi kembali menyarankan, ia sungguh tidak habis pikir dengan kedua pria itu.
"Tidak,.. Farel sebentar lagi akan menikahi Tuangannya, aku tidak akan pernah membiarkan Farel tau perihal siapa Tiara di masa lalunya.. Tiara akan aku bawa pergi setelah Pernikahan Farel di laksanakan"
__ADS_1
Ujar Toni bersikuku.
Susi, Kinan dan Fendo menghela napas, Toni ternyata masih tidak bisa menerima Farel sebagai iparnya, mereka memilih terdiam saja.
___
Di ruangan lain, Nenek Tiara yaitu Ratih ikut sakit akibat syok mendengar perkataan Dokter bahwa Tiara cucunya tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama jika tidak mendapatkan ginjal secepatnya.
Ratih di temani oleh sang suami Lukman, mereka hanya berdua saja sedangkan yang lainnya menunggu kabar dari Dokter perihal kondisi Tiara.
"Ratih.. Kau jangan banyak pikiran, ingatlah Tiara cucu kita membutuhkan dukungan dari semua anggota keluarga, kita jiga harus memberikannya semangat agar bisa tetap bersama dengan Kita selamanya"
Ucap Lukman kepada Istrinya, Ratih tengah di infus dan di berikan vitamin.
"Aku mau melihat Cucu.. Ku, Tiara"
Ujar Ratih berusaha bangkit dati bangsal karena khawatir dengan keadaan Tiara sekarang ini.
Lukman menggeleng, Istrinya itu masih harus di rawat hingga selesai mendapatkan Infus.
"Kau istirahat dulu, Nanti aku akan membawamu ke tempat Tiara.. Cepat sembuh"
Ratih tidak bisa membantah tubuh tuanya tidak bisa membantunya terlebih sekarang dirinya belum stabil. Ratih menuruti perkataan suaminya saja.
Ratih dan lukman berdo'a setiap hari demi kesembuhan Cucu kesayangannya sudah hampir 4 hari Tiara masih belum siuman rasa takut kembali menhantuinya mengingat Tiara pernah Koma selama 2 tahun lamanya.
Farel secara tidak sadar selalu memikirkan Tiara, entah kemana wanita itu, sudah beberapa hari belakangan Tiara tidak lagi muncul di hadapannya, mau itu secara kebetulan atau Tiara sengaja berpapasan dan mengikutinya.
Ia mengusap wajahnya sendiri lisan dan hatinya berlawanan, Jujur Farel sangat merindukan wanita itu, ia juga menyesal karena telah menghina Tiara cacat dan bodoh.. Hatinya terasa kosong walau Bella selalu berada di sampingnya.
Dengan cepat Farel menepis perasaan konyolnya untuk Tiara, ia berpikir pasti wanita itu hanya bermain-main saja dengannya.
"Farel.. Berhentilah memikirkan wanita lain, kau sudah punya bella dan sebentar lagi kalian akan menikah"
Ujar Farel memperingati dirinya sendiri.
Namun sayang wajah berseri Tiara saat bertemu dengannya tidak bisa ia singkirkan begitu mudah, Haruskan Farel mencari Tiara dan meminta maaf atas perlakuannya setiap ia berjumpa dengan wanita itu..
"Ini pasti cuma karena aku merasa bersalah saja.. ?"
Farel kembali bergumam meyakinkan diri sendiri dalam hatinya, ia sendiri mulai bingung dengan perasaan anehnya.
Farel menatap kosong meja kerjanya rasanya ia begitu malas untuk bekerja, Bayangan Tiara berputar-putar lantas ia memejamkan mata..
"Dimana kau sebenarnya Tiara, Kenapa kau tidak pergi tanpa menyatakan salam perpisahan kepadaku"
__ADS_1
Farel berkata dalam hati, lalu sedetik kemudian Farel menepis pikiran itu lagi.
"syukurlah Wanita itu tidak pernah lagi mengganggu ku, aku bisa lebih leluasa untuk melaksanakan proyek yang di berikan papa"
Ujar Farel sudah seperti orang gila terkadang ia merasa merindukan Tiara namun setelah itu Ia akan menggeleng.
Farel yang Terus berfikir tidak menyadari kedatangan Bella yang sudah masuk kedalaman memperhatikan gerak geriknya dari tadi.
"Farel.. Kau kenapa?"
Tanya Bella pada akhirnya karena lelah melihat Farel bergumam tidak jelas.
"Bella, maaf aku tidak sadar bahwa kau datang"
"Kenapa wajah mu cemberut, apa kau tidak bahagia.. Pernikahan kita akan dilaksanakan beberapa hari lagi Farel.. Kau kenapa sebenarnya..?"
Farel menghela nafas pelan ia sendiri tidak tau dengan dirinya sekarang..
"Aku bahagia.. Tapi papaku tidak pernah menanggapi keinginan ku, maaf sepertinya pernikahan kita akan di undur beberapa hari lagi.. Jika papaku sudah berpikiran jernih aku akan kembali menyampaikan keinginan kita"
Ucap Farel beralasan saja.. Namun tidak berbohong tentang ketidak pedulian dari ayahnya itu.
"Humm... Sepertinya Papamu tidak akan pernah merestui hubungan kita.."
Umpat Bella tanpa sengaja.
"Bukan begitu Bella.."
"Sudahlah, aku akan menyampaikan kepada papaku dulu tentang pengunduran hari pernikahan"
Ujar Bella cuek lalu berdiri hendak keluar dari ruangan Farel.
Sendangkan pria itu hanya menatap punggung Tunangannya tanpa mau mencegahnya pergi, Farel membutuhkan waktu untuk sendiri saat ini, Ia sangat ingin menyampaikan permintaan maafnya kepada Tiara, sebelum ia menikah dengan Bella.
"Aku harus menghubungi papa.. Ia pasti tau di mana rumahnya.."
Farel mengambil ponsel nya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Tbc...!!!