My Life With You(Hidupku Bersamamu)

My Life With You(Hidupku Bersamamu)
"Toni"


__ADS_3

"Toni"


Farel sampai di rumah orang tuanya ia begitu terburu ingin tau alamat Rumah Tiara dari Ayahnya, entah perasaan apa yang sedang di rasakan olehnya. Farel menyusuri setiap sudut rumah namun tidak melihat tanda-tanda Ayah maupun Ibunya.


Dengan cepat pria itu menrongok saku celana mengambil ponsel untuk menghubungi Fendo ayahnya. Beberapa kali Farel menelepon namun sepertinya Ayahnya tidak mengangkatnya.


Saat teleponnya di terima.. Farel langsung berbicara .


"Halo.. Papa & mama dimana?, Kenapa tidak ada di rumah.? "


Tanya Farel dengan cepat sebelum Ayahnya memutuskan telepon darinya.


"Ada urusan apa kau mencari kami.?"


Jawab Fendo ketus. Ia heran baru kali ini mendapatkan telepon dari Anaknya sendiri setelah sekian lama.


Farel menelan ludahnya sendiri pasti Ayahnya sendiri tidak menduga bahwa dirinya akan meneleponnya.


"Papa.. Apa papa tau..?"


Ujar Farel ragu-ragu.


"Tau Apa Farel.. Kau kenapa lagi, aku sibuk jika tidak ada hal penting jangan pernah menghubungi ku lagi"


"Terlebih jika masalah pernikahan mu dengan wanita pujaanmu, Papa tidak akan pernah mau peduli atau mendengarnya"


Lanjut Fendo karena Farel belum merespon ucapannya.


"Bukan.. Itu, Papa.. Aku ingin meminta Alamat wanita yang pernah Papa bawa saat hari pertunangan ku waktu itu"


Ucap Farel pada akhirnya.


Fendo sejenak terdiam lalu berkata..


"Kenapa kau mencari alamat Tiara.?"


Tanyanya nada suaranya sedikit menyindir Farel.


"Papa. Katakan saja, aku ingin berbicara dan meminta maaf karena telah menghinanya saat kami berjumpa beberapa hari yang lalu"


"Aku tidak tau.. Farel dengarkan perkataan ku.. Kau tidak perlu mencari dan minta maaf kepada Tiara, mungkin ia sengaja bersembunyi.. Dia itu tidak pernah mendapatkan hinaan dari siapa pun dan Justru kaulah yang menghinanya pertama kali selama hidupnya.."


"Iya.. Justru itulah aku ingin meminta maaf, Tolong berikan Alamat nya papah.."


Ucap Farel memohon.


"Sudah Papa katakan.. Tidak tau.."


"kau urusan saja pernikahan mu dengan wanita Idaman mu itu.."


Fendo memutuskan sambungan Telepon dalam sekejap.


Farel henya memandang ponsel menahan emosi, Ayahnya itu sudah sangat membencinya, Dan ia sama sekali tidak berhasil mendapatkan Alamat Tiara..

__ADS_1


"HUH... sia-sia saja menghubungi Papa"


gerutu Farel menghela napas.


Setelah berbicara dengan Ayahnya, Farel berjalan ke arah Mobil hitam miliknya karena percuma saja ia tinggal di rumah orang tuanya saat tidak ada siapa pun di dalam sana. Hatinya terasa agak kecewa, ia begitu ingin bertatap muka dengan Tiara lagi.


***


Fendo yang baru saja berbicara dengan Farel memutuskan sambung telepon itu secara sepihak karena melihat Toni sedang berjalan menuju ke arahnya dengan wajah seduh.


"Toni.."


Ucap Fendo saat ia dan Toni sudah duduk di kursi panjang depan ruangan Tiara di rawat.


Sesaat Toni menahan napas lalu menyadarkan tubuhnya kebelakang.


"paman.. Aku sangat berterima kasih karena telah menjaga Tiara selama dua tahun ini seperti anak sendiri, sekali lagi aku dan keluarga besar ku sangat berterima kasih Paman"


Ucap Toni tersenyum tulus kepada Mertua adiknya, ia justru bersyukur Fendo bisa menyembunyikan Tentang Tiara kepada Farel selama dua tahun ini.


"Tiara aku sudah anggap sebagai putri ku sendiri, dia selamanya akan menjadi anakku.."


Kata Fendo menepuk bahu Toni yang jelas rapuh ,ia sendiri tidak pernah menyangka bahwa Toni si pria tidak berperasaan itu justru terlihat lemah karena kondisi adiknya.


"Paman.."


Lirih Toni menatap Fendo, Toni ragu apakah harus ia katakan perihal pengurusan perceraian antara Tiara dan Farel saat ini yang sedang berjalan.


"Paman, Aku sudah mendaftar perceraian Tiara dan Farel dan saat ini sedang berjalan"


"Apa..!!, Kenapa Toni, tidak kah kau memikirkan hati Tiara kelak akan hancur"


Kaget Fendo tidak menyangkanya.


Toni mengangguk benar kata Fendo perceraian itu akan menyakiti adiknya sendiri, Toni juga memikirkan bahwa Tiara akan lebih sakit saat suaminya memiliki istri lain selain dirinya.


"Aku sudah mempertimbangkannya., paman.. aku tidak mau jika Tiara di madu oleh suaminya, ini adalah jalan terbaik antara keduanya"


Putus Toni berdiri berlalu meninggalkan Fendo.


"Toni.. Itu semua karena Farel tidak tau. Kita tunggu saja pasti Farel akan bisa mengingat Tiara"


"Sudahlah paman.. Semua akan pecuma saja, Tiara akan aku bawa ke Amsterdam tepat saat hari pernikahan Farel dengan kekasihnya.."


Fendo termenung di kursi.. Ia tidak bisa kehilangan menantu sebaik Tiara yang bahkan rela berkorban demi putranya, namun di satu sisi ia juga kecewa kepada Farel yang terus mendesak memajukan hari pernikahannya dengan Bella. Harapannya Suatu saat nanti Farel dan Tiara kembali bersama tanpa ada hambatan.


___


Di dalam ruangan..


Bimo menemui sahabat yang sudah ia anggap sebagai Saudara "Tiara", bimo memeriksa perkembangan kesehatan Tiara, Hati kecilnya meringis sungguh kasihan.. Jika saja Tiara tidak keras kepala dan mau mendengarkan peringatan Dokter pasti kondisi Tubuh Tiara tidak akan sebegitu parah.


Bimo menggenggam jari tangan Tiara berharap wanita itu bisa merespon.

__ADS_1


"Tiara bangunlah, Kau harus mencegah pernikahan Suamimu dengan wanita lain.. Bangunlah aku akan membantu"


Lirih Bimo menangis.


"Tiara kau wanita yang kuat, Jangan menyerah untuk Hidup.. Di sini banyak sekali yang menunggu mu dan akan mencintai mu"


Lanjut Bimo lagi air matanya bahkan sudah menetes deras.


Saat Bimo menangis Ia merasakan Satu jari tangan Tiara bergerak hal itu tidak Luput dari Bimo.


"Tiara.!!"


Lirih Bimo melihat mata Tiara perlahan terbuka.


Bimo memencet Tombol di dinding


Lalu memegang tangan Tiara, perasaan sedih itu hilang begitu saja Ketika melihat Tiara sudah membuka mata.


___


Kinan dan Andy juga sudah ada di dalam ruangan Tempat Tiara berbaring, mereka menatap wajah Tiara dengan persaan sedikit lega setidaknya Putri mereka masih membuka mata melihat Dunia yang begitu luas.


Kinan mendekat lalu mengusap punggung tangan Tiara dengan sayang.


"Tiara. Ayo kita ke Amsterdam.. Mama harap kau mau pergi"


Ujar Kinan berharap.


Tiara menggeleng tidak mau, dia harus berjuang lagi hingga Farel bisa mengingat dirinya kembali, keras kepala!, Tiara memang memiliki sifat itu dan begitu melekat.


"Tiara. Sayang kami mohon, kau mau yah.. Setelah kau sembuh papa janji akan membawamu pulang ke sini lagi"


Pinta Andy membujuk Putri nya agar mau melakukan pengobatan.


"Aku tidak mau.. Tadi sudah kukatakan, Pah... Mah.. Sebentar lagi pernikahan Farel dan aku akan mencegah hal itu agar tidak terjadi"


Ujar membantah Tiara walau kesusahan berbicara banyak karena terkadang napasnya selalu sesak.


"Kalian.. Berhentilah meminta ku, aku tidak peduli"


Lanjut Tiara lagi.


Andy sudah kehabisan kata mendengar Tiara sangat tidak mau mendengarkan siapapun bahkan dirinya sendiri, Meskipun Andy keras kepala tapi dirinya tidak seperti Anaknya yang satu ini Tiara lebih Keras kepala dari kecil jika ada yang di inginkannya harus terpenuhi.


.


.


.


.


Tbc...!!!

__ADS_1


__ADS_2