
"Ingin Berjuang Lagi"
Pagi itu Farel datang menemui ayahnya untuk menyampaikan keinginan dari pihak keluarga besar Bella untuk mempercepat pernikahan mereka berdua. Fendo tidak sekalipun menghiraukan perkataannya, Ayahnya itu hanya menatapnya sinis.
"Bukannya Papa sudah katakan.. Lakukan yang kau suka dan yang kau inginkan, urus sendiri Pernikahan mu dengan kekasihmu itu. Papa tidak peduli"
Fendo mengatakan kepada Farel dengan nada menohok.
"Papa ini kemauan dari Papanya Bella... Aku tidak bisa menolak permintaannya tapi aku membutuhkan persetujuan dari Papa dan mama terlebih dahulu "
Ujar Farel kembali memohon.
"Terserah kau saja.. Yang penting tidak ada pekerjaan mu yang tidak selesai"
Ketus Fendo.
"Papa.. "
Lirih Farel lagi.
"apa..?! Kau. Mau apa lagi"
"Tolong berikan aku restu"
"Kau mati saja.. Sana"
Kekesalan Fendo sudah habis hingga perkataan itu keluar dari mulutnya begitu saja.
Farel menatap ayahnya tidak percaya, sungguh kah Fendo begitu tidak bisa merestui hubungannya dengan Bella.
"Kenapa Pah.. Kenapa kau tidak bisa melihat ku bahagia dengan wanita pilihanku"
Teriak Farel bertanya.
"Sayang... Kau jangan ganggu Papamu dulu pikirannya kacau, sebaiknya kau pergi dulu dari sini pulanglah kerumahmu jangan anggap ucapan Papamu itu dengan serius".
Ucap Susi membuka suaranya, karena suaminya sudah menutup mulutnya tidak mau berbicara dengan anaknya.
"Okay... mamah.. Tolong mama bujuk papa yah.."
Harap Farel sebelum pergi dari hadapan kedua orangtuanya.
Farel melangkah dengan wajah frustrasi dan sedih, Ia tidak menyangka ayahnya sendiri menyuruhnya mati saja dari pada menikah dengan Wanita pilihannya.
Tanpa sengaja matanya menagkap seorang wanita menggunakan kursi roda berada di depannya dengan senyuman manis lagi.
"Hai.. Farel kebetulan kita bertemu lagi, umm aku pikir-pikir kita pasti jodoh"
Ujar Tiara dengan tawa canda di dalamnya.
Farel terdiam menatap sinis, sebenarnya ia begitu penasaran dengan sosok Tiara dan ingin bertanya langsung tapi Karena kondisi hatinya buruk ia justru mengatakan.
"Mimpi kau Tiara.. Jangan harap, aku sudah punya tunangan dan sebentar lagi mau menikahinya, Jadi jangan pernah berpikir kau akan bisa menggantikan posisinya dalam hati ku"
__ADS_1
Ucap Farel menatap dengan tatapan hina di dalamnya.
Tiara menutup mata sungguh perkataan Suaminya itu sangat menyakitkan.
"Farel bagaimana jika aku berhasil merebut hati mu"
Kata Tiara tetap bertahan.
"Jangan Gila kau, aku tidak akan pernah tertarik dengan wanita cacat seperti mu, pergi jangan pernah kembali lagi ke hadapan ku"
"Konyol sekali keinginan mu itu.. Lebih baik kau kubur dalam-dalam saja.. Kau bukan tipe ku sama sekali"
Lanjut Farel lagi kali ini lebih menusuk jantung Tiara.
"Siapa peduli yang penting aku bisa mendapatkan mu"
Ujar Tiara keras kepala.
"Dasar wanita Gila"
Gerutu Farel melirik sinis Tiara berlalu begitu saja melewati tubuh itu tanpa mau meladeninya lagi
Tiara meremas dadanya yang terasa sakit suaminya berkata kasar dengan mengatakan dirinya adalah wanita Cacat dan Bodoh tapi Dia tidak akan pernah menyerah sampai titik darah penghabisan.
Ia hanya bisa tertunduk hampir menangis. Tapi Tiara tidak ingin terlihat di depan orang lain terlebih lagi ada seorang perawat yang mendorongnya kemana-mana.
"Ayo pulang saja.."
Lirih Tiara kepada perawat tersebut.
___
Bimo datang kerumah orang tua Tiara ia ingin melihat kondisi kesehatan sahabatnya itu. Apa Tiara baik-baik saja sekarang ini.
"Tante.. tiara dimana..?"
Tanya Bimo saat berpapasan dengan Kinan.
"Tadi dia menyelinap keluar lagi, pasti sekarang bertemu dengan suaminya."
Ucap Kinan sedih..putrinya itu selalu bisa menyelinap di setiap kesempatan yang ada.
"Humm... Anak itu selalu saja keras kepala, Tapi kenapa harus menyelinap keluar bukannya ada bisa meminta Izin dulu"
Tanya Bimo menatap heran.
"Begini, Bimo.. Tiara belakang ini sering pingsan dan tidak di sarangkan untuk pergi keluar"
"Tante yang sabar, mungkin tidak ada yang bisa menahan Tiara untuk saat ini"
Saat masih berbicara dengan Kinan.. Bimo melihat Tiara baru saja masuk dengan di dorong oleh Perawat.
"Tiara..."
__ADS_1
Panggil Bimo mendekat ke arah Tiara.
"Bimo kau datang.. Kenapa tidak kabari aku dulu, jika kutau aku pasti akan pulang lebih awal"
Ujat Tiara memoyongka bibir.
Bimo menatap seduh perjuangan cinta Tiara justru membuat wanita ini lemah bahkan bisa di katakan bahwa Tiara lumpuh.
"Tiara.. Sebaiknya kau dengarkan semua perkataan Dokter, kau jangan pergi-pergi dulu tidak baik.. Lihatlah kondisi mu saat ini"
kata Bimo dengan harapan Tiara mau mendengarkan ucapannya.
Wajah yang tadinya bahagia saat bertemu dengannya itu berubah menjadi datar.
"Berhenti menasihati ku.. Aku tidak pernah peduli dengan kondisi ku asalkan aku bisa bertemu dengan Farel dan membuatnya mengingantku.."
"Aku akan membantu mu sebagai sahabat sekaligus sebagai saudara mu Tiara.."
"Aku tidak membutuhkan siapapun.. Aku bisa melakukan semuanya sendiri"
Ucap Tiara berkata dingin.
Bimo terdiam sesaat, Tiara benar keras kepala.
"Kenapa kau tidak mengatakan Bahwa dirimu adalah istrinya.. Pasti Farel akan dengan mudah kembali kepada mu Karena sudah tanggung jawabnya sebagai seorang suami"
"Tidak.. Aku tidak bisa, Ku tidak mau Farel kembali kepadaku karena merasa kasihan saja. Akan kubuat dia kembali kepada ku karena mencintai ku"
Ujar Tiara tetap teguh dengan pendiriannya.
"Kau jangan keras Kepala.. Tiara.."
Lirih Bimo melembutkan suaranya.
"Dan caramu salah... Sebaiknya kau memberitahukan Hubungan kalian sebelum terlambat"
Lanjut Bimo tidak mengerti jalan pikiran dari sahabat keras kepalanya itu.
"Aku tidak pernah salah Bimo Aku tidak ingin jika Farel kembali kepadaku hanya karena statusku sebagai istrinya... Aku akan memberikan Dia waktu sampai ingatannya kembali"
Bimo dan kinan hanya mengeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturan dari Tiara yang benar-benar keras kepala dan tidak mau mendengarkan siapa pun.. Tiara tatap teguh dengan pendiriannya... Bahkan bertahan untuk merahasiakan Hubungannya dengan Farel.
.
.
.
.
.
Tbc..!!!
__ADS_1
.